Mungkin tanpa disadari dalam keseharian hidup kita sebenarnya berada dalam proses pembelajaran. Setiap kejadian yang menimpa kita dan orang lain merupakan pengalaman hidup. Idealnya, kalau yang memiliki daya kritis, setiap kejadian akan mendorong dirinya untuk bertanya. Antara lain dalam bentuk “apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa itu sampai terjadi? Apa akibat-akibat yang timbul pada diri sendiri dan lingkungan? Bagaimana mengatasi masalahnya?”, dst. Semua rangkaian pertanyaan dan informasi yang dihasilkan serta tindakan-tindakan yang berkait dengan itu merupakan ciri pembelajaran dari seseorang. Istilah filosofinya, ”pengalaman adalah guru terbaik…….belajarlah dari pengalaman”. Namun belum tentu semua orang berperilaku seperti itu. Dengan kata lain tidak peduli pada apa yang telah dialaminya. Tidak ada dorongan untuk menelaahnya. Lalu apakah itu bisa juga terjadi pada suatu perusahaan?
Sebagai organisasi, perusahaan terdiri dari kumpulan orang yang bekerjasama secara teratur dan terencana di bawah koordinasi seorang pemimpin untuk mencapai tujuan tertentu. Seperti juga individu manusia, perusahaan pun belum tentu semuanya sebagai organisasi pembelajaran (learning organization). Ada perusahaan yang aktifitasnya hanya sebatas rutin saja. Sementara perusahaan lain beraktifitas tidak sekedar berorientasi rutin tetapi juga pada pengembangan. Yakni seperti yang diungkap Peter Senge, bahwa organisasi pembelajaran merupakan ”The Bottom Line: Any organization that has a culture and structure that promotes learning at all levels to enhance its capabilities to produce, adapt and shape its future”. Batasan itu bisa juga disetarakan sebagai prinsip dasar bagaimana suatu organisasi pembelajaran dapat dibentuk dan dikembangkan.
Dalam hal ini organisasi pembelajaran ditunjukan oleh adanya individu-individu yang memiliki ciri-ciri: upaya untuk memperkuat kepribadian yang obyektif, meneliti dengan cermat asumsi-asumsi dan gambaran dunia bisnis, menciptakan gambaran masa depan yang baru, menciptakan kapasitas untuk berpikir bersama dalam suatu tim, dan berpikir secara sistem sehingga terjadi interelasi antara pengetahuan dan alat pencapai tujuan. Dengan demikian dalam organisasi pembelajaran terjadi proses pemberian kesempatan kepada setiap karyawan untuk belajar secara bersinambung. Pembelajaran itu dimaksudkan untuk digunakan dalam mencapai tujuan individu dan organisasi. Karena itu ada keterkaitan antara tujuan atau kinerja individu dengan kinerja perusahaan. Semuanya diperkuat dengan adanya proses berbagi informasi dan tugas, dan kalau toh ada perbedaan-perbedaan justru dimanfaatkan untuk mengembangkan kreatifitas.
Bagaimana mewujudkan perusahaan sebagai organisasi pembelajaran? Langkah-langkah yang bisa diterapkan antara lain meliputi:
(1). Tidak mungkin organisasi pembelajaran akan terbentuk kalau tidak ada dukungan manajemen puncak. Karena itu manajemen puncak harus mengembangkan budaya organisasi di kalangan manajemen dan karyawannya. Dan ini tercermin dari sosialisasi dan internalisasi tentang visi, misi, tujuan, dan strategi-kebijakan perusahaan. Pembudayaan antara lain dalam aspek-aspek budaya belajar, budaya mutu kinerja, budaya komitmen, dan budaya akuntabilitas harus sudah dimulai sejak tahap proses rekrutmen karyawan baru.
(2). Pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia berbasis kompetensi menjadi hal yang sangat pokok dalam pembentukan dan pengembangan organisasi pembelajaran. Pelatihan lebih ditekankan pada penguatan domain pengetahuan, sikap dan ketrampilan karyawan. Sementara pengembangan lebih difokuskan pada partisipasi dan otonomi dalam proses pengambilan keputusan organisasi. Dengan kapabilitasnya, karyawan diharapkan selalu siap berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi.
