Bagi mereka yang senang melihat adegan lawak yang diperankan oleh Bolot pasti mengetahui tentang karakter komedian itu. Dia berperan sebagai orang tuli dan terkadang sok tahu. Kalau teman ngobrolnya ngomong tentang A, ditangkap oleh Bolot tentang D. Terus si teman itu bingung lalu mengulang ucapan semula. Berulangkali Bolot merespon ngalor-ngidul tapi tetap saja bukan tentang A. Setelah  dibuat pusing akhirnya si Bolot pun dengan rasa percaya diri akan bilang tentang A. Bahkan dia mengatakan justru lawan bicaranya yang tuli dan tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Ha ha ha ha ….(gerr penonton)         

       Bolot bukan disebut pelawak kalau tidak mampu menghibur penonton atau pendengar. Nah ada satu lagi  yang membuat siapapun tertawa gerrrrr. Yaitu ketika teman bicaranya ngomong tentang duit dan wanita. Anehnya si Bolot tiba-tiba sangat peka dan penuh semangat. Pasalnya ketuliannya hilang total manakala bicara tentang dua hal tadi. Dasar mata duitan dan mata cewean. Ha ha ha ha…..(gerr penonton)

          Lalu apa dan mengapa fenomena di atas dianalogikan dengan perilaku wakil rakyat? Ya hampir sama saja. Konon di suatu negara Antah Berantah ketika para wakil rakyat bicara, misalnya protes rakyat tentang harga BBM dan kemiskinan, sepertinya sebagian besar mereka tuli. Kurang peka memperjuangkan aspirasi rakyat. Namun kalau sudah didesak lewat demo besar-besaran dan kritik dari berbagai komponen termasuk pers,  baru mereka ngangguk-ngangguk mengerti.

Sama dengan Bolot, kalau sidang parlemen sedang membahas duit dan wanita (simbol posisi strategis:maaf), para anggota begitu bersemangatnya. Artinya kalau tema sidang sangat terkait pada kepentingan individu dan kelompoknya, seperti tambahan tunjangan anggota parlemen dan pemilihan pimpinan parlemen dan komisi, semangat mereka menggebu-gebu. Ketika itu ketuliannya tiba-tiba hilang total. Itu sebagai persamaannya dengan Bolot, bisa tuli dan bisa tidak tuli. Lalu apa perbedaannya?. Bedanya adalah kalau setiap melihat tingkah Bolot,  laris timbul tawa geRRR.  Tetapi kalau melihat ulah wakil rakyat, nyaris muncul kecaman geRRRam.

           Saya percaya tidak semua wakil rakyat tuli seperti  Bolot. Ada yang masih punya idealisme, naluri dan kepekaan yang besar. Namun sayangnya yang begitu cuma segelintir saja. Kalau toh mereka berteriak keras, akhirnya suara mereka tenggelam tersapu habis ombak arogansi politik. Kalau begitu, untuk menumbuhkan rasa empati sosial, apakah  para wakil rakyat perlu mengikuti suatu pendidikan-kapita selekta tentang psikologi sosial, teori motivasi, EQ dan SQ? Apakah juga perlu sering turba namun diam-diam  ke lapisan bawah masyarakat?  Lalu bagaimana dengan Bolot? Ah jangan direkayasa, biar saja dia tampil alami. Orangnya sudah lurus, apa adanya dan tidak suka pura-pura walau terkadang sok tahu. Kalau diubah nanti tidak lucu lagi. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira,2006,Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,IPB Press.

Iklan