Apa motif seorang karyawan mau bekerja? Ya,  harus dipahami. Anda sendiri sebagai seorang manajer siap  bekerja karena memiliki beberapa keinginan: keinginan untuk mengabdi sesuai dengan ajaran agama yaitu ibadah dan mendapat pahala, keinginan untuk hidup sejahtera, keinginan untuk mencapai posisi tertentu, keinginan akan kekuasaan, dan keinginan untuk pengakuan status sosial. Seorang karyawan yang termotivasi biasanya bersifat energetik dan semangat dalam mengerjakan sesuatu secara konsisten dan aktif mencari peran dengan tanggung jawab yang lebih besar. Beberapa karyawan boleh jadi tidak merasa takut kalau dihadapkan pada tantangan bahkan justru termotivasi untuk mengatasinya. Seorang atau beberapa karyawan dalam tim yang motivasinya tinggi dapat membangkitkan semangat rekan-rekan lainnya dan membawanya ke arah prestasi yang semakin tinggi.

           Sebaliknya para karyawan yang motivasinya kurang akan sering menampilkan rasa tidak senang akan tugas-tugas dan tujuannya serta cenderung masa bodoh. Akibatnya, kinerja mereka menjadi buruk dan sering melepaskan tanggung jawabnya. Mereka umumnya  datang terlambat atau tidak masuk kerja. Mereka kerap membesar-besarkan masalah kecil dan sebagai konsekuensinya akan sulit mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi. Kemorosotan motivasi bagai suatu infeksi yang sulit disembuhkan.

       

          Sehubungan dengan itu manajemen menengah puncak perlu membuat beberapa kondisi prinsip-prinsip dasar penerapan strategi pemotivasian karyawan :

(1)   Penerapan kesepadanan kondisi karyawan dengan keahliannya. Karyawan yang merasa cocok dengan posisi pekerjaannya akan lebih merasa puas daripada kalau mendapat beban berlebihan atau jika pekerjaannya tidak cocok dengan latar belakang keahliannya. Namun demikian   karyawan yang belum sepadan keahliannya dengan jenis pekerjaan perlu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menambah kemampuan kerjanya.

(2)   Perumusan konsep bekerja dengan tujuan yang jelas. Buatlah sedemikian rupa tujuan yang ingin ditetapkan itu dapat dikelola, dilaksanakan dan dicapai karyawan. Untuk itu para karyawan seharusnya mengetahui persis apa yang dapat diharapkan dari tujuan tersebut. Dengan demikian biasanya karyawan akan termotivasi dalam bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan tersebut.

(3)   Pemberian penghargaan. Penghargaan tidak selalu dalam bentuk uang. Pada tahap tertentu uang bukan segalanya dalam memotivasi karyawan untuk bekerja dengan baik. Unsur uang sifatnya berjangka pendek. Kedudukan uang hanyalah untuk mencegah terjadi penurunan motivasi. Untuk itu perlu dicari bentuk lain, misalnya pengembangan karir yang jelas dan pemberian otonomi. Temukanlah unsur-unsur apa saja yang spesifik atau sebenarnya dapat memotivasi karyawan secara individual.

(4)   Penciptaan lingkungan kerja yang nyaman. Lingkungan kerja yang nyaman tidak saja dicirikan fasilitas kerja fisik (suhu ruangan, alat kerja, kursi-meja kerja, dsb) tetapi juga non-fisik seperti manajemen kepemimpinan yang partisipatif dan hubungan sosial antarkaryawan. Disamping itu diperlukan komunikasi horisontal dan vertikal yang tidak kaku dibatasi oleh status atau posisi pekerjaan. 

           Dari uraian di atas maka Anda dapat merinci beberapa kondisi yang dibutuhkan untuk  menciptakan karyawan yang termotivasi yaitu :

(1)   Memahami karakter individu masing-masing karyawan seperti dalam hal kepercayaan diri, kemampuan, nilai dan harapan-harapan dari kemampuannya yang dapat dimotivasi,

(2)   Jangan menganggap faktor-faktor yang dapat memotivasi Anda juga otomatis berlaku buat orang lain. Beberapa orang boleh jadi termotivasi kerja karena faktor uang. Sementara orang lain tidak begitu termotivasi oleh uang. Jadi yang penting adalah tentang kejelasan karir karena itu berarti karyawan memiliki tambahan tanggung jawab. Atau boleh jadi faktor penentu motivasi karyawan lain adalah lingkungan kepemimpinan yang diterapkan di lingkungan kerjanya.

(3)   Berupaya menentukan strategi pendekatan yang sesuai dengan apa yang ingin dituju karyawan dari pekerjaannya seperti keinginan memperoleh pengakuan atau memperbaiki gaya hidup. Karyawan yang paling sulit dikelola adalah mereka yang tidak dapat mengartikulasi kebutuhan-kebutuhannya. Tes berbentuk psikometrik dapat mengindikasikan cara-cara dan motivasi karyawan dalam bertingkah laku dengan orang lain .

         Dalam hal ini maka Anda perlu memiliki karakteristik perlakuan berikut:

(1)   Seperangkat ‘alat/cara’ untuk memotivasi kelompok karyawan dalam bentuk:

Ø      Berikan pujian dan pengakuan/penghargaan yang wajar kepada karyawan,

Ø      Posisikan Anda sebagai sumber kepercayaan, kehormatan dan harapan,

Ø      Tunjukan kesetiaan Anda karena karyawan pun akan setia pada organisasi

Ø      Terapkan orientasi pada pengayaan pekerjaan,

Ø      Tunjukan kemampuan komunikasi multilini yang baik,

Ø      Tanamkan kepercayaan bahwa insentif finansial bukan segalanya,

Ø      Bukalah akses informasi tentang peluang karir.

(2)   Mengajak lebih ampuh ketimbang memaksa.Persuasi jauh lebih kuat efeknya ketimbang paksaan seperti halnya dalam mitos jurnalis  ‘pena lebih tajam ketimbang pedang’. Paksaan akan mengakibatkan keputusasaan karyawan karena dianggap diperlakukan tidak ada bedanya dengan khewan (dehumanisasi), tidak dipercaya, dan tidak dihargai akan kemampuan dirinya. Perusahaan akan rugi karena paksaan hanya akan membuahkan kontra produktif. Sebaliknya,dengan persuasi justru para karyawan akan merasa diajak untuk memahami persoalan yang dihadapi dirinya dan organisasi, diberi peluang untuk berpikir, berkreasi dan berprakarsa. Dengan demikian mereka merasa mendapat perlakuan secara manusiawi. Hasilnya akan semakin produktif walaupun tidak jarang membutuhkan waktu yang relatif panjang dan kesabaran tinggi.

        Karena itu ketika Anda akan mendorong karyawan agar mereka mau dan mampu bekerja semakin produktif diperlukan syarat-syarat berikut:

(1)   Perlakukanlah mereka sebagai manusia seutuhnya yang memiliki ciri keunikan dibanding faktor produksi lainnya,

(2)   Jangan memandang posisi mereka sebagai subordinasi (bawahan) tetapi harus sebagai mitra Anda,

(3)   Kenalilah secara persis kebutuhan, kepentingan dan masalah-masalah yang dihadapi karyawan,

(4)   Dekatlah dengan mereka untuk bersama-sama memecahkan masalah individu dan organisasi,

(5)   Bangkitkan suasana kebersamaan dan keharmonisan kerja lewat kegiatan-kegiatan informal seperti acara keluarga dalam bentuk  pinik dan olah raga bersama.

Sumber: Tb.Sjafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala Hubeis,2007, Manajemen Mutu SDM,Ghalia Indonesia

Iklan