Menjelang lebaran tiba mobilitas penduduk yang pulang mudik meningkat. Tahun ini saja diperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 22 juta jiwa. Setelah usai lebaran jumlah yang kembali ke tempat kediamannya di kota cenderung bertambah. Tambahan itulah sebagai fenomena urbanisasi. Jumlahnya belum ada yang bisa memastikan. Tetapi masalah yang lebih penting perlu diatasi adalah mengapa urbanisasi selalu terjadi dari waktu ke waktu. Walau sudah ada peraturan daerah, misalnya, tetapi kenyataannya tidak mudah dicegah atau bahkan dilarang. Mereka menganggap setiap warga negara punya hak untuk tinggal dimanapun di seluruh wilayah nusantara.

      Urbanisasi adalah fenomena migrasi yakni perpindahan penduduk dari daerah perdesaan ke perkotaan. Tujuan utamanya untuk tinggal menetap di kota. Mereka memiliki harapan bahwa mutu hidup di perkotaan bakal lebih tinggi ketimbang di tempat asalnya di desa. Fenomena ini sudah menjadi hal rutin di sebagian besar negara-negara sedang berkembang dan menjadi masalah yang pelik. Penyebab pokoknya secara makro nasional adalah terjadinya disparitas atau ketimpangan pembangunan antara perkotaan dan perdesaan. Termasuk di dalamnya persebaran penduduk yang tidak merata. Sering disebut sebagai pembangunan yang bias urban.

      Ada gula ada semut. Semut akan berbondong-bondong ke arah asal gula yang manis itu. Begitu juga dengan perilaku penduduk. Mereka akan mendatangi sumber penghidupan baru yang lebih menjanjikan. Mengapa seperti itu? Dalam prakteknya, ada dua faktor utama terjadinya urbanisasi yakni faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik antara lain bahwa di perkotaan (1) ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih lengkap; (2) peluang melanjutkan pendidikan yang lebih besar; dan (3) jenis lapangan kerja lebih banyak dan bervariasi. Sementara faktor pendorong menunjukkan di perdesaan tampak rendahnya tingkat pertumbuhan pembangunan di perdesaan yang dicirikan antara lain (1) lapangan kerja yang terbatas; (2) kemiskinan; (3) keterbatasan sarana dan prasarana transportasi, ekonomi, pendidikan dan kesehatan; dan (4) keterbatasan lahan pertanian perpenduduk terutama di pula Jawa.

       Memang urbanisasi pasti mendatangkan masalah. Tiap penduduk urban berebutan untuk mendapatkan lapangan kerja, layanan fasilitas umum, perumahan, air bersih dan listrik, ketersediaan pangan, dsb. Belum lagi timbulnya kemacetan lalulintas dan tindakan kriminalitas serta banyaknya pengemis musiman ataupun pengemis tetap. Karena tidak mudah diatasi maka apakah yang terpenting sebaiknya memerkecil dampak urbanisasi lewat mengoptimumkan penduduk sebagai potensi pembangunan. Atau idealnya melakukan pembangunan di tempat asalnya yakni perdesaan. Kedua pendekatan itu seharusnya bisa dilakukan secara paralel.

       Pendatang memang bisa menimbulkan masalah yang semakin kompleks di perkotaan. Mengatasinya sangatlah tidak mudah. Jadi yang bisa dilakukan adalah memerkecil masalah akibat kehadiran mereka. Pelatihan-pelatihan yang berkait dengan ketrampilan usaha dan kerja, penyuluan tentang kedisiplinan social, penyuluhan lingkungan hidup, pemberian modal usaha, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diharapkan dapat memerkecil masalah sosial ekonomi yang ada.

     Sementara itu di daerah perdesaan perlu dikembangkan lokalita-lokalita pertumbuhan. Fungsinya sebagai penyangga pusat pertumbuhan. Intinya bagaimana daerah perdesaan lambat laun memiliki daya tarik tersendiri bagi penduduknya untuk tetap betah tinggal di desa. Untuk itu penyediaan sarana dan prasarana pembangunan menjadi syarat utama. Selain itu diperlukan pengembangan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Untuk mengembangkan usaha sekaligus menciptakan lapangan kerja maka sesuai dengan karakteristik SDM dan sumberdaya alamnya perlu dikembangkan produk-produk perdesaan (pertanian, agroindustri, dan nonpertanian) dengan dukungan pelatihan produksi dan pemasaran, fasilitas teknologi, kredit usaha, dan pasar. Dengan demikian secara gradual pertumbuhan ekonomi perdesaan yang berbasis pemerataan akan semakin tinggi dan sekaligus akan mencerminkan semakin kecilnya jurang perbedaan kehidupan perkotaan dan perdesaan. Diharapkan pada gilirannya, “Sang semut cukup mencari gula di lingkungannya sendiri”.

About these ads