Mungkin manajer, karyawan, atau bahkan Anda tidak jarang mendengar ungkapan-ungkapan populer keseharian khususnya dari bos seperti; “belajarlah dari pengalaman”, “bodoh anda makanya belajar yang benar dong”, “sudah banyak belajar mengapa tingkah laku anda masih belum dewasa juga?”, “bagaimana sih anda ini…tidak mampu mempraktekannya.. cuma belajar teori melulu sih”, ‘pantas perusahaan kita tidak maju-maju”….“buat apa belajar lagi..otak udah mentok nih”. Pertanyaan dan pernyataan itu menggambarkan, makna belajar dapat diungkap dalam sudut pandang berbeda. Lalu apa yang disebut dengan belajar? Belajar adalah kegiatan pribadi seseorang dalam menggunakan potensi pikiran dan nuraninya baik terstruktur maupun tidak terstruktur, formal maupun informal, untuk memperoleh pengetahuan, membangun sikap dan memiliki ketrampilan tertentu. Untuk mencapai hal demikian digunakan beragam asumsi.           

Asumsi kegiatan belajar meliputi;

1.    semua orang pada semua golongan usia memiliki potensi untuk belajar, namun dalam prosesnya, keberhasilan antarindividu akan beragam; ada yang cepat dan ada yang lambat bergantung pada motivasi dan cara yang digunakannya,

2.    tiap individu mengalami proses perubahan dimana situasi belajar yang baru  sangat mungkin menimbulkan stres dan kebingungan atau tetapi di pihak lain bahkan ada yang menyenangkan,

3.    di ruang kelas, instruktur memfasilitasi proses belajar dengan menggabungkan pengalaman peserta belajar, pengamatan lainnya, dan gagasan dan perasaan pibadi,

4.    kedalaman proses belajar jangka panjang  bergantung seberapa jauh peserta belajar berupaya menganalisis, mengklarifikasi atau mengartikulasi pengalaman mereka kepada pihak lain seperti keluarga, kelompok kerja dan sosial,

5.    program pendidikan dan pelatihan boleh jadi hanya menyediakan satu langkah  kemajuan individual tertentu dalam memperoleh perilaku baru, sementara yang lain mungkin lebih dari satu langkah,

6.    kegiatan belajar akan berakibat perbaikan individual ketika peserta belajar sebagai peserta aktif dalam proses pendidikan dan pelatihan,

7.    kegiatan belajar tidak selalu dicerminkan dalam ruang kelas saja tetapi juga berbentuk sosialisasi atau interaksi sosial horisontal (antarkaryawan) dan vertikal (manajemen dan subordinasi).

 Lalu apa tugas seorang manajer?

            Tidak dapat dipungkiri dunia bisnis dalam era global ini dihadapkan pada proses perubahan yang begitu cepat dan rumit. Untuk itu kebutuhan akan perubahan yang dinamis dalam berbagai hal seperti visi, misi, tujuan dan sistem berpikir menjadi hal  pokok yang harus dimiliki perusahaan. Dalam konteks organisasi belajar, setiap individu organisasi bisnis harus memiliki komitmen dan kapasitas untuk belajar pada setiap tingkat apapun dalam perusahaannya. Dengan kata lain setiap pekerjaan harus mengandung unsur pembelajaran yang semakin aktif.

Sebagai manajer, dia bersama karyawan seharusnya terdorong untuk selalu melakukan kajian dengan menghasilkan gagasan-gagasan baru dan mengkontribusikannya pada perusahaan. Sikap manajer yang mungkin selama ini begitu toleran terhadap setiap kesalahan karyawan manajer patut diubah. Manajer harus mengambil posisi untuk mencegah terjadinya resiko besar dari suatu kesalahan kerja. Memang suatu ke berhasilan biasanya didasarkan pada kegagalan yang pernah dialaminya. Namun manajer harus mengevaluasi setiap kegagalan dan melakukan evaluasi diri. Fungsi manajer adalah lebih sebagai peneliti dan sekaligus perancang ketimbang hanya sebagai penyelia. Dalam hal ini manajer harus mendorong para karyawan untuk menciptakan gagasan baru, sekecil apapun, dan mengkomunikasikan gagasan-gagasan tersebut ke karyawan lain. Selain itu hendaknya manajer mendorong karyawan untuk mengerti keseluruhan pekerjaan dan permasalahannya, membangun visi kolektif dan bekerja bersama mencapai tujuan perusahaan.

            Perusahaan yang inovatif cenderung selalu mencari upaya dalam memperbaiki produk dan jasa yang ada (perbaikan berlanjut), dan melakukan inovasi (strategi terobosan). Sebut saja dalam bentuk Manajemen Mutu Terpadu dan Perekayasaan Kembali Proses Bisnis. Tujuannya adalah agar kinerja bisnis/profit maksimum dapat tercapai. Di dunia bisnis hal itu dianalogikan dengan upaya perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif yang bersinambung.

Perusahaan menyadari bahwa keberhasilan perkembangan perusahaan  sangat bergantung pada faktor-faktor mutu manusia seperti ketrampilan, sikap dan budaya keorganisasian. Manusia adalah pemeran aktif sementara faktor produksi lainnya bersifat pasif. Minat kini dari perusahaan dalam organisasi belajar untuk mengatasi berbagai kesulitan bisnis sering masih belum berjalan semestinya. Apakah organisasi belajar itu? Apa ciri-cirinya?

             Dari uraian di atas maka dapat didefinisikan arti organisasi pembelajaran yaitu bentuk suatu organisasi yang mengandung sistem, mekanisme dan proses yang digunakan secara bersinambung untuk memperkuat kapabilitas organisasi dan mereka yang bekerja dengan dan untuk organisasi dalam mencapai tujuan yang bersinambung untuk organisasi dan masyarakat dimana mereka bekerja.

Berkaitan dengan itu maka perusahaan sebagai organisasi belajar harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

v     Perusahaan harus mengembangkan kapasitas inovasi dengan langkah tepat dan cepat, namun hendaknya luwes dalam mengatasi situasi perubahan  dinamis,

v     Ketika lingkungan  kompetitif semakin kompleks dan beraneka ragam, kebutuhan kemampuan dalam segi-segi budaya-manajerial dan kegiatan manajerial semakin dirasakan,

v     Perusahaan harus mampu mengorganisasi manusia sebagai pelaku produksi dan memenuhi kebutuhannya dalam suatu organisasi belajar. Gunanya adalah untuk mengembangkan kepercayaan diri, senang pada tantangan, pembelajaran sepanjang hidup, dan penghargaan.

v     Memberi otoritas kepada staf lini terdepan untuk berinisiatif berdasarkan kebutuhan pelanggan dimana selama ini sering dibatasi oleh proses bisnis yang dibangun untuk situasi lingkungan berbeda. 

Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala Hubeis,2007,Manajemen Mutu SDM,PT Ghalia Indonesia.

Iklan