Sudah hampir sebulan terakhir ini puluhan ribu karyawan/buruh di berbagai daerah dan ibukota berunjuk rasa. Mereka protes atas ketidaksetujuan terhadap revisi UU RO No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Isi revisi lebih banyak memihak pada kepentingan pengusaha atau investor ketimbang pada buruh, kata mereka. Buruh semakin tertindas, tambahnya. Karena itu, batalkan saja revisi !! Demikian tuntutannya. Jangan buruh dipersalahkan kalau efisiensi perusahaan tidak tercapai !! Ungkapan lebih lanjut dari mereka.

Dalam saluran kran demokrasi yang semakin terbuka ini, Indonesia telah menjadi ladang unjuk rasa. Hampir di setiap sisi kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan hukum tak tertutup ruang untuk protes dari mereka yang merasa teraniaya. Dalam kasus revisi UU Ketenagakerjaan ini, tuntutannya adalah selalu pada peningkatan martabat buruh. Baikd ari segi besaran upah, kesejahteraan, karir, dan hak-hak bicara.

Melihat unjuk rasa yang semakin meningkat, Presiden sampai-sampai mengadakan rapat kabinet terbatas. Akhirnya presiden menunda revisi undang-undang itu. Mungkin beliau menyadari bahwa persoalan mendasar yang sebenarnya adalah pada mampetnya komunikasi tripartit (pengusaha, buruh, dan pemerintah). Beliau meminta agar dalam revisi UU tersebut komponen buruh dan juga perguruan tinggi dilibatkan. Lewat jalur itu saya sebagai warga masyarakat dapatlah diinformasikan dan dibahas apa permasalahan pokoknya, apa saja yang tidak layak untuk direvisi, dan apa pensolusiannya dilihat dari segi kepentingan pengusaha, buruh, dan tentunya juga pemerintah. Jangan sampai hak-hak buruh diambil oleh pengusaha dan pemerintah.

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya,” (Al-Baqarah : 42).

Di sisi lain, saya berharap, tidak perlu tiap ketidakpuasan lagi-lagi direfleksikan dengan unjuk rasa yang banyak merugikan berbagai pihak. Semoga ujung dari suatu komunikasi terjadinya kesamaan pemahaman. Tanpa harus ‘berdarah-darah’. (13.04.06).

Iklan