Suatu ketika seorang profesional muda dari salahsatu perusahaan Indonesia bertemu dengan seorang profesional muda dari India di sebuah restoran. Keduanya diharapkan akan asyik berdiskusi tentang bisnis masing-masing. Maklum sama-sama anak muda apalagi sambil santai  santap makan siang. Tentunya komunikasi dengan menggunakan bahasa Inggeris. Keduanya akan berdiskusi tentang bagaimana membangun jejaring kerjasama bisnis. Ketika saling berkenalan komunikasi  masih berjalan lancar. Tetapi kemudian ternyata diskusi tidak berlangsung mulus. Profesional muda dari Indonesia ini merasa “bising” psikologis ketika setiap pendapatnya ditanggapi dengan bahasa tubuh dari profesional India yang dianggapnya aneh. Setiap ada pendapat dari profesional muda Indonesia itu selalu ditanggapi dengan goyang kepala kiri-kanan oleh profesional dari India. “Wah, kok pendapat saya selalu disanggahnya”, demikian pikiran dari profesional muda Indonesia.

         Tentu saja terjadi distorsi informasi. Askali, yang pernah bertugas di India selama dua tahun,  sebagai sahabat profesional muda Indonesia itu lalu ikut nimbrung dengan mereka berdua. Kemudian teman  yang sedang bingung itu meminta bantuan  Askali untuk  menjelaskan  apa sebenarnya yang terjadi dalam diskusi tersebut. Kemudian Askali juga diminta untuk memberi saran sebaiknya apa yang perlu dilakukan profesional muda Indonesia itu agar tidak timbul distorsi informasi yang berkelanjutan.  

Iklan