Saya terinspirasi membuat coretan ini dari guyonan  salah seorang mahasiswa doktor yang mengambil mata kuliah Falsafah Sains Pascasarjana IPB dimana saya mengajar. Kisahnya begini (sudah dimodifikasi).

        Suatu ketika seorang guru kelas tiga Sekolah Menengah Pertama dalam mata ajaran Pengetahuan Umum sedang menjelaskan kekayaan alam Indonesia. Dengan yakinnya dia menjelaskan bahwa saking melimpahnya kekayaan bumi dan alam di Indonesia maka kita akan kaya sampai tujuh turunan. Dan tak perlu khawatir bakal melarat. Layaknya ucapan guru tadi sudah sebagai mitos. 

Tiba-tiba saja ada seorang murid yang dikenal cerdas bertanya: “tetapi mengapa kemiskinan di Indonesia makin banyak dan  sekarang sudah mencapai sekitar 60 juta jiwa, pak?”.”Sementara itu lahan-lahan pertanian, pertambangan, dan pantai  semakin rusak saja”, kata sang murid tadi. Sang guru agak kaget tak menyangka ada pertanyaan kritis seperti itu. Sejenak dia merenung. Tiba-tiba saja sang guru  menemukan akal. Dengan tenangnya dia menjawab ya karena kita sekarang sudah menjadi turunan ke delapan”.

       Belum sempat para murid bertanya lagi, tiba-tiba bel  pertanda waktu istirahat berbunyi. Ketika keluar kelas, sebagian besar  murid masih bertanya-tanya dalam hati makna dari jawaban pak guru itu.