Beberapa hari lalu saya  menyaksikan acara sepak bola kompetisi Copa di televisi. Namun saya tidak disajikan suatu permainan  yang elok.  Malah disuguhkan sajian tawuran. Sudah menjadi tontonan rutin agaknya kalau antarpemain dan antarpendukung sepak bola  bertawuran. Dari sisi pemain, tampilan sportifitas dalam berlaga jauh dari harapan. Tujuan main yang penting bagaimana supaya menang. Tidak perduli dengan aturan main yang fair. Tinju dan tendang tidak terhindarkan walau cuma gara-gara  senggolan. Padahal tangan dan kaki itu kan titipan Allah. Tentunya untuk dipakai dalam kegiatan yang bermanfaat.       

       Ironisnya disitu ada wasit. Kalau ada pelanggaran akan ditilang kartu kuning. Dan kalau sudah kelewat batas baru diberi kartu merah. Eeh….tetap saja mereka ngotot berkelahi. Wasit diremehkan dan dianggap tidak ada. Bahkan jadi bulan-bulanan pemain  dengan memaki sambil mendorong-dorongnya. Penonton juga sama. Mereka emosinya mudah sekali terbakar ketika kesebelasan pujaannya ”dianiaya” atau dikalahkan lawannya. Mulanya biasa saja dalam bentuk teriakan-teriakan mengejek dan mengancam. Lalu botol air, batu dan kayu serta pembakaran sudah menjadi alat ampuh untuk melempari pemain kesebelasan dan pendukung lawan-lawannya. Kalau perlu saling kejar ke dalam dan luar lapangan. Jotos-jotosan dan tendang menendang sambil melempari apa saja yang ditemukan. Dari wajah-wajah mereka sepertinya mereka begitu puas dengan apa yang dilakukannya.   

              Ada apa denganmu hai pemain dan pendukung? Kenapa memiliki tujuan dan pemujaan  begitu sempitnya? Susahkah bermain sportif? Bisakah  menonton permainan dengan rileks dan tertib? Tidak terpengaruh emosi hasutan? Toh pihak  ”lawan” itu sendiri sebenarnya saudara kita juga kan? Lalu pulang dengan santai tanpa beban kesal dan dosa? Terus bagaimana peran para petugas keamanan? Mereka sudah semaksimum mungkin berupaya mencegah dan mengamankannya. Namun tidak berdaya menghadapi massa beringas yang jumlahnya jauh lebih banyak. Peralatan pun terbatas. Sampai-sampai ketika hujan datang pun mereka berlarian terbirit-birit mencari tempat teduh. Lucu melihatnya. Bisakah mereka tetap dekat lapangan walau hujan dan  tidak punya jas hujan?.

        Rasanya berbeda dengan di  akhir tahun ’50an ketika saya masih aktif sebagai kapten kesebelasan Persija Remaja. Ketika itu aman-aman saja. Memang pernah sih sekali-sekali kalau ”anak buah” saya dikasari  langsung  saya pegang baju lawannya, sambil menunjukkan kemarahan saya. Wah emosi juga saya. Ketika itu wasit terus memberi peringatan keras kepada “lawan” saya. Termasuk kepada saya agar jangan main hakim sendiri.Alhamdulillah selesai sampai di situ.Pengamanan dari polisi pun menjadi ringan.Damai!     

               Bisakah pihak panitia dan PSSI memutar otak mencari jalan terbaik menghindari terjadinya tawuran? Misalnya tindakan tegas kepada pemain yang tidak sportif. Juga tersedianya sistem pengamanan di dalam dan luar gedung yang solid. Selain  itu diperlukan tindakan hukum kepada penonton yang berbuat onar. Masalahnya tidak sederhana memang.  Perilaku sosial masyarakat merupakan  buah dari proses panjang pendidikan di dalam dan luar keluarga. Sayangnya ternyata  masih jauh dari efektif.

 Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2006, Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah.Jilid 1, IPB Press.

Iklan