Pernahkan anda memiliki gagasan tertentu namun tidak diterima oleh bos atau teman-teman kolega anda? Misalnya karena gagasan anda tidak relevan dengan tujuan organisasi? Karena gagasan anda tidak membumi? Gagasan anda tidak memiliki argumen kuat,dsb?.Jangan cepat mundur bahkan menyerah. Ada beberapa yang hal yang sebaiknya diperhatikan. Apalagi kalau anda sendiri yang diminta untuk membuat gagasan.
Katakanlah anda sedang siap untuk menghadiri suatu rapat membahas agenda survei pasar yang efektif. Rapat internal itu sendiri bakal dihadiri oleh bos dan beberapa orang yang selevel dengan anda. Dan anda ditunjuk oleh bos untuk membuat rencana kegiatan survei dan sekaligus penyaji dalam rapat. Ini menjadi kesempatan bagus untuk menjelaskan gagasan anda dihadapan pimpinan dan kolega.
Apa yang sebaiknya anda lakukan? Yang pertama adalah persiapan sebelum rapat. Karena anda diminta sebagai penggagas maka anda harus sudah menyiapkannya sebaik mungkin. Anda sebaiknya mengumpulkan data sekunder berupa laporan-laporan organisasi. Anda pelajari serinci mungkin dalam hal konsep pemasaran, masalah yang dihadapi organisasi, tren penjualan, karakteristik segmen pasar selama ini, karakteristik pesaing, dsb. Kemudian anda harus menyiapkan metode survei yang operasional dapat diterapkan termasuk teknik monitoring dan evaluasinya. Dan tentunya dengan uraian tentang penjadwalan dan dukungan personalia dan dana.
Pada tahap rapat berikutnya, anda harus mampu menjelaskan gagasan anda. Sejauh mungkin diawali dengan kelebihan-kelebihan gagasan anda. Ketika diskusi berlangsung upayakan anda tidak mudah ”menyerah” dan selalu menerima gagasan dari setiap yang hadir. Sebaliknya anda harus menunjukkan kemampuan dalam pemahaman tentang konsep-kosep pemasaran dan juga teknik survei pasar. Namun secara obyektif tidak ada salahnya anda juga menjelaskan keterbatasan gagasan dan siap menerima masukan dari kolega dan bos.
Pada tahap ketiga, anda segera memperbaiki gagasan dalam bentuk yang lebih operasional. Isinya sejauh mungkin sudah menampung masukan-masukan yang dinilai relevan tentang survei pasar. Perbaikan gagasan hendaknya disajikan dalam format buku yang menarik untuk menunjukkan anda bersungguh-sungguh membuat konsep survei pasar dengan sebaik mungkin.
Pada tahap akhir, konsep tersebut anda sampaikan langsung ke bos didahului dengan penjelasan singkat tentang isi perbaikan konsep. Biasanya respon bos ketika itu mengatakan akan mempelajari dahulu dan mungkin langsung menerima konsep yang sudah anda perbuat. Kalau toh ada masukan dari bos, dan isinya relatif sudah bagus umumnya pihak bos secara prinsip akan menerima dengan catatan-catatan kecil yang harus diperhatikan oleh anda. Setelah disetujui lalu konsep tersebut oleh pimpinan atau bos diserahkan kepada divisi pemasaran untuk segera dilaksanakan.













Yang tidak jarang terjadi adalah bos kurang menghargai gagasan bawahannya. Apalagi kalau itu datangnya dari karyawan yang relatif masih baru.Kalau sudah demikian gagasan itu menjadi mubazir.Lalu apa yang harus dilakukan oleh karyawan bersangkutan?Mohon pencerahannya pak.Terimakasih
Setiap karyawan harus dikondisikan kreatifitasnya.Manajer seharusnya yang memulainya dengan gagasan-gagasan yang ditawarkan kepada karyawannya. Lalu karyawan diminta untuk mengomentarinya. Dengan demikian karyawan bisa belajar dari sikap dan kreatiftas sang manajer.
