64 tahun lalu Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Ketika itu Indonesia menyatakan lepas dari penjajah dengan segala bentuknya. Darah, air mata dan nyawa para pahlawan tidak terkira disumbangsihkan untuk kemerdekaan. Dari segi de-jure dan hukum internasional Indonesia memang sudah merdeka dan sudah lepas dari cengkeraman penjajah Belanda dan Jepang. Namun pertanyaannya, yang pernah saya ungkapkan dua tahun lalu di blog ini, setelah 64 tahun merdeka, bangsa Indonesia patut merenungkan akan beberapa hal. Apakah benar kita sudah hidup semerdeka-merdekanya? Apakah bentuk penjajahan sudah benar-benar hilang dari bumi kita? Kalau belum dimana letak kesalahannya?
Kita masih merasakan belum bebas merdeka seperti yang dicita-citakan. Yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera. Masih banyak masalah yang dihadapi bangsa dan rakyat Indonesia. Kita belum terbebas dari rasa aman, derita kemiskinan, perlakuan hukum yang tidak adil, ketimpangan ekonomi, banyaknya pengangguran, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, dan banyak lagi. Masih banyak rakyat tergusur atas nama modernisasi bahkan cuma demi ketertiban dan kebersihan kota. Mengapa?
Karena ada bentuk penjajah yang lain yaitu arogansi para pemimpin pemerintah pusat dan daerah, koruptor, manipulator bisnis, provokator sosial-politik, penjarah kekuasaan, penjarah hutan dan sumberdaya alam lainnya, penjajahan budaya modern termasuk narkoba, dsb. Ternyata jauh lebih sulit menghabisi penjajah domestik ketimbang terhadap penjajah asing. Yang paling nyata terlihat di depan hidung kita adalah penjajah domestik yang telah mampu menjadikan korupsi dan turunannya menjadi budaya. Bagi sebagian orang berbuat seperti itu dianggap biasa-biasa saja. Kondisi itu sangat laten. Sudah sangat membahayakan. Saya khawatir sebagian rakyat Indonesia sudah tidak memiliki budaya malu untuk berbuat curang, kotor dan hina.
Sementara itu para politisi kebanyakan sudah begitu berorientasi pada kepentingan politik, golongan dan individu. Selain itu kepentingan kedaerahan dan keserakahan mengeksploitasi sumberdaya alam sudah berada dalam ambang bahaya kelestarian hidup. Tak ada tanda-tanda mereka memiliki kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan. Dengan begitu bebasnya mereka telah merenggut arti kemuliaan dari suatu kemerdekaan. Tidak ada simpati, hilangnya emphati dan meredupnya cahaya semangat solidaritas terhadap sesama terutama terhadap masyarakat yang masih tertinggal. Ya Allah maafkanlah bangsa kami dan berikanlah petunjukMU ke jalan yang benar. Selamat berulang tahun kemerdekaan ke-64 bangsaku. The journey never end. Dirgahayu !













Penjajah domestik??
Tidak punya hati nurani dan rasa malu…menjajah bangsa sendiri..
Tragis!!!
Oleh: emmy djatiningsih on Agustus 17, 2009
at 3:25 am
ya mbak emmy…itulah ciri kerakusan…tanpa mempertimbangkan kepentingan yg lebih luas…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 17, 2009
at 10:40 pm
Merdeka Pak.
Tulisan Bapak sungguh menggugah hati. Kita sebagai bangsa yg “besar”memang perlu bercermin lagi thd diri kita. Dimana letak “kebesaran” bangsa ini?. Apakah kita puas dgn kondisi saat ini?
Saya harap semua elemen bangsa ini sadar bahwa kemajuan suatu bangsa dimulai dari kemajuan tiap2 pribadi. Oleh karena itu, salah satu solusi untuk bangkit dr keterpurukan adalah membenahi SDM Indonesia melalui pendidikan. Dan saat ini arah menuju ke sana mulai terlihat dgn meningkatnya anggaran pendidikan.
Mdh2an ke depan, pemerintah mulai serius membenahi bangsa ini, dan seluruh elemen bangsa, termasuk kita semua harus membantu menyukseskan program pemerintah demi kemajuan bangsa.
Jangan pernah menyerah. Dgn niat baik dan perbuatan baik, Insyaallah Allah SWT. akan memberikan jalan yg terbaik bagi kita semua.
Amin. Terima kasih Pak. Wslm.
Oleh: fresh on Agustus 17, 2009
at 1:13 pm
ya betul bung fresh…kembalilah mulai dari diri sendiri…diawali suatu evaluasi kekuatan dan kelemahan diri…mencari pilihan terbaik dlm memperbaiki diri…optimumkan pengelolaan diri…insya allah kalau sebagian besar individu sudah melakukan hal ini…dan dengan spirit kejuangan dan support infrastruktur dari pemerintah….secara akumulasi bangsa indonesia akan maju pesat….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 17, 2009
at 10:44 pm
Kemerdekaan yang hakiki hanya ada dalam jiwa yang tenang prof, kalau jiwa yang kacau dan jiwa yang dipenuhi nafsu angkara murka, tidak akan bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan demikian, mengacu kepada konteks kemerdekaan negara kita saat ini… dan mungkin kemerdekaan bangsa lain.Kemerdekaan yang diinginkan adalah kemerdekaan dari kemiskinan, kebodohan, kemelaratan dan kemerdekaan dari teror yang menakutkan, rasa takut yang diciptakan oleh orang-orang durjana.Sehingga dengan kemerdekaan tersebut kita dapat membangun kekuatan moral dan moril dalam membangun negara besar kita dari Sabang sampai Merauke..Yang diperlukan adalah peningkatan sumberdaya manusia yang handal, tanguh, tanggon dan trengginas. Semoga Prof… Selamat merayakan Ulang Tahun kemerdekaan kita.. ke 64. Sekali merdeka tetap merdeka…
Oleh: Lara on Agustus 18, 2009
at 1:12 pm
ya mbak lara…kemerdekaan era kini bukan dlm konteks merebut penjajahan secara fisik…namun dilihat dari pentingnya peningkatan mutu sdm kita yi cerdas,kreatfitas,inovatif,pembaharuan dsb…baik itu dlm hal imtak dan iptek…termasuk mengembangkan dan memupuk sipirit juang dalam memerdekakan diri dari sifat-sifat ego individu dan golongan,hedonisme,keserakahan,korupsi, dan moral hazard lainnya….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 24, 2009
at 8:35 pm