Sebagai dosen mata kuliah Etika Bisnis program studi magister manajemen, suatu ketika di dalam kelas saya melontarkan pernyataan ”bisnis itu tidak dapat disamakan sebagai perbuatan judi”. Seperti biasa, sebelum kuliah saya selalu melontarkan kasus untuk dibahas mahasiswa selama lebih kurang 45 menit. Hampir  serentak sebagian besar setuju. Dengan berbagai alasan mereka sependapat dengan pernyataan itu. Alasannya macam-macam mulai dari sisi moral sampai aspek legal.     

       Tetapi tiba-tiba seorang mahasiswa berpendapat beda. Saya tahu mahasiswa yang satu ini orangnya kritis dan cerdas. Dia berpendapat dalam pertarungan bisnis pasti ada yang beruntung/menang dan ada yang merugi/kalah. Disitu ada pula unsur spekulatif. Pebisnis yang meraih keuntungan dinyatakan sebagai orang yang beruntung dan mampu bersaing. Analoginya penjudi yang menang jelas saja meminggirkan penjudi yang menjadi pecundang. Keduanya harus sama-sama ”ikhlas” dengan segala resiko bermain bisnis sekaligus bermain judi, ujarnya. Saya manggut-manggut mencoba merenung untuk memahami argumen mahasiswa tersebut.

Memang dalam praktek, prinsip ekonomi bisnis yaitu meraih keuntungan maksimum  sering bersinggungan dengan segi etika. Tidak satu pun pelaku bisnis ingin merugi. Apalagi karena berbinis mengandung risiko dan ketidakpastian yang tinggi maka usahawan cenderung semakin lupa diri. Dengan segala cara mereka berupaya meraih keuntungan besar walau hanya sesaat, misalnya, menurunkan kualitas produk, penguasaan usaha vertikal (hulu-hilir), iklan dengan janji berlebihan dan menyesatkan, bersengkongkol dengan penguasa dan politikus, penekanan atau eksploitasi kaum buruh, dan penggelapan laporan dan pembayaran pajak. Konon usahawan sejenis itu pantas dikategorikan sebagai moster yang sangat kejam.

Uuups nanti dulu. Tidak semua pebisnis itu sebagai monster kejam. Simak saja pendapat  Michael, S., (dalam Fredy S. Nggao, 1998) yang menyebutkan, perhatian kalangan bisnis terhadap praktik bisnis berEtika-Moral semakin bermunculan karena adanya (1) tekanan dari kalangan konsumen, (2) persaingan yaitu being ethical is a clever marketing strategy, (3) pengubahan nilai sosial yang lebih mengutamakan manusia daripada laba, dan (4) kasus yang menyebabkan ambruknya reputasi perusahaan atau individu akibat tindakan yang tidak etis.

Sekitar tahun 1970an dan awal 1980an berkembang berbagai diskusi dan seminar tentang permasalahan etika dalam berbisnis di banyak negara Eropa dan Amerika Serikat. Perkembangan berikutnya diujudkan dengan pembentukan berbagai lembaga kajian dan penerbitan jurnal bidang etika bisnis. Bahkan kajian etika bisnis secara lebih mantap telah menjadi matakuliah pada sekolah manajemen dan bisnis. Di Amerika Serikat, sebelum tahun 1970an, telah berdiri 30 pusat pembinaan dan pengkajian etika bisnis. Kemudian kajian tentang etika bisnis semakin berkembang dengan lahirnya rumusan yang lebih operasional. Salah satunya adalah Pinciples for Business (1994) yang merupakan kode etik bisnis hasil dari The Caux Round Table yang beranggotakan pemimpin bisnis dari  Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

       Sementara di Indonesia sendiri masalah etika walau tertinggal sudah mulai gencar dibahas sekitar 1980an. Bahkan di berbagai perguruan tinggi dengan jalur strata pendidikan manajemen, etika bisnis sudah masuk sebagai salah satu mata kuliah. Semoga dunia bisnis Indonsesia semakin cerdas dan beretika. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2006, Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,Jilid Pertama,IPB Press.

Iklan