Oleh: sjafri mangkuprawira | September 10, 2009

BELAJAR DAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT

 

         Sudah menjadi pemandangan biasa kalau di jalanan umum kebanyakan para supir kendaraan umum berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang semaunya saja. Kalau perlu di tengah jalanan. Belum lagi kebut-kebutan yang menggangu penumpang dan pengguna jalan lainnya. Tidak ada lagi bekas-bekas tes mendapatkan surat ijin mengemudi dan efek jera dari hukuman kalau melanggar lalu lintas. Sudah menjadi hal biasa pula kalau sebagian dari kita tidak bersabar untuk mendapatkan sesuatu di layanan umum tanpa ngantre. Padahal kalau disiplin dalam mengantre semua bisa berjalan rapi dan lancar. Masih ingatkah kita bagaimana suatu keadaan krisis muncul beberapa kali namun penangannya tetap saja tidak pofesional. Tidak belajar dari masa lalu. Di sudut lain ada fenomena kriminalitas seperti korupsi dan penjarahan hutan dan pertambangan. Seharusnya sudah tahu bahwa perbuatan itu sangat tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab. Tetapi toh masih dilakukan juga. Apalagi itu tidak jarang dilakukan kaum terpelajar dan tahu tentang hukum.

         Nah gambaran yang berikut ini juga tidak jarang ditemukan. Yakni ketika sedang menanti sesuatu di tempat umum tidak banyak ditemui orang-orang yang sedang membaca. Lebih banyak diam melamun, gurau canda dan atau asyik merokok ketimbang memanfaatkan waktu luang untuk memerluas wawasan. Kemudian ketika di dalam kelas, tidak banyak murid dan atau mahasiswa yang aktif untuk bertanya apalagi menyanggah apa yang disampaikan oleh guru atau dosennya. Cenderung malas berespon. Hal ini juga terlihat dari rendahnya rasa ingin tahu atau penasaran tentang sesuatu. Padahal sifat itu sebagai indikasi seseorang terdorong meneliti setiap fenomena yang ada di bumi ini. Karena itulah Indonesia masih tertinggal dalam temuan-temuan ilmu dasar dan terapan. Di sisi lain masih jarang guru dan dosen yang memperbaharui mutu sumberdaya manusianya, bahan dan metode mengajarnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula kurang dikaitkan dengan kebutuhan pemangku kepentingan internal dan eksternal.

        Dari gambaran kualitatif di atas apakah dengan demikian bangsa Indonesia masih jauh sebagai masyarakat belajar? Tampaknya begitu. Coba kita lihat dari ukuran kuantitatifnya. Kalau ditambah dengan ukuran angka melek huruf maka kita memang belum termasuk golongan itu. Laporan Pembangunan PBB (2005) menunjukkan sebanyak 12.1 % masyarakat Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas tidak bisa membaca dan menulis. Dibanding Vietnam dan Myanmar saja posisi kita tertinggal. Kemudian laporan PBB (2008) tentang pembangunan manusia, indeks yang diukur dari angka harapan hidup, angka "melek huruf", rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita riil penduduk Indonesia menduduki peringkat ke 108 dari 177 negara di dunia. Berdasarkan Human Development Report dari UNDP, Human Development Index (HDI) Indonesia tahun 2007/2008 menempati peringkat 107, dua peringkat di bawah Vietnam. Indikator dari HDI meliputi pendapatan perkapita, akses terhadap pendidikan dan akses terhadap kesehatan. Artinya, dengan peringkat HDI Indonesia tahun 2007/2008 tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Sekaligus juga mencerminkan masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat belajar.

