Mana yang dipengaruhi dan manakah yang mempengaruhi? Ataukah saling mempengaruhi antara pelanggan dan karyawan? Sama saja kalau dipertanyakan apakah perilaku karyawan yang meningkat akibat meningkatnya jumlah pelanggan? Ataukah pertumbuhan pelayanan prima menyebabkan terjadinya pertumbuhan bisnis yang pada gilirannya bakal meningkatkan jumlah pelanggan? Dalam artikel ini hanya diuraikan bagaimana hubungan karyawan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan. Mekanismenya tidak cuma satu pendekatan. Contohnya, saluran distribusi baru yang disponsori oleh perusahaan Home Depot menjual produknya lewat internet sehingga memungkinkan dapat menjangkau pelanggan di rumah-rumah mereka. Contoh lain, merek yang sudah sangat dikenal dapat meningkatkan pertumbuhan bisnis; seperti yang dilakukan Hotel Marriot dengan cara menaikkan harga sebuah kamar. Pelanggan tidak merasa kecewa tetapi malah sangat senang karena para tamu diperlakukan dengan pelayanan oleh karyawan dengan lebih menarik lagi. Merek Mariot dipandang sebagai ukuran gengsi dan sekaligus ukuran kepuasan oleh para pelanggannya.
Visi pertumbuhan jumlah pelanggan berangkat dari sistem nilai yang terdapat pada pelanggan. Sebagai manusia, pada diri pelanggan pun dikenal adanya kebutuhan individual. Kebutuhan untuk dimanja atau diperhatikan. Kebutuhan untuk dilayani ketika pelanggan ingin memperoleh informasi. Karena itu ketika pengusaha akan menawarkan barang atau jasa kepada pelanggan harus berbasis pada perilaku pelanggan. Pelanggan ingin mengetahui secara persis apa karaktertistik dari produk yang ditawarkan. Apakah dari segi mutu, harga dan bahkan bagaimana proses memproduksinya. Karena itu inti nilai dari setiap transaksi datang dari nilai ekspektasi penerima yang lebih besar ketimbang dari pemberi. Kalau itu terjadi maka pelanggan akan terpikat untuk membeli produk yang ditawarkan.
Agar penawaran produk tertentu dapat berjalan mulus maka keseluruhan individu dalam perusahaan haruslah komit dalam melayani pelanggan. Dengan melayani secara prima melalui karyawan yang berdedikasi, suatu perusahaan cenderung akan mampu menambah jumlah pelanggan. Agar berlanjut maka perlu dicari pendekatan-pendekatan taktis bagaimana para pelanggan itu menjadi setia terhadap produk yang ditawarkan. Kalau dalam kasus hotel, misalnya hotel ANU, maka karyawan di tingkat barisan terdepan akan sangat menentukan keberhasilan perusahaan menggaet pelanggan yang baru. Di situ terjadi interaksi sosial secara langsung. Contohnya dengan karyawan yang bekerja sebagai penerima tamu, kounter, restoran, operator telepon, dan para pelayan kamar. Perlakuan ramah dengan senyuman tulus dari setiap karyawan, sabar dengan segala permintaan dan kadang-kadang dengan perlakuan yang kurang enak dari pelanggan, dan siap dengan memberi informasi akan memberi citra bersahabat. Pelayanan prima seperti itu sebenarnya akan menjadi informasi yang akan disampaikan pelanggan kepada teman sejawat dan kerabatnya. Di pikiran sang pelanggan, hotel ANU tersebut adalah yang terbaik yang pernah dia kunjungi. Isi pesannya biasanya berbunyi “kalau anda datang ke kota X, anda akan menyesal kalau tidak menginap di hotel ANU”. Nah jadilah apa yang dinamakan promosi jitu dan gratis. Masih banyak contoh lain,misalnya di sektor transportasi, rumah sakit, dan ekspedisi, yang pada dasarnya, memiliki prinsip-prinsip pelayanan prima terhadap pelanggan yang cenderung sama.
Peran pemimpin perusahaan akan semakin penting dalam mengembangkan pelayanan prima terhadap pelanggan. Alasannya karena dinamika perilaku pelanggan tidaklah statis. Tuntutan terhadap mutu produk berikut pelayanannya semakin tinggi. Karena itu pemimpin perusahaan harus terus mengembangkan strategi dalam menumbuhkan jumlah pelanggan dengan langkah-langkah: (1) mengidentifikasi para pelanggan kunci; (2) mendefinisikan ukuran keberhasilan pelayanan prima menurut kacamata pelanggan; (3) mengembangkan nilai-nilai pelayanan dan produk yang menarik kepada pelanggan; dan (4) meyakinkan pelanggan bahwa mereka mengetahui dan siap berbagi tentang nilai-nilai pelayanan prima yang dibutuhkannya. Untuk itu perusahaan khususnya para manajer harus terus menerus mengembangkan pengetahuan, sikap, dan kemampuan karyawannya dalam melayani pelanggan termasuk dalam menguasai soft skill dan bahasa asing.
April 18, 2011 at 1:29 am
Wah memang betul , pelanggan itu raja jadi segala sesuatu musti bercermin pada keinginan pelanggan. rasanya dengan membaca artikel ini saya lebih bisa memahami bagaimana semestinya kita memperlakukan pelanggan. oia pak mohon maaf, bolehkah saya dikirimkan artikel mengenai meningkatkan produktifitas SDM dan bagaimana menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
atas bantuanya terima kasih.
April 22, 2011 at 11:10 pm
dwi…kalau tidak salah dalam blog ini ada artikel yg menyangkut produktifitas SDM…silakan selusuri
April 18, 2011 at 3:20 am
Setuju pak..Karyawan dan pelayanan merupakan 2 (dua) hal yang terkait erat. Namun jika kita lihat, tidak semua bidang profesional kerja mengacu pada pelayanan. Kerap kali titik berat pelayanan difokuskan kepada bidang usaha jasa. Sesungguhnya pelayanan itu sendiri, bukanlah menjadi dominasi bidang usaha jasa saja melainkan kepada semua bidang usaha.
Disadari atau tidak, pelayanan yang diberikan seharusnyalah tidak hanya berfokus kepada pihak eksternal semata, melainkan kepada pihak di internal usahanya sendiri. Karena dengan memberikan pelayanan yang berkualitas diantara karyawan yang ada didalamnya maka “sikap untuk saling menghargai sudah terbangun”, sehingga pelayanan yang diberikan terhadap pelanggan (pihak eksternal) bukanlah hal yang “dipaksakan”. Keramahtamahan akan muncul dari ketulusan hati untuk memberi yang terbaik.
Menurut pendapat saya, pelayanan mempengaruhi terhadap karyawan itu sendiri dan pelanggan . Namun kadang kala tidak semua karyawan memahami mengenai “kualitas pelayanan di internal perusahaannya”. Bagaimana ya Pak untuk membuka pola pikir dan sikap ke arah sana?..
April 22, 2011 at 11:09 pm
betul mbak nelly…pelayanan tidak saja di bidang jasa saja…itu yg disebut pelayanan tak langsung…betul juga pelayanan yg dilakukan perusahaan khususnya oleh atasan termasuk pelayanan internal…agar supaya karyawan memahami tentang pentingnya pelayanan internal…perusahaan perlu melakukan sosialisasi,pelatihan,intensitas komuniukasi horisontal-vertikal,sistem umpan balik dsb…
Mei 14, 2011 at 6:28 am
sore pak, apa yang harus dilakukan oleh seorang manager hrd untuk bisa memberikan suatu kebanggan kepada karyawan sehingga bisa memenuhi angan-angan dari karyawan tersebut
Mei 16, 2011 at 10:14 pm
mbak dayu…antara lain mulai dari yg tampaknya kecil yakni ucapan terimakasih dan penghargaan dan atau koreksi setiap setelah karyawan selesai mengerjakan sesuatu…memberi kesempatan untuk mengembangkan ide dan mengambil keputusan sesuai dengan kapabilitas dan spesifikasi pekerjaannya…memberi peluang pengembangan diri lewat pelatihan dan menghadiri seminar atau lokakarya…membuka kesempatan berkarir…
Oktober 18, 2012 at 8:17 am
terima kasih atas ,materi yang ditampilkan karnanya aku bisa mengerjakan tugas kuliah dan saya sangat berharap situs ini lebih efektip dalam mengakses materi yang disapaikan sampai hari esok dan selalu berguna bagi nusa dan bangsa.
Oktober 31, 2012 at 7:49 am
alhamdulillah huzairi…semoga bermanfaat
November 12, 2012 at 2:16 pm
boleh kah ku bertanya pada kalian ?
soalnnya ini dengan masalah tugas aku
November 12, 2012 at 2:17 pm
plissss boleh ia aku bertanya soalnya tugas aku ga nggerti
November 28, 2012 at 8:10 am
nanya apa yuli?..apanya yg tidak dimengerti?
April 8, 2013 at 7:35 am
thats right
^-^
April 8, 2013 at 7:36 am
bettullll….
April 14, 2013 at 6:33 am
selamat siang pak,saya ingin bertanya. menurut anda mana yang paling penting antara karyawan dan pelanggan. ??
Mohon jawabannya ya pak
April 14, 2013 at 9:03 am
Maaf mba/bu Riri….ayahanda saya Prof Sjafri sudah berpulang ke rahmatullah tanggal 6 Februari 2013. Saya coba membantu menjawab. Menurut hemat saya keduanya sama2 penting. Jika tidak ada pelanggan, perusahaan tidak mempunyai revenue dan keuntungan. Sementara jika tidak ada karyawan maka pelanggan/customer tidak ada yang melayani atau tidak ada yang diproduksi. Sehingga perusahaan perlu mengelola dengan baik kepuasan karyawan dan kepuasan pelanggan. Terima kasih.