Perencanaan mutu SDM merupakan bentuk pendekatan masalah dimana proses pengambilan keputusan yang mencakup tindakan yang akan datang atau yang diharapkan dapat merubah kondisi suatu organisasi khususnya mutu SDM menjadi lebih baik. Di sini peran manajer menjadi sangat penting. 

          Dalam pelaksanaannya, paling kurang ada tiga tingkat keputusan yang relatif berbeda yang didasarkan pada luasnya implikasi-implikasi atau ruang lingkup dari pendekatan masalah tersebut. Jenis keputusan yang pertama adalah pendekatan masalah yang relatif bersifat sederhana dan berulang mengenai tindakan rutin yang hampir dibuat setiap hari, misalnya, kehadiran karyawan, kedisiplinan, pelayanan terhadap anggota / konsumen. Pada keputusan tingkat kedua, pendekatan masalahnya relatif cenderung lebih kompleks, misalnya, kinerja karyawan, perputaran karyawan, protes karyawan, persediaan barang jualan, rapat pemegang saham, dan perencanaan kebutuhan SDM. Pihak manajemen memiliki jangkauan yang lebih luas dan sudah mulai membutuhkan tingkat nalar atau analisis tertentu yang keputusannya berupa taktik. Tingkat keputusan yang ketiga adalah pendekatan masalah yang memiliki dimensi ruang dan waktu yang sangat luas dan umumnya memerlukan informasi dan kontemplasi yang terbanyak, misalnya, motivasi dan kepuasan karyawan, persaingan mutu karyawan, lambatnya pengembangan mutu SDM, membuka pasar, dan akses perekrutan SDM bermutu.         

          Batasan pengertian di atas mengidentifikasikan tiga ciri proses perencanaan mujtu SDM, yaitu:

(a) mencakup suatu tindakan yang diharapkan,

(b) terdapat variasi tindakan sesuai dengan tingkat mana pendekatan masalah diputuskan, dan

(c) adanya kombinasi pertimbangan mengenai implikasi-implikasi yang kompleks yang diantisipasi dari tindakan yang diharapkan.         

         Identifikasi tersebut mengacu pada pertimbangan bahwa masalah bisnis adalah relatif cukup kompleks. Hal demikian dapat ditinjau dari ragam kebutuhan, potensi daerah, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. Sejak manusia berada dalam sistem sosial, sejak itu pulalah proses perencanaan mutu SDM telah timbul. Dalam organisasi bisnis yang masih sederhana-tradisional, proses perencanaan mutu SDM akan sederhana pula. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan dan pasar global maka cenderung semakin rumitlah proses pengambilan keputusan atau perencanaan mutu SDMnya.  Sumber: Tb.Sjafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala Hubeis,2007,Manajemen Mutu SDM,PT Ghalia Indonesia.

Iklan