         Kalau belum menjadi masyarakat belajar mengapa proses pembelajaran relatif tak sepenuhnya bermanfaat bagi perbaikan perilaku keseharian masyarakat? Jawabannya pasti panjang. Bisa jadi proses pembelajaran formal selama ini lebih menekankan pada pencapaian domain kognitif saja dengan sasaran nilai IQ tinggi. Namun mengabaikan pembentukan sikap lewat pendekatan ketrampilan lunak. Sementara itu proses pembentukan kehidupan yang berlangsung lama sepertinya hanya dipandang buah dari pembelajaran lewat jalur formal saja. Padahal tidak seperti itu. Pembelajaran juga harus dilengkapi lewat jalur informal yakni proses pembentukan pengalaman bersinambung. Hal ini mengingatkan kita pada filosof Aristoteles yang berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa. Dia mengumpamakan sebagai sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. John Locke (1632 – 1704), tokoh empirisme Inggris, menerjemahkan paham Aristoteles bahwa pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman sebagai jalan ke penguasaan pengetahuan.

         Dengan perbaikan proses pembelajaran mulai dari tingkat sangat dasar (pendidikan usia dini), dasar, menengah sampai tingkat perguruan tinggi termasuk pendidikan luar sekolah maka lambat laun masyarakat belajar akan terujud. Suatu masyarakat yang dicirikan oleh; keinginan untuk belajar secara bersinambung; rasa ingin tahu yang tinggi; memiliki daya kritisi, inovasi dan kreatifitas tinggi, memiliki akses internet yang luas; gemar membaca referensi ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengetahuan umum; dan memiliki wawasan tentang hidup dan kehidupan yang luas. Hal itu dapat dilakukan dengan pendekatan pendidikan buat semua melalui pengembangan kurikulum termasuk metodenya, dana dan fasilitas belajar termasuk laboratorium dan perpustakaan, dan kompetensi guru dan dosen sejalan dengan kebutuhan pasar kerja dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

        Selain itu jangan diabaikan pendidikan di dalam keluarga sebagai sentra dimulainya pembentukan masyarakat belajar. Sebagai sistem sosial terkecil kepala keluarga diharapkan mampu menanamkan pentingnya pendidikan di kalangan anggota keluarga. Keluarga merupakan lingkungan budaya yang seharusnya mampu melakukan transformasi pembelajaran sepanjang hayat untuk mengembangkan norma dan kebiasaan yang penting bagi kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. Di tingkat keluarga perlu ditumbuhkan kegemaran membaca, berbagi pendapat, rasa ingin tahu, kreatifitas, kolaborasi, dan jiwa inovatif.


Tanggapan

  1. Aslm. Pak. judul tulisan Bapak ini mengingatkan saya mengenai pesan Bapak saat kuliah bahwa kita harus senantiasa belajar dan belajar sampai akhir hayat.
    Saya juga turut prihatin Pak dgn kondisi sebagian generasi muda Indonesia yg masih belum menghargai waktu, padahal dgn kondisi bangsa yg terpuruk ini seharusnya mereka sadar bahwa mereka harus belajar dan bekerja lebih keras agar dpt berkontribusi untuk membangun bangsa ini.
    Saya juga melihat, saat ini banyak teman-teman di kampus yg kurang memiliki inisitif untuk menggali lebih dalam lagi ilmu dan pengetahuan. Sebagai contoh, perpustkaan selalu sepi dr pengunjung. Saat di kelas, malas bertanya kepada dosen. Saat seminar, tujuannya hanya untuk menuhin kartu seminar, jrg ada yg punya inisiatif bertanya atau memberikan tanggapan.
    Apakah ini gejala menurunnya semangat belajar generasi muda Indonesia, Pak?

  2. bung fres…kalangan institusi pendidikan pun seharusnya melakukan evaluasi pembelajaran yg konseptual dan total…baik itu tentang sistem atau pola pembelajarannya…yakni ttg kurikulum,metode, dan mutu sdm dosen, dan fasilitas pembelajaran yg ada….plus pentingnya sosialisasi keluarga…

  3. Artikel ini merupakan refleksi ajaran islam belajarlah sampai liang lahat.Tak pernah kenal berhenti belajar.

  4. Saya sependapat mulailah budaya belajar itu dimulai dari pendidikan di tingkat keluarga.Sering disebut sebagai sosialisasi keluarga. Untuk itu orangtua berperan sentral agar suasana belajar selalu nyaman dengan keteladanannya.

