Oleh: sjafri mangkuprawira | November 15, 2009

PENTINGNYA MODAL SOSIAL DALAM PERUSAHAAN

 

         Untuk menjalankan bisnisnya, perusahaan pasti menggunakan beragam modal. Bisa berbentuk modal finansial, teknologi, modal manusia (sumberdaya manusia), dan modal sumberdaya alam. Dalam prakteknya modal-modal di atas tidak menjamin perusahaan akan meraih keuntungan maksimum. Dengan kata lain setiap investasi belum tentu akan menghasilkan return on investment yang diharapkan. Karena itu masih dibutuhkan bentuk modal lainnya yakni modal sosial. Bentuk modal ini bukan saja berfungsi sebagai aset perusahaan tetapi juga sebagai instrumen sekaligus tujuan dalam pengembangan perusahaan. Dengan demikian agar perusahaan bisa berkembang maka pertanyaannya bagaimana memertahankan dan meningkatkan modal sosial agar semua bentuk modal lainnya memiliki manfaat maksimum.

        Modal sosial dalam perusahaan dicirikan oleh adanya interaksi sosial timbal balik diantara karyawan dan manajemen dan antarsesama keduanya. Bentuk interaksi itu didasarkan pada adanya rasa percaya sesama yang mengakar dalam suatu budaya organisasi dan etika sosial. Karena ada rasa percaya maka timbul suatu entitas karyawan (manajemen dan non-manajemen) yang  memiliki kebersamaan tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, dan pentingnya kerja keras-cerdas. Karyawan menunjukkan kesediaan individunya untuk mengutamakan keputusan entitas perusahaan. Pertanyaannya apakah setiap perusahaan otomatis memiliki cirri-ciri modal sosial seperti itu?

        Terbentuknya modal sosial sangat bergantung pada mutu sumberdaya manusia para karyawannya. Dalam prakteknya bisa jadi mutu mereka berbeda-beda. Baik dilihat dari segi budaya, latar belakang sosial ekonomi keluarga, pendidikan, ketrampilan, kecerdasan (intelektual,emosional, dan spiritual), kepemimpinan, dan pengalaman kerja. Karena modal sosial berperan sebagai unsur perekat para karyawan dalam melaksanakan visi dan misi organisasi untuk mencapai tujuan organisasi maka dibutuhkan sumberdaya manusia yang bermutu.

        Mutu SDM sangat penting untuk mengembangkan modal sosial perusahaan. Setiap karyawan harus memahami bahwa modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, dan bertanggungjawab. Selain itu dengan semakin meningkatnya mutu SDM diharapkan akan semakin terbentuknya rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggungjawab akan kemajuan bersama. Karena itu setiap perusahaan seharusnya terdorong untuk membangun dirinya sebagai organisasi belajar. Yakni suatu organisasi di mana para anggota dari suatu organisasi secara terus menerus memperluas kemampuannya untuk berkeinginan belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Dalam hal ini pemimpin perusahaan memegang peranan penting dalam mengembangkan modal sosial di perusahaannya.

       Kepemimpinan trasformasional, demokratis, dan kepemimpinan partisipatif di kalangan manajemen khususnya manajemen puncak cenderung akan mampu menstimulus para karyawan dalam memercepat struktur modal sosial dalam bentuk pengembangan visi bersama. Selain itu kepemimpinan seperti itu berpengaruh pada terbentuknya saling percaya di kalangan karyawan. Dengan demikian hubungan harmonis di antara karyawan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun tim kerja yang efektif. Pada gilirannya modal manusia yang bermutu dan modal sosial yang utuh akan mampu meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan.


Tanggapan

  1. Bapak Prof. Sjafri Yth.
    Modal sosial dalam perusahaan, topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan dan dibahas oleh para manajemen dan karyawan-walaupun banyak yang mengerti tapi kami yakin tidak mudah untuk dipraktikkan, seperti yang disampaikan oleh Bapak Prof. Sjafri modal sosial yang kuat dan utuh akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Kita semua berharap agar apa yang ditulis hendaknya dikerjakan, seia sekata antara ucapan dan perbuatan-tapi kenapa ya pak?banyak pemimpin yang ingin dimengerti tapi tak mau mengerti-ingin dihormati tapi tidak mau menghormati-ingin perusahaan untung tapi tak mau berkorban-siap menang tapi tak siap kalah-lalu bagaimana sebaiknya sikap karyawan?terus bekerja dan berkarya atau pasrah pada keadaan.

    • ya bung barika…beberapa contoh modal sosial adalah konsisteni…saling percaya…dan saling bekerja bersama dlm kelompok….satunya kata dgn perbuatan….kerterbukaan…dsb

  2. saya print saja pak, habis kalau baca di kompie membuat mata sakit……

  3. Ass.ww.

    yth Pak Syafri,
    lama tak sua pak, semoga sehat selalu, amin.

    pak, kalo boleh saya menambahkan. selain faktor leadership yang demokratis dan partisipatif agar terjadinya sosial relation yang baik antara manajemen (pimpinan) dengan para karyawannya, perlu juga perusahaan memberikan entertain kepada para karyawannya. misalnya; outbond atau outing. ini cukup terbukti membangun hubungan baik, kepercayaan dan kebersamaan tentunya. selain itu juga, dapat meminimalkan kejenuhan bekerja.

    memang sangat perlu difahami oleh perusahaan sebagai pengguna jasa, bahwa karyawan yang tenaganya sedang dipergunakan adalah manusia yang juga butuh entertain.

    wass.
    alida

    • sependapat alida…utamanya ada dua sisi yakni…penyegaran dalam bentuk memertahankan dan meningkatkan modal sosial yg sudah ada…dan kedua pemulihan dalam membangun modal sosial yg cenderung semakin menurun….dan ini sebaiknya berlangsung kontinyu….tanpa meninggalkan pendekatan konvensional yakni pertemuan-pertemuan rutin dlm kerangka proses pembelajaran dan menjalin hubungan sosial….baik formal maupun informal….

  4. corporate sosial response (CSR) merupakan spiritual capital yang mengantarkan setiap orang/usaha menjadi manfaat dan maslahat.

    tulisan yang amat inspiratif pak. terutama bagi kaum muda seperti kami.

  5. Prof. Sjafrie yth :
    Saya sependapat dengan Prof. Tapi dalam prakteknya, kita terjebak dalam kondisi ” lebih dulu mana ayam atau telur ” . Itikad baik ini dimulai dari mana. Share holder, Top Management atau employe. Jauh lebih baik, jika modal sosial ini menjadi semacam company’s culture yang menjadi spirit untuk mengikat seluruh komponen perusahaan menuju tujuan perusahaan. Untuk mewujudkan ini, running start ada di Top Management. Saya ibaratkan darah dalam tubuh manusia, spirit ini bersirkulasi melalui jaringan struktural dengan sempurna. Dengan begitu, modal sosial ini akan menjadi perekat diantara komponen perusahaan sehingga dapat berintegrasi secara efisien dalam mencapai tujuan perusahaan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori