Model bisnis yang menguntungkan dicirikan antara lain oleh semakin meluasnya segmen pasar. Produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti di pasar domestik tetapi juga di pasar global. Jenis pelanggan pun beragam. Semudah hal itukah dijalankan? Tidak juga. Persoalannya tidak sesederhana hanya dilihat dari unsur bagaimana produk diproses tetapi juga dari bagaimana menjualnya. Berbagai masalah yang tidak jarang dijumpai antara lain berupa volume penjualan bertambah namun marjin belum tentu meningkat; penjualan menghadapi turbulensi eksternal sehingga fluktuasi penjualan harus distabilkan; loyalitas pelanggan yang melemah; dan saluran pemasaran yang tidak efisien.
Dalam kondisi permasalahan seperti itu apa yang harus dilakukan perusahaan? Secara umum perusahaan harus melakukan telaahan tentang strategi bisnis dan strategi pemasarannya. Dilihat dari strategi bisnis maka pertanyaannya adalah apakah bisnis inti atau utama masih tetap dipertahankan ataukah diubah. Bisnis utama inilah yang akan mencerminkan seberapa jauh perusahaan mampu menerapkan strategi pengembangan teknologi produksi dan pemasaran yang jitu. Apapun jenis bisnis utama maka strategi pemasaran pun seperti perluasan segmen, pentargetan, dan pemosisian harus mengalami perubahan sesuai dinamika pasar. Ketika itu harus diubah maka bagaimana seharusnya strategi pengembangan sumberdaya manusia pemasarnya?
Sudah lama diketahui bahwa dalam strategi pemasaran dikenal konsep 4P yakni product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi). Hemat saya pengetahuan tentang 4P tidaklah cukup. Konsep 4P tidaklah bersifat statis dan otomatis bahwa pemasaran akan berjalan efektif yakni konsumen siap akan membeli produk yang ditawarkan perusahaan. Kalau demikian itu namanya serupa Say’s Law yakni supply creates its own demand. Dalam prakteknya strategi pemasaran yang efektif adalah yang mendasarkan kegiatannya pada system nilai pelanggan. Pemasar mulai yang berstatus strategis sampai di tingkat operasional lapangan seharusnya memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan sesuai system nilai (keyakinan agama, adat istiadat, habit) yang dianut pelanggan. Selain itu perlu dipahami tentang kenyamanan (keamanan , kehalalan, kesehatan produk ) pelanggan atas produk yang dibelinya. Dan tentunya juga diperlukan pengetahuan dan ketrampilan pemasaran yang tinggi untuk mengkomunikasikan setiap produk ke pelanggan.
Beberapa hal yang melatarbelakangi pentingnya pengembangan SDM pemasar khususnya dilihat dari dinamika pasar dan pengembangan IPTEK adalah sebagai berikut:
-
Pengetahuan dan Ketrampilan pemasar tidak cukup hanya diperoleh dalam bentuk pengalaman dari lapangan. Dalam kaitannya dengan semakin kompleksnya pemasaran maka mereka seharusnya dilatih dengan berbasis kompetensi. Antara lain pelatihan dalam hal analisis pasar, segmentasi pasar dari pasar individual sampai pasar massal, simulasi strategi pemasaran, dan system informasi manajemen pasar.
-
Pendekatan pengembangan SDM pemasar haruslah berbasis visioner dan IPTEK. Kehadiran era global mengharuskan efektifitas pemasaran ditingkatkan antara lain lewat internet dan pangkalan data pelanggan. Hal demikian mendorong perusahaan harus memberikan pelatihan system informasi dan teknologi informasi mutahir kepada para pemasar khususnya di tingkat strategis.
-
Pemahaman Pemasar tentang visi perusahaan perlu ditingkatkan khususnya dalam aspek kekompakan bekerja sebagai satu tim dengan divisi-divisi lainnya. Karena itu diperlukan pengembangan SDM dalam bentuk pelatihan dan lokakarya dalam penerapan strategi pemasaran secara holistik.
Fungsi pemasaran dalam persaingan bisnis semakin mengemuka. Peroalannya terletak pada mana perusahaan yang lebih mampu menggaet konsumen dengan segmen pasar yang semakin meluas. Untuk itu tidak cukup hanya dengan pendekatan-pendekatan konvensional seperti penerapan kaidah 4P. Yang jauh lebih penting adalah pengembangan SDM pemasar yang tidak mengandalkan hanya pada pengalaman di lapangan. Ketika pemasaran menuntut peningkatan nintensitas meraih segmen pasar maka ketika itulah peran internet dan pangkalan data menjadi sangat strategis. Karena itulah para pemasar khususnya yang berada pada posisi strategis manajemen harus dibekali pengetahuan dan ketrampilan teknologi informasi, dan perencanaan strategis bidang pemasaran.













Persaingan dipasar dewasa ini semakin ketat, tidak saja memasuki pasar semakin sulit, mempertahan produk dipasar jauh lebih sulit, pasar sangat cepat berubah, sementara kompetitor berdatangan terus, sehingga daur hidup produk dipasar semakin pendek.