    • ya mbak kur…tinggal lagi bagaimana setiap ortu harus juga rajin menggali ilmu…belajar dan belajar….

  5. Aww, puasa-puasa tetap nulis ya Pak, saya juga masih tetap browsing, yang sebetulnya tidak termasuk aktivitasnya orang yang sedang beriktikaf disepuluh hari terakhir ramadan. Jadi komentar ini singkat saja. Menurut teori multiple inteliigence semua sifat2 yang kita diskusikan disini saling berkaitan dengan IQ kognitif yang paling mendasari sifat2 lain. Jadi apa yang kita lihat menggembarkan betapa rata-rata IQ bangsa kita dibiarkan rendah selama 350 tahunan, dan kelihatannya karena IQ sangat dipengaruhi sifat keturunan maka pembelajaan tidak besar pengaruhnya pada perangai SDM. 65 tahunan merdeka dengan kesempatan belajar yang jauh lebih baik dari jaman penjajahan terbukti hanya menghasilkan 4% penduduk kita yang tamat S1 keatas. Jadi sabar Pak dengan keadaan SDM kita. Saya tidak setuju kalau kita merendahkan diri dengan membandingkan keadaan kita yang 235 juta SDM dengan negara tetangga yang penduduknya cuma puluhan juta. Saran bagaimana cara menghasilkan percepatan lebih tinggi pencerdasan anak bangsa akan menyusul. Mari kembali ke ibadah ramadan kita.WassWW.

    • waalaikum salam..trims mas hamarto telah berkunjung….maaf saya tidak memahami tentang masa sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan…..apakah ada larangan untuk melakukan postingan untuk berbuat kebajikan ketika bulan puasa khususnya ketika periode iktikaf?…dalil apa yang digunakan?…hal ini penting agar setiap pernyataan perlu didasarkan pada pertimbangan sosiologis dan agama…..Tentang kecerdasan majemuk (multiple intelegence), memang pencetusnya, Howard Gardner (1983), menyebutkan IQ bukan satu-satunya alat ukur untuk mengetahui kemampuan seseorang, tapi disana ada kecerdasan-kecerdasan lain yang juga amat penting, yaitu: linguistik, logika-matematika, visual-spasial, musikal, fisik kinestesik, interpersonal (sosial), intrapersonal, dan naturalis….Silakan memelajari postingan di blog ini,saya menulis artikel khususnya dalam kategori pendidikan tentang pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual,,life skills,soft skills, social skills, dan adversity quotient…..Tentang HDI:,itu suatu ukuran pembangunan manusia yg sudah diakui secara internasional yg secara rutin dilaporkan oleh UNDP PBB. Tidak setuju ukuran kesejahteraan antaranegara karena beda populasi penduduk? HDI memang tidak berdasarkan itu. Selain itu kalau kita analisis hubungan HDI dengan jumlah penduduk tidak menunjukkan hubungan nyata atau tidak beraturan….Misalnya HDI Indonesia (0.762) di Asia ternyata menunjukkan bisa lebih rendah dan lebih tinggi ketimbang negara-negara yg populasinya lebih rendah….faktanya HDI Indonesia lebih rendah ketimbang Malaysia(0823),Singapura (0918) dan Brunei (0919) namun secara bersamaan HDI Indonesia lebih tinggi ketimbang Laos (0.606),Kampucea (0575), dan Nepal (0,530)….Dan China dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 milyar jiwa ternyata HDInya lebih tinggi dibanding Indonesia,Laos,Kampucea,Nepal dan beberapa Negara lainnya yg jumlah penduduknya jauh lebih rendah….Jadi ada factor-faktor lain selain populasi yg menentukan HDI sepeti sumberdaya alam,sdm,system perekonomian,kestabilan politik dan spirit juang masyarakatnya…..Omong-omong apanya ya saya harus sabar dengan sdm seperti yg anda nasehati (al-Ashar)….Apa indikasinya saya tampak kurang sabar? Ini penting dalam rangka evaluasi diri saya. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H….maaf memaafkan,doa mendoakan amiiin….

