Penggunaan SMS untuk berkomunikasi sudah sangat lazim selama lima tahun terakhir ini. Tidak terkecuali itu juga terjadi antara mahasiswa dan dosen. Cara pengungkapan dan isi sms  bisa beda-beda. Berikut contohnya, ”Assalamualaikum, Bapak, saya Erna, mahasiswa bimbingan Bapak. Bapak, saya mau konsultasi KRS B. Bapak ada waktu kapan? Terimakasih. Segera saya jawab, ”silakan datang pk 10 di senat”. Kemudian ada lagi SMS yang lain: ”Assalamualaikum pak Sjafri. Sy Roni pak. Tadi sy dapat sms dr hilman bhw hr rabu jam 9 ketemu bpk di senat.sy akan datang pak. Trimakasih pak.” Lalu saya tanggapi ”ok”.

Nah  SMS yang satu ini, isi dan gayanya sangat lain. Itu datang dari seorang mahasiswi bimbingan baru, sebut saja Devi, yang saya belum kenal  (baru pertama kali akan bertemu). Isinya: ”Pak, saya mo ketemu, mo bimbingan. Kapan bisanya?”. Setelah  beberapa kali membaca sms itu kemudian saya jawab, ”hari ini saya tak bisa, nanti Anda saya kontak”. Selang beberapa menit, terus dia jawab ”Ya sudah. Kalo memang ga bisa, ga apa-apa”.

Itulah bahasa SMS gaul dari seorang mahasiswa. Tidak saja isinya yang terasa  asing bagi telinga saya tetapi juga gaya bertutur katanya sangat gaul. Lalu saya merenung  sejenak. Apakah saya dianggap temannya? Bagaimana caranya saya bisa bertemu dengannya untuk diskusi tentang smsnya itu. Lalu saya punya akal yakni meminta tiga orang mahasiswa angkatan lain dan Devi untuk ketemu saya. Intinya untuk konsultasi akademik sambil meminta pendapat tentang isi SMS Devi.

Dua hari kemudian, tiga orang mahasiswa (dari angkatan berbeda) plus Devi datang ke ruang kerja saya secara bersamaan. Setelah mereka duduk lalu seperti biasanya saya sapa helo kepada mereka. Lalu saya bertanya singkat tentang kemajuan draf proposal dan draf skripsi masing-masing. Setelah itu saya mulai dengan pembicaraan tentang isi SMS neng Devi. Tentunya tanpa menyebutkan sumber aslinya di depan mereka. Hal itu untuk menghindari rasa malu dari neng Devi. Saya katakan, saya menerima SMS dari ”seseorang” beberapa hari yang lalu. Saya minta pendapat Anda semua, kata saya. Kemudian saya bacakan isinya secara lengkap.

Setelah itu saya tanya lebih dahulu pada mereka (bertiga; dua orang perempuan dan seorang laki-laki). Semua serempak mengatakan ”isi SMS itu tidak sopan pak. Sok gaul. Tidak etis, apalagi pada orang tua seumur bapak”…”Kecuali sama temannya”, tambah mereka. Setelah itu saya bertanya pada Devi, apa pendapat Anda tentang isi dan gaya SMS seperti itu. Sambil tertunduk lesu, dia bilang: ”benar pak, isinya sangat tidak sopan”. katanya. Kemudian   saya minta para mahasiswa keluar, kecuali Devi. Tiba-tiba,  secara spontan Devi minta  maaf. ”Saya khilaf pak, mohon dimaafkan pak” pintanya. ”lain kali saya tidak berbuat seperti itu lagi pak”. Setelah saya memberi nasehat lalu saya  membesarkan hatinya dengan berucap ”Oke, maaf-memaafkan”, semoga lain kali ber-sms lebih baik lagi, sesuai dengan siapa anda berkomunikasi” kata saya.

Saya sengaja  mengundang mahasiswa lain untuk membuktikan pada Devi apakah isi dan gaya SMSnya  layak atau tidak. Biarkan mereka menjadi penilai yang obyektif. Jadi, evaluasi itu tidak harus dari saya saja (subyektif). Selang beberapa hari kemudian   saya menerima SMS lagi dari Devi. Isi SMSnya: ”Ass.ww.Bapak, saya devi, ingin konsultasi KRS B. Apakah bapak bisa menerima saya hari ini dan pukul   berapa?  Terimakasih pak”. Ya, silakan,  pukul 11 di ruang senat, jawab saya. Lalu segera diresponnya, ”Terimakasih Pak”.

 Alhamdulillah.  Saya terharu dibuatnya. Hanya dalam tempo delapan hari, Devi telah mampu mengubah perilaku sms gaulnya dengan tutur kata yang sopan. Saya amat bersyukur. Dia sangat memaknai proses pembelajaran pada dirinya. Saya percaya dia memiliki kemauan kuat untuk berubah dalam bertutur kata. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (Maryam; 50). Oke  Devi, semoga kau sukses dalam studimu. Amin.

Iklan