Dalam hidup dan kehidupan tak ada yang tetap. Kita semua pasti berubah dan ingin bertahan hidup. Begitu pula dalam dunia bisnis. Manajemen puncak (CEO) suatu perusahaan harus menyadari bahwa perubahan adalah suatu fenomena alami. Esensinya bahwa perubahan itu sesuatu yang fitrah namun perlu dipandang secara bijak. Dia  harus mempertanyakan pada dirinya sendiri apakah pola pikir yang sekarang dipakai masih dianggap relevan. Ataukah ketika  menegok ke dunia bisnis di luar yang begitu luas,  dia menilai pola pikirnya ternyata sudah memasuki wilayah darurat karena sudah begitu usangnya? Apakah dia terdorong meninggalkan keasyikan hidup mapan demi ketidakasyikan karena dihadapkan pada mendesaknya keperluan perubahan bisnisnya? Untuk itu seberapa jauh kepekaannya terhadap perubahan?

Perusahaan  yang tidak memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan akan semakin terpinggirkan karena tidak mampu menghadapi persaingan bisnis yang ketat. Lebih parah lagi mereka akan ditinggal para pelanggannya. Mengapa demikian? Ada beberapa hal penyebabnya.

Pertama,  hidup dan kehidupan bisnis penuh dengan ciri turbulensi.  Daya tanggap, kepekaan dan pengetahuan rendah dari CEO tentang akibat turbulensi akan mengancam perusahaan.

Kedua, perusahaan kurang bahkan tidak mengembangkan sikap terbuka akan perubahan. Semua komponen perusahaan yakni  staf dan karyawan tidak diajak bicara tentang alasan strategis dari perubahan. Padahal perubahan yang dilakukan perlu diawali dengan  menyamakan visi pribadi dengan kebutuhan perusahaan. Dengan kata lain itu diperlukan untuk mencegah resistensi staf dan karyawan atas perubahan. 

Ketiga, walaupun dilakukan perubahan hanya dilakukan pada satu bidang saja. Padahal perubahan merupakan sistem yang total. Selain itu karena dimensi permasalahan  begitu kompleksnya.

Keempat, kalaupun ada perubahan  tapi itu dilakukan secara tambal sulam; tidak terencana dengan baik. Cepat berpuas diri. Padahal  perubahan tak pernah mengenal kata selesai.            

Bill Gates, pendiri dan pemimpin Microsoft, mengatakan ”siapapun yang tidak mau berubah akan dijungkir-balikkan karena memang demikianlah aturan dunia ini” (Indra Ismawan, Spirit of Change, 2005). Kemudian Jack Welch, CEO General Electric, menambahkan ”Our lives depend on CHANGE”. Dia mengatakan “saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia; yang saya tahu adalah dunia akan berbeda sama sekali dengan keadaan saat ini. Dunia akan berjalan lebih cepat”. Dalam hal inilah setiap perusahaan harus memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan. CEO harus memiliki sikap positif terhadap perubahan dan melakukan antisipasi  secara sistemik. Artinya suatu perubahan perlu dikelola. Tujuannya adalah dalam kerangka menciptakan nilai baru.yang berkelanjutan dengan manajemen yang efisien.                

Dengan manajemen perubahan yang terencana dengan baik perusahaan diharapkan mampu menentukan kecenderungan, memimpin perubahan, dan bahkan menguasai masa depan. Untuk melakukan perubahan, perusahaan tidak harus menunggu masalah atau menunggu datangnya krisis lebih dahulu. Perubahan atau perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta otomotif belakangan ini telah membuktikan hal itu. Produk-produk mutakhir seperti komputer, televisi layar lebar, multimedia, kamera digital, dan ponsel serta kendaraan modern akan terus berkembang tanpa henti menuju ke tingkatan yang semakin tinggi lagi. Semuanya merupakan fungsi dari faktor-faktor gagasan cemerlang, kebutuhan pasar, kemampuan adopsi, efektivitas implementasi dan pengelolaan sumberdaya.

