Oleh: sjafri mangkuprawira | Maret 28, 2009

EARTH HOUR : REALITA SUATU HIMBAUAN

Tepat jam 20.30 hari ini, selama satu jam, semua lampu di rumah saya dimatikan. Termasuk saya menghimbau penghuni rumah kosan yang saya kelola di beberapa tempat juga mematikan lampu. Lalu saya mencoba melihat sekeliling rumah untuk melihat apakah melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi? Hanya beberapa gelintir saja penghuni rumah yang mematikan lampunya. Sebagian lainnya, apakah itu rumah, warung, dan restoran,  tetap saja terang benderang. Begitu pula  lampu jalan. Lalu saya kirim sms ke beberapa teman di beberapa lokasi untuk menanyakan kondisi earth hour. Kata mereka sama saja, sebagian terbesar tidak mematikan lampu. Mungkin sebagian dari mereka ada yang  tidak mengetahui, kurang memahami, dan kurang peduli terhadap himbauan.

 

Himbauan sebenarnya merupakan langkah yang diposisikan sebagai membangun kesadaran diri. Dalam konsep pengembangan diri, kesadaran diri ditempatkan sebagai suatu kecerdasan sekaligus sikap. Yakni bagaimana dengan kesadaran diri sebagai langkah pertama dan utama, seseorang mampu mengelola dirinya secara optimum. Kesadaran diri merupakan  suatu sikap positip yang kemudian diterjemahkan dalam keseharian perbuatan nyata. Kalau kesadaran diri hanya mengandalkan pada himbauan namun tidak mempan; lalu apakah perlu pilihan tindakan lain?

 

Dalam prakteknya karena bersifat himbauan maka tidak ada resiko hukuman bagi mereka yang tidak memenuhinya. Sementara paksaan lebih pada kewajiban. Kalau dilanggar maka hukum akan berbicara. Pada konteks siklus tingkat kedewasaan masyarakat maka bagi mereka yang masih belum dewasa maka instruksi atau “paksaan” menjadi alatnya. Atau demi kepentingan khalayak yang lebih luas maka paksaan juga akan menjadi alat yang lebih ampuh ketimbang hanya himbauan.

 

Masih ingat tentang Perda yang menyangkut larangan merokok  di beberapa lokasi di Jakarta? Maka mereka yang melanggarnya dikenai hukuman. Begitu juga yang terjadi di Singapura yang dikenal masyarakatnya berperilaku disiplin. Sementara suatu masyarakat yang tingkat kesadaran dalam berkehidupan sosialnya tinggi maka setiap ada kebijakan cukup hanya dengan himbauan. Kembali dengan fenomena  earth hour ini, ternyata himbauan (via koran, radio, televisi, dan internet) kurang memiliki pengaruh dalam menciptakan kepatuhan. Lain lagi kalau itu sebagai suatu paksaan. Maka  kekuatan himbauan diduga tidak sekuat dengan instruksi bahkan paksaan. Kalau seperti itu apakah bangsa kita termasuk bangsa paksaan?


Tanggapan

  1. Di tempat saya tinggal juga yang mematikan lampu listrik sangat sedikit. Kesukarelaan berbasis kesadaran akan sesuatu untuk kepentingan luas terkalahkan oleh kepentingan egonya.Kesediaan untuk tidak menikmati acara tv dan suasana gelap walau cuma sejam dirasakan sangat ,mengganggu kesenangan orang.Dengan demikian masyarakat kita tak bakal mempan dengan hanya himbauan.Instruksi sebagai kewajiban memang masih harus diterapkan pada bangsa kita.

  2. Seharusnya masyarakat jangan abaikan himbauan demi kepentingan umum bahkan global.Mulailah dari diri sendiri.Secara kumulatif kalau himbauan dipenuhi maka banyak manfaatnya bagi semua.Perkecil kepentingan ego sesaat.

  3. Kata istri saya: daripada repot-repot menghimbau, langsung saja dari PLN dimatikan itu punya listrik…. kan lebih efektif, paling2 yang mampu akan menghidupkan genset sendiri. Begitu juga mengenai rokok: tutup saja pabrik rokoknya……

    Himbauan, nasihat dan semacamnya di negeri ini kurang begitu dihormati oleh masyarakat akibat tidak ada pemimpin yang bisa dijadikan panutan. Orangnya sedang kampanye ke luar daerah, eee AC di ruangannya ngejos terus!