(3). Pengembangan umpan balik di semua lini. Proses ini terjadi pada tataran horisontal sesama rekan kerja. Dan vertikal antara atasan dan subordinasi dan sebaliknya. Umpan balik ini merupakan salah satu sisi pembelajaran kontinyu yang utamanya ditujukan untuk memperkuat daya kritis dan kreatifitas karyawan dalam memberikan masukan yang berharga bagi pengembangan organisasi. Disinilah para karyawan diajak berperanserta secara aktif dalam mengevaluasi dan merumuskan program dan indikator kinerja perusahaan berikut aspek-aspeknya.
(4). Penyediaan dan pengembangan sistem informasi dan manajemen mulai dari subsistem pengumpulan data, pengolahan, analisis, dan pelaporan, penyimpanan, serta penyebarluasan laporan ke seluruh unit organisasi. Sistem ini sangat berguna untuk mengembangkan beragam pemikiran atau gagasan-gagasan inovasi baik bersifat lunak maupun keras dalam suatu perencanaan strategis. Dengan demikian sumberdaya perusahaan (manusia, sistem, dan fisik) dapat terus dikembangkan dalam suatu proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Suatu perusahaan yang tidak menerapkan prinsip-prinsip dasar organisasi pembelajaran sama saja mengabaikan berbagai pengaruh eksternal dan pentingnya suatu organisasi memperkuat dirinya. Berarti pula perusahaan tidak mendorong terjadinya pengembangan komitmen dan kapasitas karyawan dalam mencapai tujuan perusahaan. Padahal suatu organisasi pembelajaran yang memiliki daya saing tinggi dicirikan oleh sumberdaya manusia yang unggul dan terus dikembangkan secara terencana. Dan ini ada kaitannya dengan kebutuhan perusahaan untuk mengembangkan dirinya sebagai organisasi pembelajaran karena dunia bisnis sudah semakin mengglobal yakni kompleks, dinamis, dan kompetitif.













Di era globalisasi dan informasi ini, dimanika perubahan terjadi begitu cepat.. Diperlukan gagasan atau inovasi baru dari setiap individu organisasi untuk menyiasatinya.. Sumberdaya manusia yang berkualitas (ketrampilan, kemampuan manajerial, rasa percaya diri) sangat dibutuhkan untuk dapat berkompetisi.. Tentunya dengan proses pembelajaran yang terencana.
Selamat pagi Bapak, mohon ijin artikel ini saya save sebagai bahan untuk saya pelajari…sangat bagus…Terima kasih…
salam hormat
ririnwulandari
LO dalam perusahaan belum merata.Masalahnya karena model manajemen banyak yang patrimonial.Sehingga pengembangan karyawan sering terhambat.
Proses pembelajaran tidak cukup hanya untuk karyawan nonmanajemen saja tetapi juga karyawan manajemen.Hal ini penting karena perkembangan iptek yang begitu dinamisnya.Termasuk dinamika tuntutan pasar terhadap mutu produk dan pelayanan prima.
ya mas partomo….inovasi apapun termasuk di bidang manajemen pembelajaran sudah menjadi syarat pokok kalau perusahaan akan siap bersaing di pasar global……karena itu benar pengembangan sdm menjadi sangat penting……
silakan mbak ririn….dengan senang hati….semoga bermanfaat….
betul bung rusli….kelemahan model manajemen kepemimpinan patrimonial adalah terkondisikannya kebergantungan karyawan pada bosnya…..sang pemimpin terlalu protektif…..jadi gaya kepemimpinan perlu diubah ke manajemen partisipatif…..
ya mbak kur….proses pembelajaran yang terjadi dalam LO untuk semua pelaku bisnis…..tidak hanya pada kelompok karyawan tertentu…tetapi simultan…..
Ping-balik: LANGKAH STRATEGIS MEWUJUDKAN PERUSAHAAN SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJARAN | Indosdm.com
ok bung aris
Apresiasi besar saya untuk tulisan-tulisan bapak. sangat bermanfaat buat saya.
pak, saya sedang menulis tesis tentang strategi pelatihan di sebuah perusahaan. kiranya bapak berkenan menyajikan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hal tersebut. atas perkenan bapak saya ucapkan terimakasih banyak,hatur nuhun pisan.. semoga bapak selalu sukses…
ya yuns….insya allah….kalau tidak salah ada beberapa artikel yg menyangkut pelatihan….
terima kasih ya pak..tulisan-tulisan bapak sangat bermanfaat sekali bagi mahasiswa seperti saya yang masih harus banyak belajar dan menimba ilmu.
sama-sama indra…semoga anda sukses….
semua bisa belajar dimanapun dan kapan pun dandari siapapun.
betul heni….