Suatu waktu saya berkesempatan ngobrol dengan dua sahabat saya mengenai asal muasal mereka menjadi guru besar. Sebut saja yang satu Prof. Meranti dan satunya lagi Prof.Tek-In. Mereka mengaku berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Menurutnya, mereka tergolong miskin di desanya. Orang tuanya tidak memiliki penghasilan berlebihan untuk mengirim mereka studi di IPB. Maklum dari kalangan petani marjinal. Yang dimiliki orang tuanya hanya semangat dan impian agar anaknya menjadi “orang”. Pantas saja katanya, sebagian penduduk di desanya hampir-hampir tidak percaya ketika keduanya pergi ke Bogor untuk menuntut ilmu di IPB. Tidak sedikit yang mencemoohkannya. Mana mampu! Bahkan Meranti dikira oleh para tetangganya akan mencari pekerjaan di Bogor sebagai…….kuli bangunan.

Ketika sampai di Bogor keduanya tidak tinggal di tempat perumahan tetapi di asrama mahasiswa. Mereka tidak mampu membayar kalau tinggal di luar asrama. Pengeluaran sangat dihemat. Maklum kiriman wesel dari orang tua pas-pasan. Disamping itu karena jauh dari sanak saudara, hampir-hampir mereka tidak pernah jajan. Paling-paling ditraktir oleh teman-temannya. Dan itu pun sangat jarang terjadi. Sekali-sekali kalau punya waktu senggang mereka bekerja apa saja, asalkan dibayar. Disamping itu Meranti agak beruntung karena dia memperoleh beasiswa ikatan dinas.

Begitulah gambaran dua orang dari banyak guru besar yang berasal dari keluarga ‘tak punya’. Mereka siap melakukan apa pun asalkan dapat tetap kuliah dan tentunya membahagiakan orangtua jika berhasil. Terutama dalam hal penghematan ongkos hidup. Banyak contoh lain yang pernah saya tahu. Diantaranya ada yang pernah menjadi supir bemo, kerja serabutan, dagang kecil-kecilan, bimbingan belajar dan guru. Lumayan untuk menambah perolehan wesel tambahan untuk biaya kuliah dan praktik. Karena ketekunannya sekarang mereka menjadi guru besar. Kondisi ekonomi keluarganya pun relatif sudah mapan. Istilahnya sudah jadi ‘orang’ seperti yang diimpikan orang tua mereka. Prof. Meranti termasuk sukses dalam bisnis. Sementara itu Prof.Tek-In selain sukses di bidang akademik, konon sedang dinomasi sebagai pejabat eselon satu suatu Departemen. Kalau mau ditambah, beberapa guru besar di Indonesia yang tadinya dari keluarga pas-pasan yang kemudian sukses antara lain ada yang pernah menjadi menteri, pejabat eselon satu, rektor, dan peneliti unggul.

Beberapa hal yang dapat ditarik dari pengalaman hidup dua sahabat saya itu adalah pertama, latar belakang kondisi ekonomi yang relatif lemah tidak selalu diikuti dengan prestasi belajar yang rendah. Ketekunan studi dan berkarir dari dua orang sahabat saya itu untuk membahagiakan orangtuanya mematahkan belenggu posisi ekonomi mereka yang pas-pasan.

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan (al-Muzzammi; 8). Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (Ar ra’d; 8).Kedua, jangan cepat menyimpulkan masa depan seseorang hanya berdasarkan pada kondisi orang itu belum ‘jadi’. Artinya proses perubahan pada manusia, termasuk nasib, sangat ditentukan oleh usaha keras dari yang bersangkutan dalam jangka panjang. Utamanya karena pertolongan Allah. Ketiga, semangat, impian, dorongan dan doa orang tua adalahfaktor segalanya untuk meraih prestasi kehidupan yang gemilang. Bahkan cemoohan dan pesimistis dari para tetangga menjadi pemacu semangat untuk membuktikan mereka dapat dan akan berhasil. Dan keempat, orang yang pandai bersyukur akan selalu memperoleh kebahagiaan yang datangnya tak terduga dari Allah yang maha pemurah, pengasih dan penyayang.

Iklan