Kalau tidak salah pada halaman pertama textbook pelajaran ekonomi karangan Keynes ditulis: yang paling sulit bukanlah melahirkan ide baru, tetapi bagaimana meninggalkan ide lama, yang telah menguasai setiap sudut benak kita. Ini menggambarkan betapa sulit menyampaikan ide, terutama kepada orang yang menganggap dirinya lebih “tahu” atau lebih senior, sehingga saya sangat mendukung Prof Sjafri untuk mengeksplor dan memberikan kiat-kiat bagaimana “menyampaikan” ide secara efektif dan efisien.
Ada kalanya juga bahwa seseorang merasa memiliki ide yang brilian, sehingga dia dengan sekuat tenaga mencoba menyampaikan idenya dan sangat berharap idenya diterima…. padahal ide yang dianggap brilian itu adalah sudah basi…. sama dengan peneliti dinegeri ini, sibuk meneliti pada topik yang sudah sering diteliti, entah karena tidak tahu hasil laporan penelitian sebelumnya atau memang “malas”.
Produsen “ide” sebaiknya juga berperan sebagai “marketing” ide itu, bahkan jika perlu juga harus bisa menerapkan ide tersebut untuk “meyakinkan” pihak lain.
Apa benar Prof kalau dalam suatu organisasi yang isinya orang “pinter” semua relatif lebih sulit diatur daripada komposisi antara yang pintar dengan yang sedang-sedang dan yang bodoh berimbang? Orang pinter kan banyak idenya………..
Pengalaman saya Pak ketika bekerja di Toko Bapak saya adalah,merupakan hal tersulit meyakinkan Beliau bahwa gagasan yang sy sampaikan lebih baik dari sistem yang sedang barjalan saat itu. Paling Bapak sy mengatakan “dari dulu juga begini dan sukses kok, ga usah dirubah”. tetapi sy tidak menyerah, sy bersikukuh melaksanakan gagasan sy walaupun ga diterima Beliau. Misalnya, sistem pembayaran ke Agen dari cash menjadi kredit 1 minggu dan pembelian barang secara sedikit menjadi banyak (karena harganya lebih murah dan cash kita tidak harus besar) memperlihatkan bahwa sistem itu lebih efisien karena kita ga perlu langsung bayar ke Agen sementara persedian yang banyak akan menguntungkan kita ketika terjadi kelangkaan. Dari Toko sy ke distributor yang lebih kecil bisa memberikan harga lebih murah sehingga akan menarik distributor kecil yang lain. Setelah beberapa kali transaksi dan Toko semakin berkembang akhirnya Bapak sy baru menerima bahwa gagasan sy lebih baik. Sy sepakat dengan tulisan Bapak bahwa kita jangan cepat menyerah kalau kita punya gagasan berbeda untuk disampaikan ke pimpinan walaupun tidak mesti gagasan kita memang lebih baik sehingga diperlukan kesabaran dan keberanian untuk mencobanya.
Assalamualaikum wr.wb. Pak Sjafri. Memang benar Pak, dalam upaya memenangkan gagasan, kita harus mempersiapkan diri, terutama dengan kemampuan pemahaman konsep-konsep yang akan mendukung gagasan yang kita ajukan. Selain itu, menurut saya persiapan mental kita juga harus baik, dalam arti kematangan emosi juga harus dimiliki oleh seorang penggagas yang baik, sehingga hal tersebut akan mempengaruhi sikapnya dalam rangka memenangkan gagasan. Terima kasih Pak.
dari konsep menjadi fpt.. kenapa semuanya musti make konsep ya? kan kadang pemborosan?
