Ketika kampanye pemilu legislatif dan presiden semakin dekat saja maka ada beberapa pertanyaan yang dititipkan kepada para caleg untuk dikaji. Yakni kumpulan proposisi tentang bangsa Indonesia : bagaimana dengan kekayaan alam? No, yang ada semakin parahnya kerusakan lingkungan. Kekayaan SDM? No, yang ada cuma banyaknya jumlah penduduk, bukan mutu kesehatan dan pendidikan yang tinggi. Lapangan kerja? No, yang ada tambahnya pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan teknologi? No, yang ada semakin ‘terlenanya’ kita sebagai konsumen dan bukan sebagai produsen. Sangat terbatasnya dana penelitian. Kekayaan martabat? No, yang ada belum tuntasnya moral bernama korupsi, beralihnya beberapa aset nasional ke pihak asing, miskinnya solidaritas dan merajalelanya konflik sosial. Kekayaan negarawan? No juga, yang tampak lebih menonjolnya mereka yang berperilaku pada kepentingan-golongan dibanding memikirkan untuk kepentingan bangsa. Antarelit politik senangnya nyerang menyerang jauh dari kesantunan.
Lalu apanya dong yang masih bukan NO atau yang tersisa? Ya, cuma satu yakni di balik tumpukan kesedihan diharapkan masih ada spirit untuk perubahan….bangkitnya bangsa dari keterpurukan. Lalu apa artinya untuk bangsa ke depan? Ya walau seolah kita harus melangkah, khususnya karena pengaruh negatif krisis ekonomi global,…mulai dari awal lagi, tetapi tak apa, terpenting masih ada spirit untuk maju. Pertanyaannya, masihkah ada harapan dari mereka para anggota legislatif dan presiden terpilih nanti? Untuk berbuat maksimum bagi bangsa tercinta ini? Insya Allah tidak NO alias YES.













Semoga calon pemimpin bangsa ini juga mengucapkan ”Insya Allah” YES berbuat maksimun untuk bangsa ini dalam artian versi aslinya, yaitu dengan keyakinan penuh… bukan ”Insya Allah” ala Indonesia yang belakangan ini banyak diucapkan cenderung sekedar basa-basi/ lip service (Prasetya M. Brata, 2008). Ya Pak… kita harus mempunyai spirit untuk berubah dan lebih fokus ke depan.. tidak terbelenggu dalam kekurangan-kekurangan dan pengalaman buruk di masa lalu.. masih ada sumberdaya dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk merubah bangsa tercinta ini..
Oleh: partomo on Februari 15, 2009
at 7:59 pm
Para caleg seharusnya terdorong untuk membangun dirinya sebagai wakil rakyat yang memiliki idealisme tinggi dalam membangun bangsa ini.Perkecil pandangan gedung dpr dan mpr senayan sebagai ladang mata pencaharian.Ubahlah paradigma itu menjadi ladang mata pengabdian pada bangsa.Soalnya serba NO masih banyak kita hadapi.
Oleh: zulkand on Februari 15, 2009
at 8:06 pm
Semoga para caleg membaca postingan ini, agar mereka sadar.
Oleh: Singal on Februari 16, 2009
at 1:37 am
Apapun jawaban kita hendaknya disampaikan dengan santun dan apresiatif. No thanks atau Yes thank you hendaknya diucapkan sejujurnya dari perspektif yang obyektif. Si biru pasti bilang “yes” dan si merah mungkin bilang “no”, dan yang lain kadang-kadang bilang yes kadang-kadang bilang no…. tergantung “maksud, tujuan dan posisi” bukan karena fakta.
Seorang teman makan Indomie saya, seorang CEO sebuah perusahaan besar, bercerita betapa dia sangat “bete” manakala kinerja perusahaan dalam setahun ini sangat baik (dilihat dari parameter ROA, EBIDA…dll, termasuk target yang dibebankan kepadanya). Bonus yang sudah dibayangkan “menguap”, dan justru komplain yang diterimanya. Rupanya si pemilik perusahaan tidak puas thd kinerja perusahaan karena konon ada perusahaan lain yang memiliki kinerja yang lebih baik dibanding perusaannya. Selidik punya selidik, rupanya kinerja perusahaan lain sangat baik akibat suntikan modal dalam jumlah yang mencukupi dari para pemegang saham….. oooo pantas lha ada input yg cukup, lha kalau kita ibaratnya “selawe njalok slamet!”…….. (dari cerita ini ada baiknya sebelum berkomentar kita coba dulu membandingkan kondisi kita sekarang dg kondisi sebelumnya, jangan membandingkan dengan kondisi yang seharusnya atau kondisi negara lain….. nggak akan puas.
Oleh: bodong on Februari 16, 2009
at 1:46 am
Menurut saya jawabannya abu-abu diantara Yes dan No. Kita lihat saja perilaku para elit politik sekarang ini. Terlihat bahwa mereka berlomba-lomba mencari kekuasaan dengan saling serang sana-sini. Seandainya tujuan mereka adalah demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan maka yang dilakukan adalah bagaimana membuat rakyat sejahtera. Bukannya energi dihabiskan untuk saling tuding, saling tuduh, dan saling tendang.
Banyak peristiwa politik yang kalau kita cermati lebih ditujukan pada kepentingan mendapatkan kekuasaan semata, sehingga dalam ajang/pertarungan politik pihak, yang kalah akan kebakaran jenggot dan melakukan usaha-usaha protes dengan polesan istilah melakukan banding, melakukan peninjauan kembali atau melakukan pemilihan ulang, di mana biayanya bukan sedikit, sementara rakyat masih banyak yang menderita. Calon-calon pemimpin seperti ini rasanya tidak bisa diharapkan akan membawa perubahan, karena kurang berpihak pada kepentingan rakyat.
Oleh: Adi Riyanto S on Februari 16, 2009
at 3:47 am
Asw.wr.wb Pak Sjafri,
bolehkah saya meminta alamat email bapak? saat ini saya sedang menulis tesis, penelitian saya berkaitan tentang pendidikan tinggi di Indonesia. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Bapak. Terimakasih sebelumnya.
wassalam.wr.b
Oleh: Wahyuningdiah THP on Februari 16, 2009
at 2:13 pm
betul mas partomo….tidak da kata lain hanya satu yakni optimis melihat masa depan….tentunya dengan kerja keras,ikhlas, dan cerdas dalam mengembangkan inovasi di berbagai sesgi……ke arah yang lebih maju…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 1:37 am
ya bung zulkand……dibutuhkan caleg yang visioner dan jujur……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 1:38 am
ya bung singal….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 1:39 am
ya itulah mas bodong…pesepsi telah menjadi unsur penting ketika seseorang menanggapi suatu fenomena…..apapun yang diungkapkan, betul memang harus punya dasar…..ketika suatu pernyataan disampaikan bisa saja itu berupa proposisi yang harus dibuktikan kebenarannya….namun ketika selama ini gambaran fenomena dispersepsikan cenderung sama oleh semua khalayak…….maka itulah yang diduga sebagai gambaran sebenarnya…..btw membandingkan keberhasilan sesuatu tentunya bergantung dari tujuannya….kalau hanya ingin memperoleh gambaran perkembangan lokal organisasi bersangkutan….artinya cukup melihatnya dari sisi potensi dan performa organisasi sendiri bersangkutan dari waktu ke waktu…..tapi apakah cukup ketika ingin melakukan ekspansi ke pasar domestik?….ya kita perlu punya patok duga atau benchmarking yakni dengan perusahaan lain/pesaing atau pasar domestik……yakni untuk mengetahui keunggulan organisasi ybs atau kehebatan daya saing dalam hal apa…..begitu pula kalau ingin masuk ke pasar global ya harus juga kita siapkan dimana keunggulan yang perlu dipenuhi….dst….walau bisa mengecewakan tapi derajat kepuasan itu seharusnya tidak statis……itulah ciri visioner yang siap dengan risk management……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 1:52 am
ya betul mas adi….siapapun bakal mengatakan bahwa salah satu faktor keberhasilan suatu bangsa sangat bergantung pada mutu pemimpinnya……disinilah peran organisasi mulai dari unit terkecil seperti keluarga sampai organisasi pendidikan,birokrasi dan lainnya perlu terus mengkondisikan pentingnya kejujuran, kerja keras dan cerdas kepada para anggitanya…..untuk menjauhi diri dari sifat/perilaku moral hazard…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 1:58 am
waalaikum salam mbak wahyu….email saya sjaf43@yahoo.com….sialakan saling kontak ….salam thesis…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 2:00 am
Yang sering terjadi prof, ketidaktegasan antara ‘ya’ dan ‘tidak’. Suka terbalik2 yang seharusnya ‘ya’ jadi ‘tidak’ begitu pula kebalikannya. Yang tak kalah membingungkan adalah jikalau ada unsur ‘ya’ dan ‘tidak’nya. Pada keadaan tertentu bisa ‘ya’ namun bisa terjadi ‘tidak’ pada keadaan2 tertentu.
Selama masih ada celah-celah untuk mentidakkan yang seharusnya ‘ya’ dan ada celah2 untuk mengiyakan yang ‘tidak’ maka yang berbicara adalah kejujuran dan hati nurani, kalau tidak ya kasus2 ‘yes’ dan ‘no’ yang tidak pada tempatnya seperti yang dikatakan prof di atas akan terjadi dan terjadi terus di negeri ini……..
Oleh: Yari NK on Februari 17, 2009
at 7:41 am
mas yariNK ….betul, coba kita lihat sekarang ini….di musim kampanye, kita lihat bertebaran kombinasi pernyataan yes or no……pihak penguasa untuk yang menyangkut keberhasilan pembangunan cenderung say YES…..sebaliknya bagi pihak oposisi sudah sangat diduga bakal bilang NO……sementara yang tergolong kelompok wait and see bisa YES bisa NO….yakni nanti akan terbaca ketika saat-saat menjelang koalisi pemilihan presiden……nah dalam dunia politik, kejujuran dan hati nurani sepertinya menjadi sangat semu atau tak sejati atau tak pasti atau sulit ditebak…..yang sejati dan abadi cuma kepentingan…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Februari 17, 2009
at 8:59 am