            Disinilah diperlukan pengembangan sumberdaya manusia (SDM). Perlu diciptakan bagaimana setiap komponen internal yang terlibat dalam bisnis memandang  perubahan adalah suatu keharusan. Untuk itu perlu ada perubahan pola pikir para karyawannya. George Bernard Shaw, sastrawan terkemuka, mengatakan “kemajuan tak mungkin terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak mau mengubah pemikirannya, tidak bisa mengubah apapun”. Intinya bagaimana suatu sikap atas  perubahan diciptakan sebagai salah satu bentuk dari budaya perusahaan.

         Dalam tataran operasional dibutuhkan upaya menyamakan visi pribadi dengan kebutuhan perusahaan. Bagaimana pula  perusahaan harus memikirkan konsekuensi dan mencegah resistensi atas suatu perubahan. Jadi  esensinya dari pengembangan SDM adalah menciptakan sikap realistis, daya nalar, keinginan-tahuan, daya cipta  dan daya inisiasi di kalangan karyawan. Harapannya adalah perusahaan akan mampu meraih dan mempertahankan momentum setiap perubahan lewat pengintegrasian semua elemen  program perubahan.

        CEO harus mampu mengkonsolidasi seluruh staf dan karyawan agar perusahaan tetap memiliki keandalan  kompetitif dan terus tumbuh. Dia harus merangkul mereka yang menentang perubahan menjadi unsur efektif perubahan itu sendiri. CEO harus meyakinkan semua karyawan bahwa perubahan hakekatnya adalah sebagai kesempatan. Karena itu dia perlu merangsang para karyawannya dengan ide-ide baru dan hasrat untuk maju. Dengan kata lain perlu ditumbuhkan dinamika kelompok. Henry Ford, pendiri Ford Motor Company, menyebutkan “apabila kita takut gagal, itu berarti kita telah membatasi kemampuan kita”. Suatu ketika perubahan akan dipandang sebagai fenomena yang menyenangkan para karyawannya. Perubahan benar-benar menjadi kebutuhannya.           

        Program perubahan yang sudah selesai pada kurun waktu tertentu bukan berarti berakhirnya proses perubahan. Karena itu perlu dilakukan evaluasi terus menerus. CEO harus selalu mempelajari dari beragam sudut perubahan yakni aspek internal, eksternal, proses, dan hasil (Robert Heller, Managing Change, 2002). Dari sisi internal; apakah perusahaan telah melaksanakan perubahan  sesuai dengan perencanaan? Apakah sistem pelayanan, jalur distribusi, produktifitas, dan pemasaran sudah berjalan optimum? Bagaimana dengan sikap para karyawannya? Dari sudut eksternal; sejauh mana para pelanggan sudah puas? Apakah pengembangan mutu produk telah meningkatkan volume penjualan? Apakah terjadi perkembangan pasar, ilmu dan pengetahuan serta teknologi baru? Dari segi proses; apakah volume  produk dengan mutu tertentu sudah sesuai rencana dan permintaan pasar? Bagaimana dengan efisiensi waktu dan tenaga kerja? Apakah proses inovasi terjadi?. Kemudian dari sisi hasil; bagaimana dengan pengembangan segmen pasar? Apakah terjadi peningkatkan pangsa pasar? Bagaimana hubungan peningkatan penjualan dengan kemampu-labaan?.

         Diharapkan melalui evaluasi berkelanjutan, perusahaan akan mampu menghindari rasa puas diri dan selalu bersikap realistis dan kritis. Secara dinamis, perusahaan akan mampu memodifikasi setiap perubahan eksternal, yang bisa jadi sebagai ancaman, dengan membangun lingkungan produktif-efisien. ”Hope is brightest when it drawn from fears”, demikian ungkap Sir Walter Scott, sang penyair dunia.      

Iklan