  4. Lingkungan saya semalam gelap pak. tapi rumah sebelah yang lagi dibangun malah terang benderang..maklum kemungkinan para tukangnya tak tahu menahu tentang imbauan tersebut.

    Mungkin lain kali perlu juga pake selebaran melalui RT/RW…

  5. Kalau cuma himbauan biasanya tidak ada ‘penolakan’ namun ya itu, kemungkinannya lengah atau alpa untuk dilakukan. Apalagi kalau keuntungannya tidak langsung dirasakan ditambah pula malah “kerugiannya” yang terasa. Pada pemadaman Earth Hour ini, orang cenderung untuk tidak langsung merasakan keuntungan dari pemadaman ini. Malah keadaan gelap gulita justru dirasakan sebagai “kerugian” yang dirasakan langsung.

    Nah bagi masayarakat yang kurang kesadarannya dan juga mereka yang tidak jauh berfikir ke depan keadaan seperti ini pasti akan cenderung untuk dialpakan…..

  6. Ya Pak.. Himbauan saja tidak cukup untuk menciptakan kepatuhan.. misalnya himbauan pemerintah ”Merokok dapat menyebabkan kanker dst…” yang dipajang pada setiap bungkus rokok atau iklan rokok tidak dapat membuat takut para perokok. Fenomena golput, baik pada pilkada atau pemilu juga mencerminkan bahwa bangsa kita adalah bangsa paksaan. Bahkan sampai MUI mengeluarkan fatwa terkait kebiasaan merokok dan golput tersebut. Masih diperlukan instrumen tambahan yaitu paksaan untuk melaksanakan suatu himbauan.

  7. ya bung zulkand…kalau dalam teori kebijakan…maka suatu kebijakan pasti akan mengurangi kebebasan seseorang atau khalayak….namun karena kebijakan itu pada dasarnya untuk kepentingan umum yang lebih luas…maka seharusnya diikuti….nah kalau tidak diikuti artinya keegoan telah mengalahkan kepentingan umum…..

  8. ya mbak avita…itulah idealnya kalau suatu masyarakat sudah pada tahap kesadaran tinggi…..negara atau pemerintah tidak terlalu banyak mengendalikan masyarakatnya…..

  9. ya mas bodong….itulah persepsi masyarakat pragmatis….karena memang penguasa pun sering tidak taat asas dalam satunya peraturan dengan pelaksanaan….celakanya justru instansi-instansi pemerintah dan abri sendiri belum semua memberikan keteladanannya….lalu kemana khalayak mau bercermin?…..

  10. wah hebat mbak edratna….khalayak di sekitar berarti kesadarannya sudah tingggi…..kalau masih belum merata maka sosialisasi dalam bentuk lain seperti brosur bisa efektif….

  11. ya mas yariNK….kepatuhan masyarakat lewat himbauan masih rendah….tadinya saya pikir ada hubungannya dengan level pendidikan dan ekonomi…..semakin tinggi status sosial ekonomi semakin tinggi kepatuhan….ternyata tidak selalu demikian…..khalayak belum siap untuk “berkorban” meninggalkan kesenangan…. demi kesenangan yang lebih panjang…..

  12. mas pratomo….wah berarti tidak mudah tuh bagaimana menggabungkan paksaaan dan himbauan….dua sisi yang sangat antagonis…..mungkin yang perlu dipertimbangkan adalah seperti teori X dan Y….karena mereka yang terkena teori X adalah berperilaku malas dan tak bertanggung jawab maka pendekatannya harus paksaan supaya bekerja rajin dan bertanggung jawab….sementara yang teori Y,karena pada dasarnya sudah rajin dan bertanggung jawab maka pendekatannya lebih pada himbauan…..

  13. Sama, di komplek saya juga masih banyak lampu yang menyala T_T

  14. ya a3u5zli…sama dooong….dengan dekat rumah saya….

  15. masyarakat kita memang memiliki tingkat kesadaran terhadap kepentingan bersama yang cukup rendah, mengubah sifat mental seperti itu menurut saya bisa melalui pendidikan dan penerapan hukum yang jelas dan tegas

    • ya enk84…bisa lewat pendidikan formal dan informal…khususnya di keluarga…betul juga perlu ada penerapan hukum yg tegas….disamping perlu ketadanan para pemimpin masyarakat dan bangsa….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori