Kebahagiaan abadi merupakan idaman tiap orang beriman. Ia merupakan fungsi dari faktor cinta sejati. Pertanyaannya, untuk apa dan kepada siapa cinta sejati itu dicurahkan? Apakah hanya cinta pada seorang kekasih, cinta pada harta, ataukah cinta pada tahta? Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Ali Imran; 14).

       Namun Allah mengingatkan cinta pada kesenangan hidup dunia semata akan banyak bahayanya……dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (al-Aadiyaat; 8). Aidh bin Abdullah al-Qarni melukiskan kisah cinta Majnun kepada Laila begitu sangat terkenal. Cinta Majnun kepada Laila telah membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Qanan, dibunuh oleh cintanya kepada kekayaan. Sementara itu Firaun terbunuh oleh cintanya kepada jabatan dan kekuasaan. Di sisi lain, Hamzah, Jafar, dan Hanzalah rela mati demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya.

        Kalau begitu, cinta sejati itu selayaknya kepada siapa? Ya kepada sesama dengan semata-mata karena berharap ridho Allah. Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (al-Maidah; 54). Rasulullah bersabda: Barang siapa tidak menyayangi sesama manusia maka Allah tidak akan menyayanginya (HR. Bukhori dan Muslim).

        Gambaran cinta sejati seperti itu dilukiskan Syamsul Rijal Hamid (Buku Pintar Hadits; 2006) dalam sabda Rasulullah: bahwa ada seorang lelaki pergi mengunjungi saudaranya yang bermukim di suatu negeri yang jauh dari tempat tinggalnya. Maka Allah SWT menyuruh malaikat untuk menemaninya selama dalam perjalanan.

Malaikat bertanya kepada lelaki itu, “ Akan kemanakah engkau?”.

“Mengunjungi saudaraku di suatu daerah.”

“Apakah engkau berkunjung karena berhutang budi kepadanya?” tanya malaikat itu lagi.

“Tidak,” tegas lelaki tersebut. “Sebab aku mencintainya semata-mata karena Allah ta’ala.”

Malaikat itu berterus terang, “Sungguh, Allah SWT mengutusku untuk menemanimu disebabkan cintamu kepada saudaramu semata-mata karena-Nya.” (HR. Muslim).