Sudah cukup lama kita disuguhi tontonan di televisi dan bacaan di media cetak tentang kemarahan. Apakah itu terjadi pada individu ataukah masyarakat. Dari sisi individu terlihat bagaimana sang suami marah-marah dan menganiaya isterinya karena dianggap kurang perharian, cemburu, dan karena stres. Begitu pula Lihat saja ketika masalah yang berkait dengan pengangkatan rektor baru mahasiswa ada yang tidak setuju dan marah. Kalah suara dalam pemilihan mulai dari tingkat kepala desa sampai daerah dan nasional juga ada sebagian masyarakat yang marah. Kerusuhan anarkis pun merupakan ekspresi dari kemarahan. Penggusuran tempat-tempat PKL pasti disertai dengan kemarahan.
Nah di tingkat elit politik pun demikian. Bukan saja protes sana sini tentang masalah ketidakbecusan penyelenggaraan pemilu dan pilbup/pilwalikota tetapi juga dalam hal kecurangan dan manipulasi suara. Bahkan bukan itu saja coba kita lihat dalam tontonan rapat-rapat Pansus Angket Bank Century. Teriakan-teriakan seru antaranggota dan pimpinan rapat dengan anggota sudah menjadi konsumsi politik keseharian. Belum lagi ada yang ngambek sambil ngancam untuk mundur dari koalisi sudah menjadi berita dan tontonan harian. Pasalnya marah karena tidak menyetujui kebijakan salah satu partai,dsb. Ujung-ujungnya ngancam untuk diadakannya kocok ulang cabinet.
Marah merupakan fenomena emosi dari seseorang atau kelompok masyarakat karena ekspektasinya tidak dipenuhi oleh orang atau intansi tertentu. Kekecewaan karena tidak tercapainya ekspektasi adalah wajar. Namun ketika diikuti dengan kemarahan maka itulah yang menjadi pertanyaan besar. Bagaimana suatu bangsa bisa menjadi besar ketika ketidakdewasaan para elit politiknya dicerminkan dengan perilaku gampang mutung, ngambek, dan marah disertai mengancam. Kalau begitu apakah mutu SDM para elit politik cuma sebatas itu?. Padahal bukankah jalan keluar dari kekecewaan bisa dilalui dengan jalur introspeksi diri, mengelola diri, musyawarah dan hukum?. Saya percaya di antara kita masih banyak yang tergolong mampu menahan amarah murka.













nice article. like it
thx lowongan kerja
Artikel prof cukup baik. Hikmahnya mudah2an dapat memberi kontribusi untuk mendewasakan para elite dan bangsa kita untuk dapat ikhlas dalam menerima kenyataan hidup. Kalah dan menang bukanlah tujuan, tetapi tujuan kita hanyalah beribadah. Jika tidak ada kesempurnaan dalam ibadah dikembalikan kepada aturan dalam ibadah. Biasanya kembali kepada niatnya. Kecuali kalau memang niatnya “mau marah” lain lagi prof?? Kalau mutu SDM ya sdh jelas kan prof ukurannya. Tapi jangan katakan bangsa kita tdk bermutu lho (entar nanti sungguhan), tetapi lebih arif jika dikatakan bangsa kita masih perlu ditingkatkan mutunya!!! Now or never!! jangan pernah putus asa dalam bertausiah.
mas imam…alhamdulillah…. terimakasih atas tausyahnya yg sangat bermanfaat….kalau disimak saya tak menyimpulkan tentang bangsa kita…cuma beberapa indikasi saja untuk mengingatkan kita tentang celakanya suatu amarah yg tidak proporsional dan tanpa ilmu…saya optimis seperti anda baca pada kalimat terahir dalam artikel ini….salam
mas imam…alhamdulillah…. terimakasih atas tausyahnya yg sangat bermanfaat….kalau disimak saya tak menyimpulkan tentang bangsa kita…cuma beberapa indikasi saja untuk mengingatkan kita tentang celakanya suatu amarah yg tidak proporsional dan tanpa ilmu…saya optimis dan tak pernah dan tak pernah kenal putus asa…silakan simak dua kalimat terahir pada alinea terakhir dalam artikel ini….salam
yaa begitulah pak… Apa g ada lagi apa pemimpin bangsa yang bener2 pengen memajukan selangkah kedepan untuk bangsa ini.. Apakah mereka semua cuma mau ngantongin uang rakyat doang…. Gentong babi. Trimakasih pak. Saya ijin berkunjung
kondisi tontonan anarkhis ( melalui kata – tindakan ) yang bisa ditonton semua orang, sangat tidak mendidik generasi muda, bahkan hal tersebut menjadi contoh buruk yang tidak mustahil ditiru mereka. Sebagai guru yang harus menanamkan nilai-nilai, value, orang Jawa bilang “pelo ” Jangan salahkan guru ya …. jika siswa-siswa pada tawuran. Prof gimana ?
hmm begitulahh