Oleh: sjafri mangkuprawira | Mei 24, 2009

“LOW PROFILE" : PERLUKAH?

 

          Ada istilah yang sering digunakan dalam pergaulan yakni low profile. Sebutan ini sering ditujukan pada seseorang yang sebenarnya potensial namun tidak mau menonjolkan diri di hadapan publik. Karena pembawaannya, orang yang low profile umumnya rendah hati. Hampir-hampir selalu menghindari berdebat keras di depan umum. Atau ekstremnya tidak banyak ngomong. Namun bukan berarti introvert. Di dunia organisasi kalau toh orang itu punya gagasan selalu disampaikan lewat atasannya. Sifat itu berkaitan dengan kultur, sifat bawaan orang bersangkutan, dan bisa berkait dengan perekayasaan yakni semacam aturan tertulis dan konvensi.

         Tidak jarang seseorang, misalnya yang memiliki kedudukan wakil direktur (wa-dir) dihadapkan pada kesulitan ketika akan menyampaikan gagasan dalam suatu rapat manajemen. Kesulitan ini berkaitan dengan semacam “tatakrama” dalam hal tutur kata dan hirarki jabatan. Ada semacam aturan tidak tertulis atau konvensi ketika atasan hadir dalam rapat tersebut sebaiknya wakilnya jangan proaktif banyak bicara. Kecuali dimintai atau diberi kesempatan berpendapat. Termasuk juga ketika ada “obrolan yang melibatkan para direksi dan wa-dir. Ada semacam konvensi, sang wa-dir sebaiknya low profile karena “khawatir” atasannya merasa tersinggung dan wibawanya turun. Belum lagi ada pertanyaan menggoda kalau wa-dir proaktif bicara dan bekerja ; lalu mana yang sebenarnya real direktur? Apakah sang direktur atau wakilnya?

         Sifat low profile seseorang sering dihadapkan pada keputusan dilematis. Hal ini kalau low profile itu diposisikan sebagai hasil suatu rekayasa aturan. Ambil contoh saja, di satu sisi sang direktur jarang bicara dan kalau pun bicara tetapi mutunya rendah. Dan cenderung tidak bersemangat menerima gagasan dari wakilnya. Sementara di sisi lain wakilnya jauh lebih cerdas. Namun karena bersifat low profile yang artifisial maka gagasannya berhenti hanya di dalam hati saja. Padahal untuk menghadapi beberapa hal yang mendesak dan strategis, keputusan cemerlang perlu segera diambil. Bisa ditebak apa akibatnya bagi pengembangan unit yang dipimpin direksi bersangkutan.

          Dalam dunia usaha yang beroperasi semakin mengglobal maka dibutuhkan terobosan-terobosan cemerlang. Terobosan itu lahir melalui proses manajemen perubahan. Di dalamnya ada kegiatan diskusi intensif di antara para manajemen dan karyawan. Dalam model manajemen kemitraan (partnership) siapapun didorong untuk mengemukakan pendapat. Begitu pula kalau perusahaan sudah menjadi organisasi pembelajaran. Perusahaan mengembangkan transparansi, akuntabilitas, dan pelatihan-pengembangan diri di kalangan karyawan (manajemen dan non-manajemen). Karena itu perilaku low profile yang direkayasa manajemen puncak sudah ketinggalan zaman. Model itu akan menghambat perkembangan inisiatif, kreatifitas, dan daya inovasi manajemen dari para subordinasi. Biarkanlah mereka secara terbuka dan khusus langsung ke atasan dan sesama mitra kerja untuk menyampaikan semua gagasannya.

         Namun di sisi lain sifat bawaan low profile yang mencerminkan kerendahan hati dan tidak menonjolkan diri sangatlah dibutuhkan perusahaan. Itu penting sebagai modal integritas pribadi karyawan dalam meningkatkan pengembangan diri sendiri. Termasuk pengembangan hubungan kerja dan sosial yang saling mengerti dengan mitra kerja dan dengan atasan. Selain itu sebagai pekerja keras dan cerdas, salah satu ciri seorang karyawan  yang baik adalah low profile. Malah konon sebagian khalayak berujar, biarkan saja seseorang itu bersifat low profile asalkan high bonafide.



Tanggapan

  1. Saya pernah low profile (low profile kok ngaku?haha)..akibatnya, kena peringkat 7 dari 8 orang yang diseleksi..setelah lebih mencoba menjual apa yang saya tahu (sekedar apa yang saya tahu) dan bukan orang lain, langsung beranjak naik..apresiasi datang dari pimpinan..
    mungkin yang penting ketika saya menjual sesuatu, maka tidak ada yang tersakiti, atau ketika saya menjual sesuatu karena memang kualitas saya, bukan karena ABS

    • betul bung romail…..tidak perlu artifisial…kembali ke alam potensi nyata….tanpa keangkuhan…nyakitin orang lain….sukses bung…..

  2. Nice post pak ^^b
    Benar2 nambah pengetahuan Q tentang sikap yang baik dalam kehidupan^^

    • trims bung rahmat…semoga selalu rahmat buat seluruh alam…amiin

  3. Betul prof. Low profile memang sangat diperlukan, terutama mengenai hal-hal yang berkenaan dengan pribadi yang subyektif. Namun begitu, low-profile bukan berarti penekanan2 diri sehingga kemampuan diri sendiri tidak bisa berkembang secara maksimal. Kalau sudah begini, tentu akan menghambat kreativitas dan inovasi yang ada pada sebuah organisasi.

    Yang paling baik adalah menunjukkan kepada organisasi dengan ‘gamblang’ ide2 yang kreatif dan inovatif sebaik2nya, disertai dengan kerja keras yang brilian agar dapat mewujudkan ide2 tersebut, namun kita tidak perlu untuk menanamkan kepada setiap orang siapa yang paling berjasa dalam ide2 dan perwujudannya tersebut. Jika kita memang orang yang benar2 berjasa dan memang sangat dirasakan jasa2 kita, maka orang akan terus mengenang kita tanpa perlu kita menjadi seseorang yang high profile…….

    • ya mas yariNK…untuk itu perlu didukung dengan suasana pembelajaran, timbal balik dan transparansi dari manajemen puncaknya…saluran komunikasi perlu dibuka…..bukannya dikekang…yang malah nanti banyak karyawan dan manajer yang hengkang…..

  4. Saya setuju kalau sifat low profile perlu dimiliki oleh setiap karyawan asalkan jangan sampai berkembang ke arah rendah diri atau sampai merendahkan harga diri. Ciri-ciri lengkapnya orang yang low profile itu apa ya Pak?. Terima kasih Pak.

    • fresh….sifat low profile seseorang antara lain tidak mau menonjolkan dirinya hebat, rendah hati, inklusif, bersahabat, tidak menggurui, dan modest……

  5. setuju dengan pernyataan diatas “biarkan saja seseorang itu bersifat low profile asalkan high bonafide” seperti intan yang belum di gosok, mengambil pernyataan mario teguh agar kita meninggikan atasan, susahnya kalo atasannya nga ngeh2 :)

    • ya bung iman…. meninggikan siapapun haruslah proporsional…artinya harus realistis…jangan asal lalu atasan harus ditinggikan…..yg terjadi sejatinya adalah siapapun seharusnya saling meninggikan harga diri…tidak berat sebelah….

  6. Low profile — high profile menurut saya hanyalah hasil suatu pembandingan. susah banget untuk mencari perusahaan yang benar-benar sempurna sehingga orang dengan low profile high bonafide bisa maju karirnya, banyak faktornya sih, bisa keluarganya bos, klik kelompok, suku / ras, agama de el el. realitasnya cukup sering orang yang lebih high profile yang lebih cepat maju dalam karir, bukannya saya mendukung orang high profile, cuma .. yang perlu ditambahin pada orang low profile adalah kemampuan berkomunikasi – negoisasi.

    • ya bung sony…..low profile bukan berarti dia tidak komunikatif, tidak cerdas, dan tidak pandai bernegosiasi…..yg diindikasi low di sini adalah kepribadiannya tidak mau menonjolkan diri, rendah hati, empati tinggi, dan simpatik…..jadi bukan berarti golongan ini tidak memiliki performa tinggi…..

  7. Prof Yth
    Kapan kita harus low profile, atau high profile, sekarangan masa sekarang ini, tergatung pada stuasi dan kondisinya. kalau salah tempat susah juga. low profil terus, diinjak, haig profil terus diganjal. sombong dikit kadang-kadang perlu. tetapi kalau jadi politikawan perlu high porofile, dan untuk itu perlu uang sekolahnya/uang mahar/dana sosialnya. ini sekadar penfapat ngawur saja

    • ya bung daniel….tidak ada aturan standar kapan dua bentuk sifat itu layak diterapkan……semua bergantung pada mutu personalitinya….namun secara umum setiap orang cenderung senang berhadapan dengan orang yg low profile tetapi high bonafide (terpercaya,jujur)……

  8. Ass. Pa syafri yth,
    Menurut sya,konteksny lbih kpd ksantunan dan ksadaran.
    Ktk qta memimpin orgs, mka qta hrs menciptakan kultur orgs yg membiasakan orgs tuk slalu blajar -learning orgs- agar trbentkny learning people dlm orgs yg dpimpinya.

    • ya alida…..learning proses termasuk dalam hal kepribadiannya….karakter yg selalu mau belajar merubah perilakunya ke arah yg semakin positif…..

  9. Low profil saya sebut sebagai sifat yang memang harus kita lakoni. sebagai umat beragama kita harus tawadhu, tidak sombong, tidak pamer dan tidak ria dengan apa-apa yang kita miliki dan kita puinyai. Biarkan alam yang menilai apakah kita sesuai dengan lingkungan kita atau tidak. Semoga sifat low profil ini dimiliki oleh para pembesar-pembesar negeri kita pak, agar kita sadar bahwa negeri kita ini hanyalah negeri yang masih keterbelakangan dalam segala hal.

    • betul mbak lara…memang dalam prakteknya tidak mudah untuk bersifat low profile…namun perlu ketika kita terpanggil untuk berpilaku tawadhu dan istiqomah………


Beri tanggapan

Your response:

Kategori