Oleh: sjafri mangkuprawira | Juni 22, 2009

PALING SEGALANYA

 

       Konon seseorang cenderung paling mudah mengatakan dirinya sebagai yang paling. Dalam bahasa Indonesia, makna kata paling adalah menyatakan sangat atau ter-; misalnya paling besar (terbesar), paling jujur (terjujur), paling tinggi (tertinggi), dan paling benar (terbenar). Makna yang akan sedikit dibahas kali ini adalah yang menyatakan sangat; khususnya ungkapan paling segalanya. Mengapa? Karena dalam suasana kampanye pil-pres sekarang ini simbol-simbol ungkapan paling, banyak diungkapkan sekalipun dalam bentuk implisit oleh para kandidat. Kemudian alasan lain adalah ungkapan paling segalanya banyak diungkapkan oleh pimpinan organisasi termasuk pimpinan perusahaan.

      Ketika seorang calon presiden (capres) tertentu berkampanye maka tidak ayal lagi pasti disampaikan pesan-pesan manis kepada khalayak luas. Katakanlah semacam janji-janji. Di dalam pesan tersebut tidak luput dikatakan dialah calon presiden yang paling jujur, paling piawai memimpin, paling berpengalaman, dan paling benar. Pokoknya ungkapan sederetan kata paling. Pokoknya kalau khlayak memilihnya kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Bagaimana kenyataannya setelah yang bersangkutan terpilih? Bisa jadi janjinya dipenuhi tetapi bisa juga tidak sepenuhnya. Kalau tidak terpenuhi sesuai janji-janjinya maka berubahlah sebutan pada dirinya dari yang paling dipuja-puji menjadi paling dibenci.

        Bagaimana perilaku pimpinan di dunia bisnis? Bisa jadi setali tiga uang. Tidak jarang atasan selalu merasa dirinya paling segalanya. Dengan kata lain merasa paling di atas yang paling. Subordinasi tak usah banyak bicara atau tingkah. Laksanakan saja apa yang diperintahkan atasan; titik. Ketika dunia bisnis harus berhadapan dengan persaingan global maka gaya memimpin dari pimpinan seperti itu tak cocok lagi. Bisa-bisa para karyawan tidak betah. Derajad Labor turnover meningkat tajam. Tentu saja perusahaan akan rugi karena kehilangan individu yang potensial. Jelas saja produktivitas perusahaan akan anjlok. Lambat laun kepercayaan pasar juga ikut menurun. 

        Seharusnya pimpinan perusahaan jangan menempatkan dirinya sebagai seorang yang super. Dia perlu melibatkan semua individu organisasi utamanya karyawan. Merekalah sebagai aset perusahaan sekaligus unsur investasi efektif yang berdiri paling depan. Karena itulah dalam pengembangan sumberdaya manusia, mereka harus terus dilatih dan secara bertahap diberi otonomi untuk mengembangkan daya intelektualnya. Dengan demikian para individu perlu dikondisikan dalam suasana belajar yang kontinyu untuk menghasilkan gagasan-gagasan inovatif. Ujungnya kinerja perusahaan akan semakin berkembang dalam meraih posisi terunggul di persaingan global.


Tanggapan

  1. Setelah tidak berkuasa lagi, banyak dari mereka mengalami post power sindrome.
    Rasa manis sering berujung pahit, sebaliknya rasa pahit sering berujung manis.
    Awalan ter juga berarti tidak sengaja pak, seperti tersentuh, terlihat dll, jangan jangan mereka tidak sengaja hebat, jujur dll…hehehe…

    • bung singal….makanya wajar-wajar saja menjalani idup ini…bahkan seharusnya rendah hati…tidak mendahuluiNYA…kata ter disini bisa juga berarti tak sengaja dan dapat…..yakni dapat disentuh dan dilihat…..tapi ternyata tak terlihat kehebatannya…..angan-angan….fatamorgana….

  2. haduh.. saya tahu ada pimpinan yang gak punya waktu ngurusin hal-hal seperti pengembangan SDM serta bertingkah PALING SEGALANYA juga…meskipun cukup open minded lah..

    Intinya dia prestasinya bagus kok, tapi ‘noda’ yang ditinggalkannya mbekas juga sih. Regenerasi terganggu dan kurang berkembangnya subordinasi..
    Tapi meski saya bukan penganut paling, patut diakui fakta aktual bahwa budaya paling berhasil melahirkan hasil instan..

    gawatnya indonesia suka sekali seperti itu..jangan2 ini cocok dengan Indonesia..

    hiiiiiii..takut deh jadi negara yang bos nya merasa PALING……..

    • ya bung romail…..kalau sudah semuanya menyatakan kecap paling satu…lalu gimana kecap yg lain…..ada kecap rakyat dan ada kecap manufaktur….ada pemimpin rakyat ada pemimpin eksklusif….seharusnya khan inklusif yg tidak menonjolkan dirinya paling…..jadi egalitarian bersama rakyat membangun bangsa…..

