Ketika saya menjadi Ketua Senat Akademik IPB (2003-2008), di ruang sekertariat Senat Akademik IPB, persisnya di bagian teratas papan tulis besar, tercantum kata AMANAH. Kata itu diharapkan dapat mengingatkan siapapun yang masuk ke ruangan itu, akan pentingnya makna amanah. Khususnya untuk saya selaku Ketua Senat Akademik. Kata luhur itu tidak cukup dipandang, dikagumi, dan dipahami dalam bentuk ungkapan perasaan saja. Bahkan ekstremnya didiamkan seribu basa. Padahal perlu ditegakkan dalam bentuk nyata.
Amanah dalam konteks struktural formal merupakan kepercayaan yang diberikan institusi kepada seseorang. Dalam melaksanakan proses dan membuahkan hasil dari posisinya maka yang diberi amanah harus siap mempertanggung jawabkannya. Di dalamnya ada unsur ketaatan dan tanggung jawab duniawi sekaligus ukhrowi. Dalam bahasa agama, amanah mencerminkan kesesuaian dengan aturan dan peraturan Allah. Orang yang amanah takut akan murka Allah dan sanksi sosial jika yang bersangkutan ingkar.
Namun mengapa masih ada juga yang ingkar amanah dalam bentuk korupsi, haus kekuasaan, konflik kekerasan, dsb?. Apakah dia itu politisi, birokrat, petugas penegakan hukum-keamanan, masyarakat biasa dan bahkan mereka yang menyandang sebutan pemuka agama? Benarkah karena perilaku itu, di berbagai dimensi kehidupan, bangsa kita begitu terpuruk? Akibatnya bangsa kita kurang bermartabat di mata khalayak internasional? Tentunya juga di hadapan Allah yang menitipkan amanah? Padahal Allah berfirman, yang artinya:
”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat
itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia”
(Al Ahzab:72).
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Firman Allah lain, yang artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (An Nisaa’:58). Dan dalam hadits Rasulullah saw: "tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah baginya." Saya percaya kalau saja kesadaran akan amanah di setiap insan semakin tinggi, bangsa Indonesia akan semakin bermartabat. Amiiin.
April 2, 2011 at 2:18 am
beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di surat kabar dan membuat saya sadar akan cita-cita saya.
dalam keseharian, saya berusaha membantu orang lain dan saya sendiri masih blank akan apa yang saya lakukan..
sekarang saya sudah nenetapkan cita-cita saya untuk menjadi social entrepreneur
dan kewajiban saya untuk menjalankan amanah, memberikan kesejahteraan untuk orang disekitar saya
terima kasih pak sjafri
April 4, 2011 at 11:37 pm
cita-cita mulia chandra…orang yg berhasil adalah orang yg dapat memberikan manfaat semaksimum mungkin buat orang banyak…bravo
Mei 18, 2011 at 7:23 am
Terima kasih banyak bisa menambah ilmu dari Bapak…smoga bisa bermanfaat bagi masayarakat awam seperti saya….sekali lagi terima kasih atas artikelnya…
Mei 22, 2011 at 9:05 pm
mas aris…terimakasih kembali…semoga bermanfaat