Saya tidak tahu apakah yang terjadi pada saya beberapa waktu lalu termasuk linglung. Kisahnya  begini. Ketika habis mengajar di  siang hari  saya menerima dua orang tamu di ruang Senat Akademik. Di pagi harinya saya juga mengajar di kelas lain. Kami membahas tentang mata kuliah mayor untuk program studi Ilmu Manajemen pada sekolah pascasarjana. Ketika diskusi berlangsung, saya menerima telepon dari Ketua Departemen Manajemen. Singkat cerita beliau minta waktu untuk diskusi minggu depan. Lalu saya bilang, silakan tunggu sebentar sambil saya memegang ponsel  yang sedang aktif. Saya katakan akan mencari data waktu yang pas dari  kalender yang ada di ponsel itu. Sekali-sekali saya bilang: sebentar ya, saya sedang mencari ponsel saya. Ketika hampir putus asa sambil ngomong sendirian ”dimana sih tuh ponsel”, tiba-tiba saja salahseorang tamu bertanya: cari apa pak? Ya lagi cari ponsel, jawab saya. ”Rasanya tadi saya taruh di meja dekat tempat saya duduk”. Lalu si tamu itu bilang dengan sopannya: bukankah ponsel sedang dipegang bapak?. Wooow, kaget alang kepalang. Ya…ya…ya…ini ponsel saya, sambil beristighfar. Tak ayal tamu  dan saya sendiri lalu  tersenyum simpul. Ternyata saya sudah mulai memasuki fase linglung.         

        Saya juga mendengar ada cerita yang hampir  mirip dengan kelinglungan saya. Suatu ketika kolega saya, seorang profesor, sedang mengajar dan bicara dengan menggunakan mike. Setelah beberapa waktu, dia mendapat telepon lewat ponselnya. Sambil memegang mike, dia kemudian menjawab halo dan lalu bicara. Ketika sedang bicara para mahasiswa tersenyum dan bahkan ada yang cekikikan. Hai kenapa kalian?, tanya sang profesor campur heran. Maaf prof, bapak bicaranya lewat mike bukan lewat ponsel. Karuan saja segera dia pindahkan pembicaraan lewat mike ke ponselnya sambil tersenyum kecut.Bisa dibayangkan,  isi pembicaraan telepon terdengar tidak saja di dalam kelas tetapi  juga ke luar kelas. Pantas saja sebagian mahasiswa tertawa…gerrrr.          

        Apa sebenarnya linglung itu? Saya berpendapat, linglung ada kaitannya dengan potensi dayaingat dan kondisi psikologis seseorang dalam suatu waktu tertentu. Itu  juga sangat terkait dengan faktor usia yang bersangkutan. Semakin tua semakin potensial seseorang mengalami kelinglungan karena semakin menurunnya kemampuan dayaingat. Kelinglungan itu bisa jadi timbul ketika yang bersangkutan memiliki beberapa pekerjaan dengan beban kerja berlebihan yang hampir bersamaan waktu harus diselesaikan. Secara psikologis kondisi itu menyebabkan terjadinya tekanan mental. Lalu, kepanikan bisa muncul tiba-tiba. Antara lain, dalam mengelola dayaingat yang salah arah atau kehilangan konsentrasi. Nah ketika itulah terjadi kebingungan dan ujungnya bisa kelinglungan. Pada gilirannya akan terjadi kepikunan…dan  di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya (al-Hajj; 5).

Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira.2007.Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah.IPB Press

Iklan