Oleh: sjafri mangkuprawira | Agustus 18, 2009

BERORIENTASI PADA TUGAS ATAU PADA ORANG ?

 

       Tidak seperti biasanya, wakil presiden, Yusuf Kala, belum lama ini melakukan kunjungan kerja ke Batam namun tanpa ditemani sejumlah menteri. Lantas saja sebagian media massa bereaksi. Muncul ungkapan-ungkapan bahwa menteri tak bermoral, habis manis sepah dibuang, kacang lupa akan kulitnya, dan menteri penjilat. Ketika atasan sudah jelas-jelas melakukan kegiatan pemerintahan mengapa para menteri tak ikut. Apakah karena atasannya akan mengakhiri jabatan maka perilaku subordinat cenderung seperti itu?. Sebaliknya ketika sang atasan masih punya kekuasaan, para bawahan akan “setia” kepadanya. Tepatkah sinyalemen seperti itu? Bergantung dari sisi mana kita meninjaunya. Pasalnya personal berikut jabatan atasan  dan tugas bawahan tidaklah mudah dipisah-pisahkan.

         Kasus di atas hanyalah salah satu saja dari sekian banyak kejadian yang ada. Tidak sedikit fenomena itu muncul di suatu organisasi apakah di pemerintahan atau di dunia bisnis. Kita tidak bisa memastikan asumsi semua karakter orang itu sama. Setiap dari mereka memiliki keunikan masing-masing. Dari tinjauan perilaku seseorang, dalam hal ini bawahan, maka paling tidak ada tiga kombinasi sikap terhadap atasan. Apakah eksistensinya sebagai bawahan berorientasi pada jabatan atasannya, personalia atasan, dan atau berorientasi pada semuanya dengan seimbang. Berikut disampaikan proposisi tentang orientasi bawahan terhadap atasan.

  1. Lebih berorientasi pada jabatan atasan; tipe subordinasi seperti ini lebih mengedepankan unsur jabatan atasan ketimbang pada tugasnya. Agar diperlakukan sebagai bawahan yang baik maka sang karyawan tidak segan-segan melakukan apapun yang dikehendaki atasan. Kalau perlu menjilat, asal atasan senang (AAS). Asalkan posisi sang bawahan aman dan bahkan karirnya meningkat. Namun semua perilaku bawahan itu sifatnya sementara saja bergantung pada lamanya sang atasan menjabat. Ketika diketahui atasannya akan turun atau lepas jabatan maka derajat kedekatan sang bawahan cenderung juga menjauh. Dengan kata lain hormat sang bawahan tidak pada karakter personal atasannya tetapi lebih pada jabatannya.
  2. Lebih beorientasi pada personalia atasannya; bawahan akan semakin hormat kepada atasannya kalau mereka merasa semakin nyaman bekerja karena kepemimpinan sang atasan yang baik. Misalnya sang atasan menerapkan gaya parsipatif dan demokratis. Sebaliknya kalau gaya kepemimpinan atasan lebih dekat pada kekuasaan dan otoriter bisa menyebabkan timbulnya konflik dengan bawahan. Hal seperti ini akan memengaruhi kinerja karyawan dan perusahaan.
  3. Lebih berorientasi pada keseimbangan personalia atasan dan tugas; bawahan tipe ini akan betugas dalam kondisi apapun dan tidak peduli pada siapa yang menjadi pejabat. Dia bekerja sesuai dengan uraian kerja atau prosedur operasi standar organisasi atau perusahaan. Dia tidak bergantung pada lamanya sang atasan menjabat posisi tertentu. Wajar-wajar saja dan tidak pernah menjilat atau cari muka. Sampai hari-hari terakhir pejabat meninggalkan posisinya pun dia akan taatasas atau konsisten untuk tetap hormat pada sang atasan. Dan dia akan tetap bekerja apa adanya. Sementara itu hubungannya dengan mantan atasannya tetap berlangsung dengan baik.

        Dalam prakteknya derajat orientasi bawahan terhadap atasan bisa dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan. Faktor intrinsik meliputi antara lain pengalaman kerja, persepsi tentang kepemimpinan dan pemahaman tentang tugasnya. Semakin lama pengalaman kerja, dan semakin luas pula pemahaman akan tugasnya maka semakin tidak peduli dengan gaya kepemimpinan atasannya. Namun bias pada jabatan atasan bisa timbul kalau sifat karyawan yang selalu ingin dihargai atasan dengan perilaku asal atasan senang atau berperilaku sebagai penjilat. Sementara itu faktor ekstrinsik yang sangat signifikan antara lain adalah lingkungan kerja nonfisik. Dalam hal ini yang menyangkut karakter atasannya dan hubungan antarkaryawan. Semakin baik kepribadian pemimpin dan hubungan antarkaryawan yang harmonis maka semakin tinggi rasa hormat pada atasan dan orientasi kerja bawahan pada tugasnya.


Tanggapan

  1. dari kalimat terakhir postingan ini jangan jangan…eehh saya jadi bertanya tanya dan semoga tidak juga…
    Harapan saya semoga semoga negeri ini mempunyai karyawan dengan karakter yang suka cari muka lebih sedikit daripada yang professional.

    • ya bung singal…..kita tidak butuh karyawan seperti robot…dan carmuk…betul harus yg profesional…

  2. Aslm. Bapak.
    Menurut saya, organisasi atau perusahaan lebih menyukai proposisi yg nomor 3 yaitu karyawan yg memiliki keseimbangan personalia atasan dan tugas, karena karyawan yg baik dan berkualitas akan berusaha menyeimbangkan kualitas kerjanya dgn kemampuan membangun hubungan dgn pihak lain, termasuk dgn atasan.
    Saya masih ingat dgn materi sekaligus nasehat Bapak ketika kuliah MSDM, bahwa “kerja adlh ibadah”. Pernyataan yg sederhana, tapi memiliki makna yg sgt mendalam. Salah satu ciri karyawan berkualitas sekaligus ciri manusia yg beriman memang harus menganggap kerja adlh ibadah. Jika seluruh karyawan sdh mencapai hal tsb, Insyaallah perusahaan siap untuk menuju kesuksesan dunia akhirat.
    Trima kasih Bapak. Wslm.

    • ya bung fresh…ibadah dalam arti sekaligus bekerja berbasiskan mutu…dan bukan berarti tanpa harus menghormati sesama rekan kerja dan pimpinannya….salam

  3. Pengalaman saya dibirokrasi, kalau atasa itu berorientasi orang, bawahan yang diehendakinya begitu pula, ia promosinya tidak wajar, cirinya adalah selalu mengatakan atas petunjuk pejabat anu.

    Kalau atasan yang berorientasi tugas, ia promosi wajar karena prestasi dan selalu mengatakan kerena kondisi, …, atas dasar program…, atas dasar aturan dan sejenisnya, penilaian prestasi sangat objektif. Penjilat tidak bisa bermain.
    Kalau atasan berorientasi orang penjilat dapat angin, yang berorientasi tugas mati anggin dan dan dapat terjadi pembunuhan karahter.

    Otonomi dan pilkada telah menghasilan pejabat-pejabat yang berorientasi orang dan berjatuhan orang yang berprestasi dan naik pejabat yang anggota tim sukses. Otonomi dan pilkada langsung yang salah kaprah.

    6 bulan menelang habis jabatan kepala daerah, pemerintah. Para penjilat men berlih perhatiannnya kepada calon kuat, sedang pejab tadi dipedulikan saja.

    • konon betul seperti yg bung dasril uraikan…era otonomi bukannya mensejehaterakan rakyat…tetapi justru memakmurkan konco-konconya…kkn sebutannya…. robot dan penjilat di kalangan bawahan tumbuh subur…sikap profesionalisme kinerja tidak dianggap penting….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori