Oleh: sjafri mangkuprawira | November 8, 2009

BENCI DAN KERUSUHAN

 

         Siapa diantara kita tak pernah punya rasa benci kepada orang lain? Sifat benci atau tak suka pada orang lain sepertinya merupakan fenomena alami. Itu dapat terjadi pada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Yang beda cuma derajatnya. Beberapa contoh bentuk penyebab kebencian individu pada orang lain antara lain karena ditipu atau dihianati, benci karena diputus cinta, benci karena dimarahi, benci karena diberlakukan tidak adil, benci kepada musuh bebuyutan, benci karena tidak diberi perhatian, benci karena teraniaya, dsb. Kalau sifat benci dibiarkan bahkan dipelihara, maka secara potensial akan lahir sifat dendam. Kecuali… benci tapi rindu.

        Kerusuhan antaragolongan masyarakat, sebagai konflik sosial, yang terjadi selama ini sering diawali oleh suatu kebencian. Mulanya timbul dari kebencian individual,misalnya bentrokan individu dan perebutan aset lahan. Lalu berkembang menjadi solidaritas kebencian dan akhirnya menuai kebencian massal. Kebencian massal terhadap penguasa yang tidak adil; terhadap pengusaha yang zolim; terhadap kelompok suku, ras bahkan agama tertentu; dan terhadap pengikut golongan atau partai politik tertentu,dan bahkan hanya karena pertengkaran antarapemuda beda kampung adalah beberapa contoh yang acap menimbulkan kerusahan yang parah.

        Kita tentunya tidak ingin bangsa Indonesia tergolong sebagai masyarakat pembenci sekaligus perusuh sosial. Walau jargon indahnya hidup rukun dan damai sudah kerap diungkapkan tetapi kebencian massal masih sering juga terjadi. Dalam hal ini agama sangat mengingatkan tiap manusia yang beriman untuk tidak bersifat benci. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu (adh-Dhuhaa; 3). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (al-Kautsar; 3). Allah menambahkan dengan firmannya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujuraat; 10).

        Salman r.a mengabarkan, Rasulullah bersabda: Apabila orang berpura-pura saling mencintai, padahal sesungguhnya saling membenci dengan hati dan saling memutuskan hubungan kasih sayang, maka Allah mengutuk mereka (HR.Thabrani). Kalau ada yang benci kepada orangtua pun Rasulullah memberi peringatan keras dengan sabdanya: Janganlah kamu membenci bapakmu. Siapa yang membenci bapaknya maka dia kafir (HR.Muslim). Ya Allah ampunilah kami atas kekhilafan kepada orangtua kami. Sayangilah orangtua kami sebagaimana halnya mereka selalu menyayangi kami. Amin.


Tanggapan

  1. Allah saja tidak pernah membenci umat-Nya, meskipun berdosa pada-Nya. Apakah karena manusia merasa unggul karena diberi akal dan pikiran, sehingga selalu merasa paling benar? Semoga kita tidak termasuk dalam golongan umat seperti itu. Amin..

    Salam kenal dari barudak Blogor (baru) Pak…

    • …ya bung asep….orang seperti itu termasuk orang yg tak mampu memahami konsep dirinya…sebagai mahluk allah….yg seharusnya tawadhu….rendah hati…kecil dengan rasa benci

  2. saya benci kalau cinta saya di tolak pak..
    hehehhehe
    siap-siap mancing du empangnya pak sjafri lagih.. mau balas dendam kemaren ga dapet ikan sama sekali..

    • …hahaha falla…lain dengan benci tapi rindu ya…oke kita ketemu di tempat mancing desember ini….

  3. selayaknya tugas kita
    memang menebarkan cinta
    toh meski pun datang kebencian
    semestinya kita mampu tuk segera meredam
    karena jika dibiarkan
    yang kan ditimbulkan adalah keburukan

    bukan begitu Pak? :)

    • betul kang achoey…mereka yg memiliki buruk sangka alias kebencian…ditinjau dari sosiopsikologis, termasuk kahlayak yg sedang kurang sehat…perlu terapi agama dan psikologi sosial

  4. Berbicara tentang benci membenci, saya pikir Kebencian pada suatu golongan mungkin disebabkan oleh trauma masa lalu.Menurut saya kebencian seseorang kepada orang lain disebabkan oleh kekurang-fahaman orang yang bersangkutan kepada orang yang dibenci.sangat benar disebutkan dalam pepatah.Tak kenal maka tak sayang… Klo kita tidak mengenal maka kita lebih cenderung membenci orang tersebut.Demikian pula halnya,kerusuhan dalam masyarakat lebih disebabkan oleh provokasi oleh pihak tertentu yang menginginkan sesuatu dari komplik tersebut.Beberapa kompilk yang terjadi berujung pada penyesalanyang tiada hingga. Kata pepatah “menang jadi abu, kalah jadi arang”. Capek deh ngurus orang yang berkomplik…KOnsep yang kita ciptakan dan kita kembangkan adalah mari kita mengenal dan dikenal, saling silaturahmi, saling membuka mata dan telinga kita bahwa Negeri Kita dari Sabang sampai Merauke adalah negeri Besar yang harus kita besarkan semangat persatuan dan kesatuan, dengan berbagai macam keragamannya. Perlu kita wujudkan toleransi yang lebih optimal dan maksimal.

    • sependapat bung lara….tanamkanlah jiwa NKRI….di seluruh persada indonesia ini….kebencian jauh lebih merugikan ketimbang kedamaian….

  5. Baru kemaren ngerasa kesel karena dimarahi orangtua . Masih belum mau terima 100% kalau emang pokok masalahnya itu saiia (dasar anak sma).

    Tapi akhirnya barusan ‘kena’ di kalimat-kalimat terakhir yang ditulis Pak Sjafri.. semakin benci banget aja sama orangtua saiia (benci= benar-benar cinta :D )

    • ya PeGe….sikap yg biasa terjadi pd kaum remaja…ketika sang ortu memarahinya dan ada rasa kesal…lambat laun bisa berubah kok…karena berubahnya persepsi dari memandang kemarahan ortu sebagai kebencian pd anak…padahal itu sebagai tanda cinta….dan anda sudah berusaha seperti itu…yakni semakin cinta sama ortu anda…

  6. ini yang saya bilang, bapak memang mirip ayah saya…segala sesuatu dihubungkan dengan agama…sungguh mirip ayah apabila menasihati saya…saya hanya ingin mnambahkan menurt pengalaman saya…

    benci erat kaitannya dengan perasaan/hati/kontrol emosi…latih kontrol emosi dan hawa nafsu untuk melawan sifat benci…example:puasa or something
    jangan sedih ditinggal kekasih karena suatu saat anda mungkin akan berkata “untung saya tidak menikahinya”

    wasalam

    • betul bung brian…marah itu temannya setan….walau menghilangkan emosi itu tidaklah mudah…namun selalu kita diminta untuk memerkecil emosi…dekat dengan Allah….ketika ada masyarakat yg mudah membenci lalu timbul kerusuhan…itu pertanda adanya modal sosial negatif…primordialisme dan antipati plus saling curiga…bisa membawa resiko ongkos sosial yg mahal….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori