Keunggulan bersaing suatu perusahaan dicirikan oleh kemampuan tampil beda atau keunikan ketimbang pesaingnya. Keungulannya dilihat dari sistem manajemen efektif, mutu produk (barang dan jasa), bentuk dan kemasan produk, harga, sistem pelayanan, sumberdaya manusia, dan teknologi. Selama ini ada kesan keunggulan bersaing perusahaan sama saja artinya dengan keberhasilan perusahaan untuk mematikan kelangsungan hidup para pesaingnya. Tepatkah kesan seperti itu? Tidak juga. Keunggulan bersaing tidak harus berarti perusahaan berperilaku organisasi negative. Biarlah perusahaan masuk dan keluar pasar terjadi secara alami. Justru keunggulan bersaing bisa berupa kemampuan untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan lain yang kurang maju. Contohnya adalah dalam kerjasama mengembangkan sumberdaya manusia dan teknologi serta jejaring pasar. Jadi intinya bagaimana keunggulan bersaing diraih tanpa harus adanya penggusuran terhadap perusahaan lainnya. Bagaimana dengan keunggulan bersaing seorang manajer?
Faktor penentu lainnya dari keunggulan bersaing perusahaan adalah mutu sumberdaya manusia (SDM). Semakin bermutu SDM karyawan semakin tinggi kemampuan bersaing suatu perusahaan. Salah satu unsur yang sangat penting untuk menciptakan kemampuan bersaing tersebut adalah mutu SDM manajer. Ia berperan untuk mengkoordinasi dan menggerakkan orang-orang di dalam unit kerjanya untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan stimulus dalam bentuk pengembangan karir dari manajemen puncak, para manajer berlomba untuk meningkatkan kinerjanya. Karena itu ada sugesti atau desakan psikologis diantara manajer untuk berupaya tampil paling prima. Ada dorongan persaingan yang dicirikan keinginannya lebih performa ketimbang manajer lain. Tiap manajer termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap serta kemampuan mengkoordinasi karyawannya. Ketika proses itu terjadi maka apakah antarmanajer akan terjadi persaingan tidak sehat?
Persaingan tidak sehat antarmanajer bisa saja terjadi. Ketika ketersediaan karir lebih sedikit ketimbang yang membutuhkannya maka ada saja manajer yang main sikut atau tidak sportif. Antara lain dalam bentuk menyebar gosip keburukan seseorang, ketidakbersediaan bekerjasama, angkuh, dan konflik pribadi. Perilaku seperti itu akan menimbulkan kontra produktif. Kerugian itu tidak saja bakal terjadi pada manajer yang berperilaku kurang sehat tetapi juga pada unit kerja dan perusahaan. Manajer yang bersangkutan akan kurang mendapat simpati dari rekan kerja lainnya. Sementara secara bertahap pihak manajemen akan mengetahui siapa saja manajer yang berperilaku kurang sehat tersebut. Dan tentu saja itu akan merupakan rekam jejak kinerja manajer yang negatif dan akan memerkecil peluang meraih karir sang manajernya. Di sisi lain suasana kerja di unit kerja akan kurang nyaman. Pada gilirannya akan memengaruhi kinerja karyawan, unit dan perusahaan. Kalau demikian apa yang sebaiknya manajer sikapi?
Seharusnya tiap manajer memiliki idealisme untuk menjadikan dirinya sebagai seorang yang professional. Seseorang yang memiliki kompetensi tidak saja di bidang ketrampilan manajerial dan teknis tetapi juga ketrampilan dalam bidang humaniora dan bahkan bidang politik. Selain itu manajer professional pada dasarnya juga sebagai seorang pemimpin. Karena itu walaupun dalam suasana persaingan apapun yang dilakukannya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk lingkungan kerja dan perusahaan. Dalam hal ini sebaiknya para manajer memiliki peran-peran yang selalu diliputi suasana kebersamaan:
1) Melakukan pengambilan keputusan melalui analisis permasalahan eksternal dan internal perusahaan. Ini dilakukan sebagai langkah yang bisa dilakukan atas inisiatif sendiri, bersama manajer lain, dan bisa bersama direksi.
2) Membangun suatu sinergitas pekerjaan perusahaan. Untuk itu manajer perlu mengembangkan komunikasi multiarah secara efektif yang dicirikan oleh kemampuannya dalam memotivasi, mengkoordinasi, dan membangun kebersamaan karyawan dalam suatu tim kerja yang kompak. Komunikasi juga dilakukan dengan rekan manajer lain dalam suasana kesetaraan.
3) Menempatkan dirinya bukan sebagai orang yang eksklusif. Karena dalam konteks mencapai tujuan perusahaan maka seorang manajer haruslah bersikap inklusif dalam suatu mekanisme organisasi dan pekerjaan yang sistemik.
4) Berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan karyawan dan sesama manajer lain. Hal ini penting dalam kerangka menjadikan perusahaan sebagai organisasi pembelajaran. Tiap individu dirangsang untuk memiliki rasa ingin tahu, mau belajar, dan sikap berbagi kebajikan ilmu pengetahuan.
Timbulnya rasa persaingan di antara manajer merupakan fenomena psikologis akibat ada stimulus dari luar. Secara sugestif rasa tersebut tumbuh pada seseorang untuk menunjukkan identitas dirinya. Dalam prakteknya, proses tumbuhnya rasa persaingan bisa sembunyi-sembunyi dan bisa terang-terangan. Apapun bentuknya, rasa persaingan tidaklah harus menjadikan manajer angkuh kalau dia jadi “pesaing unggul” dan merasa rendah diri kalau dia menjadi “pecundang”. Kedua perilaku itu sama-sama buruknya karena akan berakibat munculnya perilaku eksklusif dan kontra produktif. Kemudian kerjasama dengan sesama rekan kerja atau manajer lain akan terhambat. Karena itulah di balik persaingan, sebenarnya ada kandungan filosofis yakni bagaimana menjadikan keunggulan diri sendiri sebagai potensi membangun kebersamaan dan berbagi dengan orang lain.













Persaingan antara manajer? mungkin tergantung Manajer cabangnya, kalo suka dengan kompetisi maka bawahan nya (manajer divisi) akan berlomba-lomba, dan mau tidak mau akan ada bau tidak sehat..terlebih di forum semacam rapat koordinasi..saling menjatuhkan dan ‘menikam’ riil terjadi..
mungkin yang menunjukkan profesionalitas adalah ketika kritik dan ’sikutan’ yang saya lakukan lebih bersifat konstruktif, bukan dekstruktif, dengan demikian saya dapat 2 poin utama : yang pertama nilai saya dalam membangun keadaan dan nilai kedua menjaga relasi satu level, bahkan ada bonus nilai ketiga, saat manajer atas saya melihat pengelolaan diri saya yang baik..tapi prioritas utama pada nilai membangun keadaan, poin 2 dan 3 hanya mengikuti..
begitu sedikit yang saya alami pak, mohon koreksi..
hmmm.. senang saya membaca blog bapak ini, sudah beberapa kali juga memberi komen..hihi..kebetulan juga saya masih belum apa-apa, jadi efektif menimba pengalaman dari blog ini, dan langsung praktek di t4 kerja..
Oleh: romailprincipe on April 29, 2009
at 5:40 am
bung romail…dari respon anda khususnya pada artikel ini…anda kaya dalam parktek msdm di lapangan…..saya senang menyimaknya…jadi ulasan ikut memerkaya artikel ini…trims ya….
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 29, 2009
at 12:24 pm
kebetulan tag kepemimpinan, pekerjaan, dan sejenisnya sering walking. ketemu akademisi dan praktisi seperti bapak, jadi senang menghubung2kan..
saya kerja di gudang, sungguh masalah SDM jadi PR buat saya, karena tau sendiri gudang..so jika bapak masih menulis dengan tag seperti di atas, pasti memperkaya saya..masih hijau sih baru 1/4 abad..jadi butuh gini2.. salam
Oleh: romailprincipe on April 29, 2009
at 12:56 pm
ya bung romail….saya sudah tahu anda kerja di gudang…tempo hari mampir ke blog anda yg bagus itu…suatu saat insya allah saya mampir lagi kasih komen…salam….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Mei 1, 2009
at 10:37 pm
[...] Tulisan asli dari artikel ini dan artikel-artikel menarik lainnya tentang leadership dan MSDM dapat juga diakses melalui: MANAJER: MEMBANGUN PERSAINGAN ATAU KEBERSAMAAN? [...]
Oleh: MANAJER: MEMBANGUN PERSAINGAN ATAU KEBERSAMAAN? | Indosdm.com on Mei 1, 2009
at 12:26 am
ok bung aris
Oleh: sjafri mangkuprawira on Mei 1, 2009
at 10:37 pm
Salam kenal, pak. Tulisan ini menarik karena mengulas maslah real di setiap perusahaan.
Saya kutip: ‘Timbulnya rasa persaingan di antara manajer merupakan fenomena psikologis akibat ada stimulus dari luar..’
Lalu, apakah mungkin organisasi menciptakan stimulus lawan untuk paling tidak mengurangi rasa persaingan antar manajer dan membangun kerjasama yang lebih kuat?
Oleh: Iim Ibrohim on Mei 2, 2009
at 7:33 pm
bung iim…salam kenal juga…bisa saja stimulus diciptakan dalam bentuk forum-forum diskusi untuk adu gagasan…dalam suasana kebersamaan kerjasama yg lebih solid buat membangun organisasi…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Mei 3, 2009
at 7:36 pm