Sewaktu di era orde baru, tiap instansi pemerintah, khususnya perguruan tinggi secara rutin melakukan apel bendera 17-an setiap bulannya. Sejak kejatuhan Suharto, tidak semua instansi melakukan apel seperti itu. Kalau di perguruan tinggi hanya dilakukan apel hari Kemerdekaan RI dan Hardiknas. Biasanya pada setiap apel, dilakukan pengibaran bendera, pembacaan Pancasila dan Pembukaan UUD 45, sambutan, pemberian penghargaan dan tentunya baris berbaris. Tiap acara apel biasanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Saya tidak tahu apakah tiap apel yang dilakukan berpengaruh pada peningkatan perilaku etos kerja. Belum ada penelitian tentang itu. Kali ini yang saya ingin sampaikan adalah perilaku karyawan (termasuk dosen) dan  mantan pejabat tentang apel. 

Tak ada alasan yang jelas mengapa ada karyawan yang tak aktif hadir. Saya mencoba melihatnya dari beberapa sisi (proposisi) mengapa mereka segan untuk hadir dalam apel.

Pertama, kehadiran dalam apel sepertinya tidak merupakan kewajiban. Memang karyawan wajib menandatangani daftar kehadiran. Namun  tak ada satu pun karyawan yang tidak hadir dikenai sanksi.

Kedua, makna apel dirasakan tidak menyentuh pengubahan perilaku kerja dan kinerjanya. Apel dianggap sebagai kegiatan rutin saja. Tak ada sesuatu yang baru.

Ketiga, alasan fisik seperti takut kepanasan dan lelah berdiri.  Coba tengok ketika masih pagi-pagi nan sejuk pengikut apel masih bertahan di dalam barisan. Tapi ketika sudah mulai terasa panas, ada saja beberapa gelintir orang yang terbiri-birit ngabur ke bawah pohon rindang. Di beberapa instansi kalau ketahuan,  karyawan itu dikenai sanksi teguran.

Secara lebih khusus, menarik dikaji mengapa para mantan pejabat, misalnya di perguruan tinggi, yang dahulu selalu aktif kini ada yang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya dalam apel. Padahal  dahulu sebagai pejabat mereka harus  memimpin upacara. Bisakah kita mempertanyakan nurani beliau-beliau mengapa berperilaku seperti itu? Bisakah kita mengatakan bahwa apel itu dinilainya hanya sebagai suatu tugas rutin ketika dia sebagai pejabat? Bisakah kita menilai mereka termasuk golongan yang post power syndrom?

Wah, saya hanya bisa berucap: itu kan hak mereka untuk hadir atau tidak hadir. Kita tak mesti berburuk sangka. Sebab hanya para mantan pejabat itu lah yang paling tahu mengapa mereka tak muncul lagi pada tiap  apel bendera. Saya pun tidak tahu mengapa ada yang sangat jarang tampil di kantor untuk melaksanakan kewajibannya. Siapa tahu sekarang mereka sudah punya banyak kesibukan  untuk tugas-tugas nasional. Wallahualam.

Namun demikian ada baiknya kita merenungkan hadits berikut. Abu Huroiroh r.a mengatakan, Rasulullah bersabda: Celakalah para umaro (pemerintah), celakalah bagi pengurus organisasi, dan celakalah bagi penerima amanat. Sungguh akan berangan-angan beberapa kaum pada hari kiamat kelak, sesungguhnya jambul-jambul mereka selalu bergantung di bintang sambil berputar-putar antara langit dan bumi, sedang mereka tidak pernah mengerjakan sesuatu apa pun (HR Achmad).

Sumber Tb Sjafri Mangkuprawira,2007,Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,IPB Press.

Iklan