  6. AsWW, maaf kalau saya sedikit menganggu perasaan Kang Sjafri, yang jelas saya kan mengritik saya sendiri, yang juga dalam masa iktikaf ternyata masih sibuk ngenet, padahal sebetulnja sangat dianjurkan untuk nginep selama 10 hari terakhir tadi di masjid-masjid yang memang biasa di penuhi para peserta mabit, walau ada yang cuma ngalong, siangnya tetap ngantor,yang sebenarnya tidak boleh meninggalkan mesjid dan konsentrasi pada aktivitas agama malah kalau bisa tidak bawa HP. Seperti orang nyepi/bertapa di gua jauh dari aktivitas dunia nyata /maya. Maaf lagi, kok jadi ceramah iktikaf pan banyak dijelaskan cara, maksud dan dasar humumnya dalam berbagai buku fikih dan dalam net . Kata orang di Thai para pegawai boleh/izin bertapa dikuil-kuil pada bulan tertentu. Saya tadi tanya panitia zakat Al-Huriyyah kali ini apa ada yang iktikaf,katanya ramai seperti th2 lalu. Disediakan kamar (dibelakang mimbar) untuk peserta, ramai2 tidur ngampar dikarpet. Makan saur dan buka, tetu ada biaya”investasi”.Sayang dosen hanya beberapa yang lkut. Saya pernah ikut 3 kali waktu masih mudaan sampai tidak kuat lagi, sudah teralu tua/terlambat mulainya. Saya selalu anjurkan pada teman2 muda sekantor , tapi biasanya tidak bisa karena tidak bisa cuti Sebenarnya kalau direncanakan sejak jauh hari pasti bisa. Nikmat iktikaf datang dari kepuasan hati telah dapat meraih sebanyak mungkin ilmu agama dari para penceramah, diskusi antar peserta dan baca2 sendiri sambil berusaha meraih lailatul qadar yang dijanjikan Allah.
    Tentang IQ rendah sebagai penyebab semua gejala yang terlihat baik yang berhubungan langsung, jauh atau dekat dengan IQ semua masih juga terlihat di kelompok kulit hitam di Amerika, yang sejak desegregasi th 60-an dengan equal opportunity dalam segala bidang, namun sampai kini tetap terdapat gap IQ hitam-putih yang tidak banyak berubah melalui kesempatan pembelajaran yang sama. maka itu yang saya maksud sabar itu bukan untuk pribadi Kang Sjafri saja tapi kita semua, karena sifat2 terkait IQ ternyata tidak banyak dapat diubah melalui upaya intervensi eksternal macam apa pun, karena sifat gen/DNA yang sangat stabil immutable. Kalau yang dapat diubah hanya frekuensi (jumlah relatif dibanding seluruh gen yang dikandung individu sejak lahir) gen yang berpengaruh thd IQ dan sifat2 terkait (termasuk Emosi, adversitas dan spiritualitas) hanya dapat berubah melalui seleksi dan perkawinan, maka sabarlah hai manusia Indonesia. Kalau ada penelitian (J.R.Flynn) menemukan perbaikan rataan IQ pergenerasi manusia (20 tahunan) hanya 6 poin IQ skor, maka upaya melalui pendidikan selama 60 tahunan Merdeka akan baru menghasilkan perubahan 18 poin. Rataan IQ antar negara dapat dilihat dalam daftar IQ rata2 negara2 dunia. Kalau kemajuan tersebut dapat terjadi melalui seleksi SDM melalui berbagai ujian masuk SD, SMU dan PT seperti USMI, UMPTN, dan ujian kelulusan per mata ajaran seperti UTS, UAS, dan berbagai Ujian Akhir Strata 123…. yang ternyata, tidak lain adalah cara menyaring SDM atas dasar IQ nya…. maka terjaringlah para penyandang DNA unggul yang membuat manusia cerdas. Selanjutnya mereka yang tersaring sebagai bibit unggul SDM harus secara sadar melaksanakan tugasnya sebagai cikal bakal generasi berikutnya yang makin cerdas 6 poin …. dengan menghasilkan sejumlah keturunan yang dihasilkan dengan perkawinan antar sesama bibit unggul (terbaik hasilnya) atau antara bibit unggul dengan SDM rata-rata yang hasilnya kurang efektif. Semua ini terjadi tanpa diatur apalagi dipaksa karena akan terjadi secara spontan. Bukankah antara anak-anak muda terpelajar/intelektual/cendekia ada istilah level, se-level dan gak-(se)-level dalam memilih pasangan hidup.