Upaya yang tidak kalah penting dilakukan oleh perusahaan adalah integrated marketing komunication termasuk promosi terpadu, dengan mengunakan berbagai media komunikasi secaratepat, bahkan sudah ada yang memadukan promosi produk dari berbagai jenis atau perusahaan untuk menggarap sekmen pasar yang sama untuk meningkatkan efisiensi efektifitas promosi.
Kecepatan pasar yang berubah dapat diatasi dengan tenaga SDM pemasaran yang kreati sehingga bisa menciptakan ide inovatif untuk mendongkrak pemasaran
Oleh: Dasril Daniel on Juli 2, 2009
at 10:22 pm
betul bung dasril….karena itulah perusahaan yg bakal tampil unggul mereka yg punya produk dan pelayanan tampil beda….tidak mudah ditiru..nah disinilah pentingnya mutu SDM yg inovatif…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:46 pm
Ass Pak Sjafri.. berikut saya sharing sedikit cerita tentang “cara 3 sales menjual sisir pada biksu”.. (cerita ini saya dapatkan dari seorang teman..)
Pertanyaan :
Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul) — Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda ?
a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)
Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.
Cerita : MENJUAL SISIR PADA BIKSU
Ada sebuah perusahaan “pembuat sisir” yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru.
Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan …. jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.
Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara.
Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
“Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu.”
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
“Berapa banyak yang sudah anda jual?”
Mr. A menjawab: “Hanya SATU.”
Si pewawancara bertanya lagi : “Bagaimana caranya anda menjual?”
Mr. A menjawab:
” Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda – dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean.”
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
“Berapa banyak yang sudah anda jual?”
Mr. B menjawab : “SEPULUH buah.”
“Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung sang Buddha.”
Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr.. C :
“Bagaimana dengan anda?”
Mr. B menjawab: “SERIBU buah!”
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : “Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?”
Mr. C menjawab:
“Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana . Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, ‘Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.’ Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!”
MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.
Dalai Lama biasa berkata : “Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah.”
“Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh – dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan …. adalah hal yang akan mengubah hidup kita.”
Meredith Grey, Grey’s Anatomy – Season 3
“Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%. Semoga sukses !”
Oleh: emmy djatiningsih on Juli 3, 2009
at 2:06 am
mbak emmy….wah contoh-contoh yg relevan nih untuk bahan kuliah mbak …..intinya adalah pentingnya mutu SDM tidak hanya dilihat dari segi kecerdasan intelektual saja…tetapi dalam prakteknya soft skills memegang peranan penting….termasuk dalam pemasaran….trims mbak atas tambahan untuk memerkaya artikel ini….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 3, 2009
at 4:51 pm
Aslm. Pak Sjafri.
Saya sependapat dgn Bapak bahwa dinamika pasar yg cenderung berubah dgn cepat membutuhkan SDM handal krn dibutuhkan kreativitas dan inovasi tinggi dr para marketer agar mampu “menjual” sebanyak-banyknya produk dan jasa yg ditawarkan shg perusahaan mampu bertahan bahkan bersaing dgn perusahaan lain.
Menurut saya, untuk menjadi seorang marketer handal perlu banyk proses pembelajaran melalui studi literatur, melihat langsung ke lapangan, training, dsbnya shg hal2 tsb akan memperkaya pengetahuannya dan dia akan mampu menciptakan strategi atau trik2 memasarkan suatu produk secara cerdas kpd pelanggan. terima kasih sharingnya Pak.
Oleh: fresh on Juli 5, 2009
at 3:22 pm
betul bung fresh….artinya sang pemasar harus tekun belajar dan belajar…namun bukan semata-mata dari pengalaman di lapangan saja…yg paling strategis belajar memahami nila-nilai pelanggan…konon perusahaan yg berhasil adalah yg berbasis pada penambahan nilai pada pelanggan….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 6, 2009
at 8:59 pm
Pak Sjafri yang bijak, saya membaca sebuah buku karangan John Naisbitt – Megatrends 2000, inti tersirat dari buku tersebut adalah, “…bahwa kehancuran konglomerasi saat ini akan digantikan oleh individu yg dapat membangun jaringan usaha yang mandiri…” jika hal ini terjadi…walau saat ini sdh mulai terlihat…apakah semua itu dikarenakan oleh pengembangan “SIKAP” yg lebih mudah di implementasikan secara individu? seperti cerita sisir diatas…? sehingga orang akan lebih condong menjadi individu entrepreneurship…? Terima kasih Pa Sjafri
Oleh: Agustinus Kamalirang on Juli 18, 2009
at 4:52 am
ya bung agustinus….high tech-high touch…inti megatrends: perkembangan teknologi merupakan fungsi dari sistem nilai individu…potensi manusia harus sangat diperhitungkan untuk masa depan….individu yg cemerlang yg memiliki jiwa entrepreneurship pun akan menentukan dunia masa depan….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 18, 2009
at 1:55 pm
Yang sulit adalah memotivasi atau membentuk mahasiswa untuk menjadi tenaga pemasar, karena tidak semua mahasiswa tertarik ke situ
Oleh: adek on Oktober 24, 2009
at 7:35 pm
ya betul adek…perlu dilakukan pelatihan lewat jalur ekstrakurikuler….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Oktober 27, 2009
at 10:52 pm