mbak nur…..suatu gagasan karena persoalan psikologis bisa jadi segan disampaikan langsung ke atasan oleh karyawan pembuat gagasan….karena itu bisa disampaikan lewat mereka yang dianggap dekat dengan manajemen puncak baik secara struktural atau kedekatan personal…..atau bisa disampaikan secara tertulis……
betul bung johan….kalau pendapat anda dilaksanakan oleh pimpinan itulah yang disebut sebagai makna organisasi pembelajaran…..perusahaan akan selalu mengkondisikan karyawannya harus aktif terlibat dalam pembelajaran……disinilah manajer harus menjadi teladan……
betul mas bodong….ketika era keynes memang belum gencar dikembangkan apa yang disebut dengan era manajemen perubahan dan inovasi……mereka, yang dalam hal ini “senior”, cenderung resisten terhadap perubahan dan dia akan tergusur oleh perubahan itu sendiri…..karena itu manajemen perubahan dan inovasi tidak lepas dari pengembangan suatu organisasi atau perusahaan sebagai organisasi pembelajaran yang sekarang sedang IN……karena itulah ide-ide yang disampaikan seharusnya memiliki kaitannya dengan hal-hal tersebut…..sebab kalau tidak suatu ide yang dianggap mutakhir ternyata sudah usang……untuk itulah inovasi dalam rangka mendukung manajemen perubahan harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan ipktek mutakhir dan sesuai dengan kebutuhan industri atau pasar……atau tidak ketinggalan zaman…..dan idealnya sang penemu inovasi seharusnya sekaligus sebagai marketer…..btw,keberhasilan memimpin orang-orang pintar sangat bergantung pada kadar kepemimpinannya termasuk kapabilitas manajerialnya…..saya pernah berkiprah di lingkungan dunia orang-orang pintar selama sekitar 22 tahun….alhamdulillah enteng-enteng saja tuh….walau harus memimpin sejumlah profesor dan doktor, dosen yang menteri dan bereselon satu……
betul bung andi…..memasarkan gagasan sekalipun kepada ortu sendiri haruslah sabar dan pantang menyerah……anda sudah menerapkan inovasi anda kepada orang lain dengan langkah-langkah: menumbuhkan atension, interest,desire,decision, dan akhirnya action…….jadi ortu anda percaya dengan gagasan anda yang dipraktekan secara langsung….setelah melalui proses klarifikasi dan penilaian kelayakannya…………
waalaikum salam ww….betul fresh…..disamping setiap gagasan harus berdasarkan konsep atau model perekayasaan yang jelas….maka kesabaran juga diperlukan……sebab gagasan sebagus apa pun kalau sulit dimengerti bukannya diterima malah justru akan ditolak……malah bisa jadi akan dicap sebagai ide konyol…..karena itu loby-loby ke beberapa akhli dan tokoh penelitian juga perlu dilakukan oleh sang penggagas…..untuk meyakinkan orang lain……
mbak kampanye…..sesederhana derajat apapun suatu aksi……pasti akan berbasis pada konsep…..misalnya ketika kita akan berbicara dengan teman maka pasti kita akan menggunakan konsep diri, konsep komunikasi, dsb…… lalu tentang pengembangan gagasan apapun selain menggunakan konsep diri juga konsep tentang inovasi dan rekayasa sosio-ekonomi-teknik…..
Ping-balik: MEMENANGKAN GAGASAN DALAM PEKERJAAN | Indosdm.com
Menurut saya juga setiap tindakan sebaiknya menggunakan konsep yang tertuang dalam gagasan. Menggunakan konsep itu tidak selamanya menghamburkan sumberdaya, tergantung apakah kita dapat membuat konsep yang tepat. Justru pembuatan konsep terkadang membantu untuk penghematan kelak, karena tindakan (terutama tindakan yang kompleks) yang tidak berbasis konsep kemungkinannya untuk berantakan lebih tinggi dan itu malah merupakan sebuah tindakan pemborosan.
Tetapi memang pembuatan konsep terkadang memang juga membutuhkan sumberdaya. Pada aspek sumberdaya manusianya sendiri, pembuatan konsep dalam sebuah gagasan melibatkan kerjasama yang intens dan juga penggunaan ‘otak kiri dan otak kanan’ atau daya analisa dan kreativitas secara simultan agar dapat menghasilkan gagasan yang tepat sasaran dan tepat waktu…..
salam pak sjafri.
sebagai manajer atau atasan, kita juga harus membuat lingkungan yang kondusif agar staf kita bisa mampu berinovasi dan tidak takut takut mengeluarkan gagasannya. karena ada atasan yang masih takut apabila gagasan staf lebih bagus sehingga menurunkan wibawanya. Bahkan ada yang mengakui gagasan stafnya itu sebagai gagasannya sendiri sehingga staf merasa tidak di akui. Sebenarnya memberi peluang staf untuk lebih berkembang tidak akan mengurangi kewibawaannya sebagai atasan. Bahkan itu menjadi tugas yang harus diembannya. salah satu indikator kesuksesan atasan adalah dengan mensukseskan bawahannya. Termasuk dengan memberi peluang staf untuk menyampaikan gagasn-gagasan terbaiknya.
