Apakah sesuatu yang tampaknya tak mungkin dapat menjadi mungkin? Ataukah sesuatu yang mungkin dapat menjadi tak mungkin? Nothing impossible, istilahnya!. Suatu pertanyaan yang perlu dijawab dari beragam perspektif. Dari segi agama, akal, ilmu pengetahuan, hukum alam, dan kepribadian.

        Coba kita simak beberapa contoh berikut.Tanaman eceng gondok yang dikenal sebagai tanaman pengganggu ternyata daunnya dapat diproses dan  dijadikan bahan baku untuk membuat kursi, tas, taplak meja, dan permadani. Akarnya? Bisa dipakai untuk salahsatu bahan lukisan indah. Begitu pula kulit  kodok dan tokek yang kelihatannya jijik dan tak berguna ternyata dapat diproses sebagai bahan baku pembuat dompet dan  tas wanita.      

        Seseorang yang cacat, tak memiliki tangan, tampaknya tak berdaya. Tapi ternyata dia mampu melukis dengan bagusnya hanya dengan memakai sepasang kaki. Bahkan plus tak punya kaki ada yang berupaya mengoptimumkan fungsi mulutnya. Subhanallah. Masih ingat ahli fisika dari Inggeris, Stephen Hawking, yang cacat fisik hampir total? Keseharian hidupnya harus dibantu kursi roda. Dalam keadaan kesulitan bicara dan bergerak tapi  otaknya masih berfungsi normal dan cemerlang. Ide-idenya dituangkan dalam bentuk saluran pikiran di otak yang langsung direkam di mesin dan dapat dibaca oleh kita.  Juga komponis Mozart, walau tuli tetapi mampu menciptakan lagu-lagu klasik yang legendaris berskala dunia, lestari sampai kini.

        Contoh lain adalah tentang temuan penerbangan supersonik. Bayangkan kecepatannya melebihi kecepatan suara antara satu sampai empat kalinya. Jarak tempuh  di udara di atas batas permukaan laut bisa mencapai 332 meter per detiknya. Sepertinya tak mungkin. Tetapi ternyata terjadi. Inilah seruan Allah: Carilah ilmu pengetahuan dan manfaatkan apa pun yang ada di alam ini untuk kemaslahatan. Rahmatan Lil Alamin. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (semua yang ada) (al-Alaq; 1). Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar bagimu (an-Nisa; 113).

       Nah yang ini, pernahkah kita melihat dan membayangkan ada tikus dan kucing bisa bersahabat?.  Hebatnya  seekor tikus sejak kecil dipelihara seekor kucing betina. Dia semakin besar dan sehat karena menyusu pada kucing. Si kucing dengan kasih sayangnya tidak membedakan antara menyusui si tikus dengan menyusui anak kandungnya sendiri. Begitu juga ada anak kucing disusui dan dibesarkan oleh anjing betina.. Dari permusuhan menjadi persaudaraan. Mengapa tidak? Semuanya karena sunatullah, rekayasa manusia dengan menggunakan akal cerdasnya dan tentunya dengan pertolongan Allah.

        Makanya saya suka sedih ketika mendengar seorang ibu atau bapak tega-teganya membunuh anak darah dagingnya sendiri. Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah”, lalu jadilah ia (al-Baqarah; 117)Kemudian yang satu ini contoh  sangat ekstrem berbeda. Secara fitrah ketika manusia itu lahir, putih  bersih. Tapi mengapa secara bertahap lalu ada yang menjadi kotor seperti sampah. Padahal manusia itu tergolong mahluk sempurna karena punya akal dan kepribadian aktif. 

        Karena itulah, misalnya secara akal sehat sebenarnya korupsi, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, pencurian bahkan incest serta kekerasan dalam keluarga adalah sesuatu yang diharamkan. Tapi mengapa  banyak yang melakukannya?. Sesuatu yang tidak mungkin (tak masuk akal dan diharamkan) kok dimungkinkan (dihalalkan)? Di sisi lain sesuatu yang tidak mungkin (seolah tak masuk akal) dapat menjadi mungkin (jadi masuk akal).

Masih banyak contoh lainnya yang menggambarkan betapa Allah menyerukan pada tiap insanNya untuk selalu mencari dan berupaya bahwa apa pun yang ada di alam ini pasti ada manfaatnya. Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik apa yang terdapat di bumi (al-Baqarah; 168). Tiap insan diserukan untuk selalu menggunakan akal sehat dan berada di jalan lurus, tidak cepat putus asa dan pesimis. Ada yang mematuhiNya tetapi di sisi lain mengapa ada manusia yang ingkar?

Jadi benar,  Allah  selalu mengingatkan memang manusia itu bersifat alpa, lalai atau dhaif (lemah). Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (al-Balad; 4). Agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya (Hud; 7). Allah pun maha pengasih penyayang dan mengingatkan kepada umatnya untuk tidak pesimis (melapangkan). Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah; 5).

Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira,2007,Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah,IPB Press.

Iklan