Berbagai media massa pernah mewartakan kemudahan untuk berusaha di Indonesia kembali berada pada kondisi  parah. Indonesia pada tahun 2005-2006 berada di peringkat ke-135 dari 175 negara. Hal itu dinyatakan oleh International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia. Alasan sangat klasik terjadinya keterpurukan itu yaitu tidak efisiennya birokrasi.

         Perizinan bisnis sudah berubah menjadi transaksi bisnis atau bisnis balas jasa. Birokrat yang seharusnya melayani (aktif) publik berubah menjadi dilayani (pasif) publik. Kalau tidak dilayani, mohon maklum saja, apa yang bakal terjadi. Proses perizinan bakal semakin panjang dan lama. Akibatnya bisa ditebak, terjadilah penyuapan dan pemerasan. Ujung-ujungnya terjadilah biaya ekonomi tinggi. Lalu bagaimana?

           Idealnya ya pangkas saja birokrasi itu. Sederhanakan saja proses perizinannya. Tindak saja pelayan publik yang nakal itu. Bla…bla…bla. Woow   pelaksanaannya tidak semudah ucapannya, Mbak dan Mas!! Semua perilaku sudah berlangsung sangat lama. Sudah mengeras seperti batu karang. Namun optimislah, mengapa tidak kita coba saja mencairkannya  sejak sekarang. Masih ada harapan ketimbang sesalan.   

Iklan