    Tergantung pada cara pelaksanaan seleksi, yang kadang terganggu kemurnian hasilnya oleh oleh berbagai level ketidak jujuran dalam pelaksanaannya dan berbagai cara mempersiapkan diri untuk ujian, dan bias dalam soal atau materi ujiannya, juga adanya pemberian bea siswa politis yang kurang tepat sasaran yang mengakibatkan adanay berbagai suasana/adegan dalam suatu kelas, mungkin sebagai akibat dari terkumpulnya sekelompok mahasiswa yang terjaring memalui cara seleksi yang kurang efektif dalam menjaring SDM atau calon SDM unggul. Dengan meningkatnya persentase APBN yang dilimpahkan ke bidang pendidikan diharapkan sebagian akan dialokasikan kepada penyediaan beasiswa pendidikan bagi SDM unggul untu menyelesaikan studi sesuai potensi maksimalnya. Dengan demikianpara pasangan muda SDM unggul tidak perlu terlalu ketat dalam menentukan besar keluarga.
    Mengenai jumlah penduduk sebagi pembobot dalam pembandingan yang fair, contohnya negara kaya seperti Brunei Darusalam dan Singapore , pasti mudah mengurusnya dibandingkan India atau Indonesia. Setiap keberhasilan yang tercapai dalam suatu negara seluas/besar negeri kita ini selalu jadi mengkerdil kalau harus dinyatakan secara perkapita pertahun. Juga gejala adanya negara-negara yang manusianya sudah diberi keunggulan (takdir) diatas bangsa lain seperti the North East Asian countries,( Cina ,Korea, Jepang) , Scandinavian , North European dsb . Ayatnya:”Hai manusia,Kami menciptakan kamu ….. dan menjadika kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku …” .(S49:13). (Interpretasi saya yang juga berbeda IQ nya). Selanjutnya ada pula ayat: “….. dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain ….” (S43: 32).
    Disini terlihat bahwa memang dalam taraf antar bangsa ada bangsa yang terjajah secara fisik dimasa imperialisme lampau dan sekarang secara ekonomis.
    Dalam hubungan antar manusia dalam satu bangsa ada SDM yang memang bertugas sebagai buruh, petani dan pengusaha skala UKM sebaliknya ada pekerja kerah putih, petani skala besar dan pengusaha korporati skala besar yang mendapat manfaat atau memerlukan adanya usaha skala kecil.
    Maaf kalau jadi berkepanjangan menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa saya manfaatkan untuk beriktikaf jadi dipakai posting komentar yang juga akan memakai waktu Kang Sjafri.
    Ucapan selamat Ied nanti lewat email saja. WasWW. Harimurti Martojo.

    • waalaikumsalam ww….pak hari….alhamdulillah…postingan bapak sedikitpun tidak mengganggu perasaan saya pak….hanya penasaran saja….malah saya banyak tambahan ilmu dari bapak….terimakasih banyak atas tausyiahnya yg sangat bermanfaat….

  7. trims sob..sklaian mampir dn kenalan disini ya

  8. bung dyos…trims telah mampir…insya Allah saya berkomunikasi dgn blog rang minang….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori