Alkisah seminggu lagi pemilihan kepala desa (Kades) Antah Berantah akan berlangsung. Untuk menuju kesana para cakades telah mengikuti debat yang bukan debat selama tiga kali. Diselenggarakan oleh panitia pilkades tentunya. Kampanye di setiap kampung atau dukuh pun telah berlangsung semarak. Ada yang menghujat kebijakan pemerintahan dan hasil pembangunan desa selama lima tahun terakhir. Ada yang menilai kebijakan pembangun desa banyak keberhasilannya. Dan ada yang senangnya selalu bilang peran dirinya selama ini yang bertindak cepat memutuskan sesuatu. Walaupun hanya sebagai sebagai carik desa atau pembantu kades.
Kembali ke acara debat ketiga (final) dimana menjelang akhir perdebatan sang mediator memersilakan kepada setiap kandidat untuk menyampaikan kata-kata terakhir. Temanya adalah apa yang akan dilakukan kalau sang kandidat kalah. Yang satu menyampaikan kata-kata dengan meyakinkan bahwa walaupun kalah, dirinya akan terus mengabdi dan berbakti buat desa. Kemudian kandidat berikutnya mengatakan akan menyampaikan selamat kepada sang pemenang pilkades dan akan mendukungnya dalam rangka membangun desa. Yang disampaikan kandidat ketiga adalah akan menghormati kandidat yang menang dan akan kembali pulang kampung mengabdi di bidang-bidang yang ditekuni sebelum jadi carik desa.
Itulah kata-kata terakhir seandainya sang kandidat kalah menjadi kades terpilih. Yang jelas dua kandidat terakhir itu secara spontan mengatakan hal senada. Sementara kandidat pertama berujar yang agak berbeda. Pertanyaannya apakah dari ekspresi seperti itu dapat ditebak mana kandidat yang siap untuk kalah? Dan mana yang memberi edifikasi atau selamat kepada yang menang sebagai ungkapan ksatria? Karena itu mana yang siap mendukungnya? Dan mana kandidat yang tergolong “desa(negara)wan” atau hanya sekedar “partaiwan” dan “klikwan”?…..wallahualam……













Tidak mudah menilai mana kandidat yg negarawan atau bukan. Kita serahkan saja deh pada rakyat nanti tgl 8 juli. Semoga lancar.
Oleh: zulkand on Juli 3, 2009
at 9:44 am
ya bung zulkand…serahkan semua pada kedaulatan rakyat saja…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:54 pm
Wah bisa saja bapak membuat perumpamaan pilpres dengan pilkades. Yg jelas kandidat yg siap legowo dan menghormati pemenang yaitu kandidat dua dan tiga. Kita lihat saja lebih nyata lagi ketika hasil pilpres final diumumkan.
Oleh: rusli on Juli 3, 2009
at 9:47 am
bung rusli…silakan anda menilai dengan bebas….sesuai nurani anda..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:55 pm
Kalau saya kalah jadi kases, saya akan cari kambing hitam, untuk pesta kambing hitam, diguling-guling, sekarang sudah saya cadangkan
Jangan tanggapi serius pak sjafri. Namanya juga andai-andaian.
Banyak maaf
Oleh: Dasril Daniel on Juli 3, 2009
at 1:11 pm
hahaha bung dasril….pasti kambing “hitam” bakal laku keras nih….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:56 pm
Biasalah pak, lidah tak bertulang…soalnya kalau bertulang tidak bisa nelan…hehehe..iya kan pak!.
Oleh: Singal on Juli 3, 2009
at 1:55 pm
ya bung singal…kalau bertulang pasti namanya bukan lidah……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:57 pm
legowo menerima kekalahan mungkin agak susah bagi para capres ya pak Sjafri….karena selama ini masing2 kandidat sudah mencap atau mensugesti dirinya sendiri dengan kata “paling”…
Sehingga pada pertanyaan terakhir “kalau kalah”..kandidat pertama dengan tegas “akan meneruskan perjuangan” (yg berarti menjadi oposisi); kandidat kedua ” berkata “akan memberikan selamat” (dengan penekanan suara – yg mungkin jg untuk menambah citra dan simpati ;D ) dan kandidat terakhir dengan guyonannya mengatakan bahwa “rakyat akan memilih yang terbaik dan semoga saya yang ‘terbaik’ “..
Oleh: emmy djatiningsih on Juli 3, 2009
at 2:38 pm
mbak emmy…boleh saja ketika masih jadi capres masing-masing bilang yang “paling”…..namun ketika tahu dan sadar bahwa masih ada yg lebih dari dirinya…haruslah berjiwa besar…untuk legowo tanpa harus merasa kehilangan muka….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:59 pm
wah, saya keberatan..hehe..mendiskreditkan my idol tuh..tapi namanya pemikiran ya, bisa aja bapak nih..jadi no 1 partaiwati?atau klikwati?
begini pak, kecerdasan seseorang dalam merespon suatu pertanyaan memang bisa beribu interpretasi..seorang wanita secara alamiah akan mengikuti insting perasaan, sedangkan pria akan didominasi rasionalitas yang mendalam..
seiring dengan jawaban kemarin, tentu langsung terbersit bagi para pria “Jawaban apa yang membuat elektabilitas saya naik?”
sedangkan bagi wanita kecenderungan akan merasakan kejadian itu seolah2 terjadi dan berpikir “jika tidak jadi presiden, saya sebagaimana saya ada sekarang, mengabdi pada bangsa, meneruskan partai ini sambil membesarkan “putri” mahkota saya”..
Ibu tidak sempat berpikir jawaban apa yang membuat elektabilitasnya naik, tetapi benar-benar membawa perasaanya dan psikologi kekalahan yang sudah 2 kali ia alami..
bagaimana pak?
saya juga mengindikasikan terlalu banyak blunder no 2 akhir2 ini, tertarik untuk mempostingnya juga..
Oleh: romailprincipe on Juli 3, 2009
at 2:46 pm
ya bung romail…ada benarnya pendapat anda….saya percaya apa yg disampaikan oleh kandidat pertama…bukan berarti ybs tidak akan menghormati sang pemenang…namun yg terpikirkannya lebih dari sekedar basa basi ucapan selamat….cukup dengan ungkapan filosofis yakni pengabdian yg tak akan putus walau kalah…..dan tanpa mengungkapkan akan menyampaikan ucapan selamat kepada pemenang…. tidak berarti dia bukan negarawan (ti)…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 5:08 pm
hahahahaha…posting yang menarik,aq baru baca…no comment de…coz perutq sakit banget bacanya,,,pak sjafri ada2 saja, jangan2 takut kayak prita sampai postingnya pakai andai2…hehehehehehe…tapi mantap tuk pak sjafri, uda posting seperti ini, setidaknya bisa membuka wawasan dan dapat curhat2an walaupun terpisah jarak yang sangat jauh..makasih pak..
Oleh: bony on Juli 8, 2009
at 2:46 pm
bung bony…hahaha juga…saya pun senyum-senyum sendirian setelah artikel ini selesai dibuat….ah rileks saja ya….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 9, 2009
at 12:37 am