Tiap orang rasanya membutuhkan teman, termasuk saya. Teman sudah normatif menjadi kebutuhan. Butuh ketika ingin mencurahkan hati, saat butuh informasi, dan berbagi rasa bahagia, dan berempati duka. Dalam kesulitan yang dialami terkadang disampaikan kepada teman. Tukar pikiran pun tak luput perlu teman. Bahkan dengan teman kita sangat menikmati gurau gelak tawa. Sebaliknya ketika teman bersedih hati, kita harus bersimpati, berempati dan mendoakannya.
Sosok seorang teman bisa jadi semakin menarik ketika dimensi pertemanan dalam dunia politik. Ketika ada kepentingan, misalnya membangun koalisi partai, teman bisa diartikan seseorang yang mau mendengar dengan penuh simpati dan empati terhadap lawan komunikasinya. Kemudian di setiap diskusi topik pembicaraan dia mencoba mengomentari. Intinya, teman mampu membangun suasana komunikasi yang hangat dan harmonis. Ada timbal balik. Lalu muncullah deal untuk berkoalisi. Namun demikian mengapa tiba-tiba saja rencana pertemanan kongsi politik bisa menjadi buyar tidak karuan?
Disinilah pertemanan politik tidak ada yang abadi. Termasuk juga permusuhan politik. Masing-masing bisa kental dan tiba-tiba saja bisa berantakan. Jadi yang bermain dalam pertemanan itu hanyalah pada konteks yang tak terduga-duga. Kalau saja pembagian kekuasaan sudah menjadi kesepakatan maka itulah kepentingan bersama. Tapi apakah kepentingan itupun bakal abadi?. No way, kata-kata pop. Kalau begitu apa unsur pokok yang menjadikan kongsi antarpartai terwujud? Yakni unsur kepentingan yang sifatnya sesaat dan bisa juga yang relatif permanen. Katakanlah selama lima tahun pemerintahan. Tapi apakah pertemanan seperti itupun juga bakal permanen seterusnya?
Dalam situasi dimana masing-masing tokoh partai punya platform dan ide yang relatif sama maka cenderung perkongsian bisa terbentuk. Namun coba saja dalam situasi dimana partai punya ide ”ditentang” oleh teman, maka itu sudah bakal menjadi indikasi siap-siap pertemanan akan terganggu. Apalagi kalau keseimbangan terusik oleh ketidaksetaraan posisi politik. Padahal itu sah-sah saja ketika suatu partai sebagai pemenang maka posisi rebut tawar perkongsian pun akan dominan. Di sisi lain partai yang kalah lebih baik mundur dari koalisi asalkan dignity/kemartabatan atau harga diri partai bisa dipertahankan. Namun apakah kalau begitu tak perlu dituntut adanya etika politik secara taatasas? Normatifnya seperti itu. Tetapi seperti juga sifat pertemanan politik maka adakah etika politik abadi? Wallahualam……
Saya mengutip pendapat Aidh al-Qarni (La Tahzan-Jangan Bersedih, 2005); ketika Anda mendapatkan manfaat dari pertemanan dan merasa bahagia dengan perkawanan maka itu adalah kebahagiaan tersendiri buat Anda. ”Dimana orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKu? Hari ini, di hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Ku, Aku naungi mereka dengan naungan-Ku” (Al-Hadist). ”Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”.













Fenomena politik belakangan ini sebenarnya mendorong terjadinya proses pendidikan politik di kalangan masyrakat.Namun saya khawatir pada tingkat akar rumput perseteruan antarelit parpol justru membuat bingung politik.
Oleh: zulkand on April 23, 2009
at 10:36 pm
ya bung zulkand…pendidikan politik diharapkan mampu mencerdaskan masyarakat dan mampu mengkritisi fenomena pilitik…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:34 am
Para elit politik di Indonesia ternyata masih harus banyak belajar mengenai cara-cara berpolitik yang cerdas dan santun, dan hal tersebut memang butuh proses panjang. Seharusnya, para elit kita tidak mempertunjukkan arogansi demi kekuasaan, karena tanpa mereka sadari seluruh rakyat memperhatikan dan bahkan dapat mencontoh tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari. mengapa para elit kita tdk seperti Argentina, yang ketika dilanda krisis, mereka berembuk bersama mencari solusi terbaik untuk keluar dari krisis yang melanda bangsanya.
Oleh: fresh on April 24, 2009
at 5:51 am
ya fresh….seharusnya pendidikan politik yang berhasil juga ditunjukkan oleh perilaku para pemimpinnya….semacam keteladanan sebagai begawan atau negarawan….mementingkan atau mendahulukan persatuan dan kesatuan bangsa ketimbang kepentingan individu…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:37 am
Boleh-boleh saja pertemanan politik tidak abadi.Namun pertemanan insan personal seharusnya tidak demikian.Allah melahirkan kita dalam keadaan fitrah,karena itu tunjukkan kepada rakyat karakter negarawan yakni seharusnya mereka tak punya dendam satu sama lain.Itu adalah bagian dari pendidikan politik yg santun.
Oleh: avita on April 24, 2009
at 8:21 am
ya mbak avita…itulah yg mudah diucapkan namun tidak mudah diterapkan…seharusnya kita ingat semua fitrah masing-masing….
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:38 am
politik memang kejam benerkan pak…lama g kunjung neh pak…gimana kbrnya sehat pak
Oleh: haris zaky on April 24, 2009
at 10:27 am
bung haris…yg kejam sebenarnya bukan politik…namun para pelakunya….btw saya ok-ok saja semoga anda pun demikian…salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:39 am
Sudah parah banget mental para pelaku politik ya pak Sjafri…pertemanan menjadi semu karena hanya sebatas kontrak politik…
Oleh: emmy djatiningsih on April 24, 2009
at 4:24 pm
ya mbak emmy….itulah yg disebut sebagai pertemanan semu…tidak jujur…jadi lebih pantas disebut sebagai teman persengkokolan…..salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:41 am
Konon katanya, dalam politik tak ada teman atau musuh abadi, tapi yang ada adalah kepentingan abadi.
Dan saya tak berbakat di dunia politik, jadi ikut menonton dan melihat dinamikanya saja…..
Oleh: edratna on April 25, 2009
at 11:46 pm
ya mbak edratna….sepertinya demikian…namun juga saya melihatnya kepentingan bersama pun tak semuanya abadi….banyak contoh tentang itu…salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on April 26, 2009
at 7:42 am