Mohon mampir di http://media-curah-ide.blogspot.com/
terimakasih.
Memang lebih enak jadi bos daripada anak buah pak. Sekedar mampir pak.
ok bung aris….
betul msa yariNK…..tidak serta merta pengambilan keputusan tanpa bersusah ayah dengan memakai konsep lalu penghematan biaya akan terjadi……bahkan bisa sebaliknya karena ketidaksiapan adanya gagasan yang unggul dan berulang-ulang maka terjadi pemborosan…..karena itu memenangkan gagasan memang perlu latihan…..dan kecenderungan kalau untuk suatu penelitian dilakukan dengan trial and error……
ya mbak siti….ketika salah satu sub-sistem nilai yang dianut perusahaan adalah pengembangan SDM maka….tidak ada alasan pihak manajemen menutup pintu gagasan dari subordinasinya…..karena itu dibutuhkan kebesaran nurani untuk mendorong setiap karyawannya mengembangkan gagasan….sekalipun ide yang sangat sederhana……dan harus diberikan penghargaan yang layak……insya allah saya akan visit lagi ke blog mbak….salam
bung wong….bos dan anak buah bisa sama-sama nyaman kalau terjadi saling menghargai satu dengan yang lainnya……
Pengalaman yang sering saya alami waktu rapat adalah dan menyebalkan ada saya usul atau gagasan itu langsung ditolak, tapi sesudah 2 hari gagasan itu dijalankan tanpa dihargai atau ada orang ikut bicara dengan isi yang sama hanya bahasanya lebih banyak dan tanpa membenarkan apa yang baru saya ucapkan, wah…. harus diapakan orang seperti itu ya pak, mohon sarannya.
ya mas wawang….kejadian itu tidak jarang dijumpai….pembajakan ide orang lain….tetapi sang pembajak tenag-tenang saja dan tidak jujur untuk mengatakan siapa pencetus idenya…..tidak ada salahnya dalam kesempatan tertentu kita menegurnya……
yooooo….terima kasih….di jadiin tugas
terimakasih kembali bung emriadi….
assalammualaikum pak,,
perkenalkan nama saya aditya pak dan saat ini saya bekerja di sebuah instansi pemerintahan,
dalam tugas lapang yang saya lakukan, saya menghadapi masalah tentang motivasi di daerah tersebut,,
sebagai gambaran bahwasanya daerah tersebut dihuni oleh penduduk yang bermata pencaharian petani dan nelayan ikan. istri dari sang suami ini merupakan ibu rumah tangga dan mempunyai waktu luang yang sangat longgar,,
untuk itulah kami mendirikan sebuah kelompok tani wanita yang bertujuan agar waktu luang mereka tidak terbuang sia-sia dan dapat membantu sang suami dari sisi ekonomi..
yang jadi permasalahan disana adalah para ibu-ibu rumah tangga ini tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik,,
padahal penjelasan kepada mereka tentang keuntungan dari kelompok tani ini sudah di jelaskan secara jelas,,
bagaimana cara yang efektif pak agar kita dapat memotivasi mereka dan mereka bersedia melakukan program kami scara berkelanjutan?
bagaimana membuat mereka tetap kompak dlam menjlankan program ini pak,pasalnya setiap ada kegiatan tidak seluruh anggota kelompok datang pak?
mohon bimbingan dan bantuannya pak,,
terima kasih pak
ya bung adi…fenomena yg lazim dan kerap terjadi…intinya bagaimana inoaso sosial bisa dibangun dengan tahapan-tahapan…membangun atensi, minat, keinginan menggebu dan aksi…untuk itu seleksilah beberpa tokoh yg dipandang oleh mereka…kemudian seleksi pula mana yg unggul dalam menyampaikan pesan…mereka dilatih khusus baik dalam hal jenis inovasi manajemen, komunikasi, dan kepemimpinan…dan kita sebagai penggerak benar-benar harus bersabar…jangan berharap semua akan sekaligus aktif terlibat namun bertahap…dan kita jangan cepat mundur apalagi putus asa…semoga…