Oleh: sjafri mangkuprawira | Oktober 24, 2009

MENGAPA PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

 

       Setiap sistem pelatihan yang bermakna harus terintegrasi dengan strategi SDM dalam perusahaan jika ingin hal itu terlaksana secara efektif. Contohnya, integrasi dengan hal penilaian kerja, promosi, atau sistem pembayaran upah/gaji. Integrasi ini membantu pula untuk meyakinkan bahwa bantuan strategi pengembangan akan mendukung strategi personil lainnya.

       Apa saja maksud umum dari program-program pelatihan untuk para karyawan di lingkungan manjerial dan lingkungan terdepan? Menurut Michael R. Carrell et al (1995), ada tujuh maksud utama program pelatihan dan pengembangan, yaitu memperbaiki kinerja, meningkatkan ketrampilan karyawan, menghindari keusangan manajerial, memecahkan permasalahan, orientasi karyawan baru, persiapan promosi dan keberhasilan manajerial, dan memberi kepuasan untuk kebutuhan pengembangan personal. Sehubungan dengan itu, uraian tentang pelatihan dan pengembangan secara eksplisit tidak dipisahkan. Keduanya diuraikan menyatu karena keduanya sangat saling mengait. Pada dasarnya pelatihan itu sendiri merupakan bentuk pengembangan SDM.

       Pelatihan berbasis kompetensi diperlukan karena secara tradisi atau konvensional pelatihan yang selama ini terjadi hanya menghasilkan peserta pelatihan yang hanya memiliki pengetahuan apa yang harus dilakukannya. Sementara model yang berbasis kompetensi, peserta setelah selesai mengikuti pelatihan diharapkan tidak saja sekedar tahu tetapi juga dapat melakukan sesuatu yang harus dikerjakan.

       Dalam sistem berbasis kompetensi, pelatihan untuk karyawan difokuskan pada kinerja aktual khususnya kinerja organisasi. Latar belakangnya adalah karena semakin tingginya tuntutan dalam perbaikan manajemen kinerja dan pengukurannya yang lebih efektif. Sistem ini ada yang berorientasi pada standar yang dilakukan industri. Ada juga yang berorientasi pada kinerja unggul yang dikaitkan dengan ketrampilan lunak dan kompetensi lunak. Sementara dalam model pelatihan tradisional setiap peserta akan mengikuti pelatihan yang sudah dirancang. Kemudian agar supaya kinerja pembelajaran dapat diketahui maka peserta melakukan pre dan post test yang sudah dirancang. Setelah selesai pelatihan para peserta akan mendapat sertifikat atau piagam.

       Dalam sistem pelatihan berbasis kompetensi tahap awal yang harus dirumuskan adalah fungsi-fungsi apa yang harus dilakukan karyawan dengan baik. Dari uraian tersebut maka suatu pelatihan dirancang agar peserta/karyawan dapat menjalankan fungsinya sesuai standar. Selain agar karyawan dapat berfungsi dengan baik maka mereka dapat belajar di tempat kerja atau dengan sarana lain. Setelah itu peserta pelatihan akan mendapat pengakuan kemampuan mengerjakan fungsi-fungsi standar berupa sertifikasi.


Tanggapan

  1. Pak Sjafri yang baik,
    Apa kabar, mudah-mudahan Bapak dan keluarga dalam keadaan baik dan sehat serta dalam perlindungan Allah SWT. Amin.
    Menarik artikel Bapak mengenai pelatihan berbasis kompetensi, saya setuju dengan program tersebut. Terlebih jika dikombinasikan dengan talent-based competence development system. Untuk itu sebaiknya diawali dengan talent-based recruitment system untuk mendapatkan potential candidate yang mempunyai kapabilitas dari potential talent-nya. Jika karyawan mempunyai talent, maka karyawan yang beraktivitas dengan talent-nya akan memiliki kemampuan belajar yang cepat, bekerja lebih cepat dan menghasilkan output yang lebih baik serta bisa bertahan lebih lama sehingga tidak “mangkir” dari tugasnya.
    Memang tidak mudah untuk menggali atau mengenali talent karyawan karena talent tidak terlihat (dibawah permukaan, iceberg view), namun competence lebih mudah terlihat. Mengenali talent akan diawali juga dengan mengenali kepribadiannya, banyak tools untuk hal ini. Dalam ilmu psikologi kita mengenail adanya Test Ro (ditemukan oleh Hermann Roscharch, Swiss physician 1884-1922) atau juga dengan test MBTI (Myers Briggs Type Indicator), MBTI didasari dari teorinya Carl Gustav Jung 1875-1961, dengan melakukan test personality dari dikotomi antara ektrover-introvert; sensing-instuition; thinking-feeling; judging-perceiving. Dari kombinasi dikotomi 4 aspek tersebut, dapat dikenali personality dan kemudian digali talent-nya. Dengan pelatihan berbasis kompetensi dan trainee mempunyai talent, akan menghasilkan world-class competence people.
    Salam,
    Jeffrey

    • bung yeffrey…alhamdulillah saya baik-baik saja…semoga anda pun demikian…khususnya studi anda….terimakasih telah memerkaya artikel praktis dgn sisi fundamen teorinya….salam….

  2. PELATIHAN YG PENTING…

  3. Prof Sjafrie yth :

    Pelatihan berbasis competence ini akan jauh lebih efektif, jika semua divisi dalam company memiliki beban & tanggung jawab mengenai hal ini. Di beberapa company, Pelatihan-pelatihan ini mutlak menjadi tanggung jawan HRD. Jika ini terjadi, Pelatihan masih bersifat makro/general. Menurut hemat saya, HRD memposisikan diri sebagai partner & fasilitator bagi all divisi. Jika masing-masing manager divisi “mengetahui” teknik dalam menyusun program trainning, mulai dari TNA, Present, Evaluasi. Materi & sasaran Trainning bisa lebih detail & spesifik.
    Problemnya Prof … manager-manager divisi terkadang tidak mau direpotkan oleh hal-hal seperti ini. Padahal mereka memiliki tanggung jawab couching & empowerment.
    Salam,
    Dedy Londong


Beri tanggapan

Your response:

Kategori