Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan seorang mantan mahasiswa yangs udah jadi “orang”. Sudah cukup lama tidak saling berjumpa. Dia seorang akademisi (PhD) tangguh dan publik figur. Disamping sebagai pengamat sosial ekonomi, dia juga anggota DPR. Dia merupakan salah seorang yang pernah mengikuti kuliah dan bimbingan skripsi dari saya lebih kurang dua puluh tahun yang lalu. Saya ingat ketika sedang proses bimbingan dia begitu rajin mengontak dan menunggu saya untuk konsultasi. Orangnya pintar dan lulusnya pun dengan penghargaan.

Sampai saat ini tidak kurang dari 250 orang alumni IPB (strata 1-3) yang pernah saya bimbing. Kalau mahasiswa yang pernah saya ajar, khususnya dalam ilmu Pengantar Ekonomi, Pengantar Manajemen, Pembangunan Pertanian, Manajemen SDM, Teori Organisasi, dan Kebijakan Pertanian, diperkirakan jumlahnya ribuan. Kini mereka tersebar sebagai dosen. birokrat, anggota legislatif, peneliti, dan wirausaha. Kalau saya hitung paling tidak terdapat ratusan alumni IPB yang sudah berhasil sebagai akademisi dan pengamat sosial ekonomi tingkat nasional bahkan internasional seperti itu. Bahkan beberapa diantaranya sudah lebih awal menjadi guru besar dibanding saya. Tentunya salah satu unsur keberhasilan mereka adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh suprasistem yaitu semua dosen yang berdedikasi tinggi disamping karena kemampuan dan upaya mereka sendiri.

Sebagai dosen, saya bangga sekali dengan keberhasilan mereka. Tiada kata lain yang meluncur kecuali ucapan rasa syukur … yang menysukuri ni’mat-ni’mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (An-Nahl : 121). Kebanggan itu semakin bertambah ketika mereka membawa tambahan ilmu pengetahuan untuk dikembangkan, paling tidak di kampus IPB. Para mahasiswa baru tentunya semakin terbantu dan semakin kaya ilmu. Harapannya adalah mutu lulusan IPB semakin unggul.

Bagi saya, sebagai orang yang pernah menjadi guru mereka, sekarang tidak mau kalah untuk menimba ilmu … lalu saya “berguru” kepada mereka. Dalam kesempatan tertentu saya biasa meminta informasi buku ilmu ekonomi, organisasi dan manajemen apa saja yang mereka miliki. Dan tidak segan-segan saya minta diajari bagaimana menjelaskan dan menggunakan suatu teori dan model analisis mutahir yang belum saya ketahui. Saya butuh itu sekalipun dari mantan mahasiswa saya. Nah, itulah senangnya bekerja di perguruan tinggi. Tidak mengenal bentuk hirarki struktural dan fungsional. Yang ada cuma suasana kolegial. Tidak perlu ada sungkan. (17.02.06).

Iklan