  3. Biasanya yang obyektif menyebut seseorang “paling” itu adalah orang lain? Setuju ga? Misalnya, paling pinter, paling rajin, paling bagus, paling males… :)

    • ya bung math….namun sebutan “paling” pada individu tentunya perlu pembanding…dan derajad dan sifatnya sangat sementara…karena orang lain pun suatu ketika bisa di atas kita…..karena itu lebih baik berendah hati saja deh….ringan hati…

  4. Iya nih Pak. kadang-kadang saya prihatin dgn perilaku para tim sukses yg terlalu arogan dan takabur dgn melakukan sanjungan berlebihan kepada pasangan capres dan cawapres yg dibelanya. Mereka tdk mendidik masyarakat.
    Berkaitan dgn pemimpin dlm bisnis, saya setuju dgn pendapat Bapak bahwa seorang pemimpin jgn menganggap dirinya super hebat. Dia menjadi pemimpin karena sadar bahwa dia membutuhkan orang lain untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, Bapak benar sekali bahwa pemimpin perlu memberdayakan semua karyawannya dan memperhatikan pengembangan diri karyawan shg hal tsb merupakan investasi pemimpin untuk memperoleh SDM tangguh dan profesional. terima kasih sharingnya Pak.

    • ya bung fresh…padahal yg mengatakan paling segalanya..sebenarnya punya perasaan kurang percaya diri…..ada beban berat dan melelahkan….akan kolaps kalau tidak mampu memenuhi pencapaian kinerjanya….yg terpenting bagamana mendudukan diri kita pada golongan yg wajar-wajar saja dimana kita punya kekuatan dan kelemahan…lalu drefleksikan dengan kerendahan hati…pasti subordinasi pun tanpa diminta akan respek pada pemimpin seperti itu…

  5. Ass.
    Disaat menghadapi perubahan lingkungan yang turbulensi, pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh pimpinan atau manajerial organisasi, bukan lagi pemimpin yang “Task Oriented”, pemimpin yang berkarakter spt ini, cenderung akan mengalami “Post Power Syndrome”.
    Jika dikaitkan dengan konsep Manajemen Human Capital, fokus suatu organisasi adalah menitikberatkan pada investasi pendidikan (termasuk pelatihan) sebagai upaya peningkatan mutu organisasi, karena investasi non fisik jauh lebih berharga dan berkepanjangan dibanding investasi pembangunan fisik.
    Saya setuju, sudah tidak zamannya lagi organisasi hanya melakukan performe appraisal,namun melakukan performe management.
    Kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan akan sangat bergantung pada kemampuan orgnsasi untuk mengembangkan dan memanfaatkan KOMPETENSI Sumber daya manusianya.
    Pemimpin yang mengakui dirinya paling sagalanya adalah………paling-paling bikin stress karyawannya.
    Wass

    • trims alida atas tambahan uraiannya…..dalam dunia manajemen justru yg dibutuhkan adalah kemitraan…jadi perlu dihindari posisi paling segalanya….yang ada kebersamaan….

  6. Kata Paling itu ada dan nyata, tapi bukan untuk predikat seorang Capres atau Bos. Kalau ditelaah toh ada batasnya, sebaliknya setelah takluk atau jatuh masih ada lagi dibawahnya. Luar biasa…. untuk manusia ternyata tidak ada yang bisa menyandangnya. Mereka lupa kalau itu bukan miliknya tetapi milik-Nya.

    • betul bung Om…hanya DIA yang maha segalanya….karena itu kita berendah diri dihadapanNYA…..siapapun kita yang terpenting bersikap rendah hati….

  7. Capres dalam berkampanye…..seperti halnya pedagang jika sedang berjualan, promosinya selalu pakai kata sakti “paling” atau “the best”..biar laku dan kelihatan lebih baik dan no 1 dari pada yang lain..
    Tapi sepertinya mereka seringkali lupa ya pak…bahwa implementasi dari kata “paling” tersebut selalu ditunggu oleh rakyat yang memilihnya..

  8. Capres dalam berkampanye…..seperti halnya pedagang jika sedang berjualan, promosinya selalu pakai kata sakti “paling” atau “the best”..biar laku dan kelihatan lebih baik dan no 1 dari pada yang lain..
    Tapi sepertinya mereka seringkali “pikun”ya pak…bahwa implementasi dari kata “paling” tersebut selalu ditunggu oleh rakyat yang memilihnya..

    • ya mbak emmy….sangat berlebihan…sering tidak realistis….dan penuh janji..padahal janji yg “paling” itu sama saja dengan utang….harus dibayar…kalau tidak maka rakyat akan tidak melupakan kandidat ybs sebagai pembohong publik…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori