Suatu ketika di sore hari terjadilah obrolan serius antara dua orang sahabat. Yang satu sebut saja si Polan yang senang memberikan pernyataan berlebihan. Dan cenderung ekstrovet. Sementara sahabatnya si Molan bersifat introvet, tertutup dan cenderung rendah diri. Maklum jarang bergaul; apalagi dengan cewe. Inti obrolan, si Molan merasa bakal degdeg-an kalau nanti berhadapan di depan bapak pacarnya. Rasanya kecil dan tidak berdaya serta sangat gugup untuk bicara kalau nanti menatap wajah ‘calon’ mertuanya. Meskipun  bapak itu, konon kabarnya  orangnya ramah. Lalu dia minta tolong kepada si Polan bagaimana caranya agar dia bisa tenang.

          Molan lalu meminta agar Polan dapat menemaninya untuk apel malam minggu ke rumah pacarnya.  Nama pacarnya, sebut saja si Melati. Lalu dibuatlah strategi dan taktik untuk memperoleh simpati sang calon mertua. Caranya, si Molan kalau ditanya bapak sang pacar tentang diri dan keluarganya harus menjawab dengan kerendahan hati. Katakanlah dengan jawaban merendah. Sementara si Polan akan menimpali dengan tambahan jawaban yang meninggi. Biar gengsi katanya. Si Molan meng-iyakan saja. Yang penting bisa ngobrol dengan orangtuanya Melati.

          Malam minggu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Keduanya bersiap-siap pergi ke rumah Melati. Ketika sampai di rumah Melati, mereka disambut Melati, pacar Molan. Tentunya dengan senyum ceria semanis madu. Kemudian obrolan ngalor-ngidul terjadi di ruang tamu. Selang beberapa waktu, sang bapak Melati, calon mertua (CM) si Molan datang ikut nimbrung. Dia ingin bertanya tentang Molan dan keluarganya. Inilah dialognya.

Molan

 CM

:

 :

Selamat malam pak, apa kabar?

Baik-baik saja. Sudah lama kenal Melati?

Molan Baru enam bulan pak.
Polan : Bohoong pak, udah lebih setahun …si Polan mulai beraksi.
CM : Dimana tinggalnya?
Molan : Ah, oh, eh saya tinggal di gang kesepuhan di sekitar tempat pembuangan sampah dekat kali Cisadane.
Polan : Bohoong pak, si Molan tinggal dekat jalan raya veteran (Jalan utama di suatu tempat).
CM : Ooooh, lalu dimana bapakmu bekerja?
Molan : Cuma sebagai pedagang kecil di rumah pak
Polan : Bohoong pak, bapaknya sebagai pedagang besaar sayuran di Pasar Rebo,…kata si Polan makin menjadi-jadi.
CM : Oooooh, nak Molan sendiri bekerja dimana?
Molan : Saya sih hanya karyawan rendahan di perusahaan pembuatan tempe
Polan : Bohoong pak, dia bekerja sebagai manajer biro jasa konsultan
CM : Oooh, hebat ya…

        Ketika sedang seru-serunya keluar pernyataan yang merendah dari si Molan lalu ditimpali pernyataan meninggi dari si Polan dan disambut decak kekaguman dari CM, tiba-tiba saja si Molan batuk keras beberapa kali (maksudnya mengingatkan Polan supaya jangan terlalu berlebihan meninggi-ninggikan dirinya). Tentu saja sang CM bersimpati. Lalu …..

CM : Kenapa nak Molan?
Molan : Ah cuma batuk ringan dan sebentar lagi juga baik…pak (sambil masih berbatuk ria)

 Tiba-tiba si Polan dengan seriusnya menambahkan dengan suara khasnya yang meninggi dan menggelegar: Bohooong pak… dia sebenarnya batuk karena TBC…udah lama ……  

Apa yang terjadi kemudian dapat ditebak sendiri. Berantakanlah semua strategi dan taktik yang sudah dirancang. Bukannya simpati tapi tanda tanya besar yang muncul dari sang CM. Dengan kata lain maksud hati si Polan ingin membantu si Molan dengan cara  yang meninggikan statusnya malah justeru berbalik mencelakakan. Kenyataannya adalah justru menempatkan posisi Molan sangat tidak proporsional. Artinya si Polan tidak memahami arti ucapan yang meninggi atau melebih-lebihkan secara kontekstual, khususnya pernyataan yang terakhir. Sisi  yang negatif justru dilebih-lebihkan, sama halnya dengan sisi yang positif.

       Memang sifat berlebihan dalam hal apa pun tidak sehat. Bahkan sering kontra produktif. Fenomena ini lah yang sering dijumpai di sekeliling kita. Dalam situasi dimana banyak masyarakat yang berkekurangan, di dekat situ pula ada sekelompok masyarakat yang hidup berlebihan. Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (al-Fajr; 20). Dan orang-orang yang apabila membelanjakan , mereka tidak berlebihan, dan tidak  kikir, dan adalah  di tengah-tengah antara yang demikian (al-Furqaan: 67). Begitu pula banyak pimpinan berlebihan dengan janji, ketika itu pula banyak yang berharap.  Namun hanya berhenti sampai janji…janji..dan janji saja. Kenyataannya tidak seluruhnya terujud. Jadi, ya wajar-wajar saja kalau sebagian masyarakat kecewa.  Sumber Tb.Sjafri Mangkuprawira,2007,Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,Jilid dua,IPB Press.

Iklan