Definisi korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere=busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. (Wikipedia Indonesia). Dalam pandangan Islam, Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang kami angkat di antara kamu memangku suatu jabatan, lalu disembunyikannya terhadap kami sebuah jarum atau yang lebih kecil dari itu, maka perbuatannya adalah penggelapan. Dia akan datang pada hari kiamat kelak membawa barang yang digelapkannya itu (HR. Muslim).

        Di   beberapa kota di tanah air akhir tahun lalu pernah marak dengan penyebaran stiker anti korupsi. Ini terkait dengan hari anti korupsi sedunia. Fenomena ini sangat penting untuk mengingatkan bahwa yang terjadi di Indonesia adalah korupsi tiap hari. Tegasnya hari berkorupsi jauh lebih sering dibanding hari antikorupsi. Lebih tegas lagi tiada hari tanpa korupsi. Kalau dibuat dalam persamaan umum, fenomena korupsi dapat  digambarkan sebagai berikut:

K = f( PI, P, H); ceteris paribus

K=Korupsi; PI=Perilaku individu; P=Peluang; H=Hukum.

       Korupsi setidak-tidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu perilaku individu, peluang, dan  hukum. Perilaku individu meliputi lemahnya iman, sifat rakus harta dan tahta, dan egoistis serta dholim. Atau dengan kata lain lemahnya rasa takut, tidak takut dosa dan tidak malu  berbuat ingkar dan mungkar. Faktor peluang berupa penerapan sistem pengendalian, termasuk pada penanggungjawab suatu program,  yang sangat longgar, permisif, dan toleransi terhadap penyimpangan. Selain itu, dapat berupa lemahnya transparansi dan akuntabilitas suatu kebijakan rezim pemerintahan. Dari sisi hukum,  meliputi lemahnya kesadaran dan ketertiban hukum,  dan ketidaktegasan penindakan serta keputusan hukum. Justru korupsi dapat timbul menjamur bersumber dari penyimpangan sisi hukum berupa pemerasan dan penyuapan. Bukan hal yang rahasia lagi jika petugas hukum malah dapat menjadi pemain penting timbulnya korupsi.   

       Dari semua faktor di atas, saya percaya faktor penyebab yang sangat utama mewabahnya korupsi adalah perilaku manusianya. Sementara dua faktor utama lainnya hanyalah sebagai unsur pendorong. Perilaku individu sangat terkait dengan proses dan output pendidikan. Sistem pendidikan informal  dalam keluarga dan masyarakat, dan pendidikan formal dalam ruang kelas selama ini sangat kurang menciptakan individu manusia yang memiliki kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial yang tinggi seperti jiwa beriman dan takut pada adzab Tuhan yang pedih, bersih, jujur, berinisiatif, kerja keras dan cerdas, kebersamaan, dan tanggungjawab.

       Selama ini institusi pendidikan begitu mendambakan dan asyik berwacana dalam membentuk lulusan yang cerdas intelektual. Padahal tidak sedikit korupsi dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi. Selain itu,  peran pemimpin masyarakat  cenderung tidak signifikan dalam memberikan keteladanan berperilaku yang baik. Bahkan sering sebaliknya, yakni membangun konsumerisme. Jadi  Hari Anti Korupsi hanya berhenti pada tindakan seremonial, kalau tidak disertai proses penindakannya. Dan itu tidak akan mampu membentuk masyarakat yang bersih korupsi kalau cuma dilakukan sehari. Apalagi tanpa ada tindak lanjutnya.

       Untuk itu perlu tiap hari dilakukan sosialisasi, internalisasi, dan tindakan memerangi korupsi dengan nyata. Utamanya  agar muncul sifat anti korupsi dan perilaku hemat dan sederhana  sebagai suatu gerakan. Tanpa ragu sedikitpun. Insya Allah.  Mengingatkan hal itu, Nabi suatu kali bersabda: Demi Allah! Bukanlah kefakiran atau kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi justru aku khawatir kemewahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula (HR Bukhari).Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira,2007,Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,Jilid dua,IPB Press. 

Iklan