Oleh: sjafri mangkuprawira | Desember 17, 2008

HARGA BBM : BINGUNG dan BENGONG

Dalam  kamus bahasa Indonesia (S.Wojowasito, CV Pengarang, 1999), bingung diartikan sebagai tidak tahu jalan atau kehilangan akal. Hampir sama dengan bingung, makna bengong adalah terdiam setelah  mengalami sesuatu kejadian,misalnya karena tertimpa musibah. Dalam pemahaman saya, bingung merupakan awal dinamika dari seseorang ketika menghadapi suatu masalah berdimensi kehidupan khususnya fenomena ilmiah. Misalnya telaahan tentang fenomena kinerja bisnis yang cenderung menurun ketika krisis finansial global terjadi.

Biasanya setelah mengetahui kejadian ril maka kemudian akan diikuti dengan keinginan tahu untuk menjawab mengapa kejadian itu terjadi. Lalu dianalisis dan dirumuskan pendekatan pensolusian masalahnya. Dengan demikian, seseorang yang bingung akan segera mampu memperkecil ketidaktahuannya dan bahkan menghapus kehilangan akalnya. Sekaligus pula orang tersebut akan mampu menghilangkan kebengongannya dan sekaligus mencari upaya pensolusian masalahnya. Sebaliknya kalau terus bingung maka yang bersangkutan akan bengong tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

            Namun kadar bingung dan bengong di kalangan masyarakat luas yang satu ini agak lain yaitu  ketika beberapa waktu lalu ada  berbagai kebijakan pemerintah, yang membuat banyak pihak  menjadi “bingung” dan “bengong”. Contohnya mereka bingung dan tak berdaya apa yang harus diperbuat ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM. Apakah besok masih bisa makan? Apakah besok masih bisa menyekolahkan anak-anaknya? Apakah besok masih mampu membeli obat? apa lagi yang harus mereka makan?.   Saking bingung plus bengongnya mereka tidak tahu kemana lagi mereka harus pergi mengadukan nasibnya. Pasalnya DPR pun seperti bingung dan bengong tidak tahu apa yang akan dilakukan untuk membela rakyat.

Sekarang bengong lagi ketika harga premium dan solar turun; bahkan harga premium turun dua kali hanya berselang waktu dua minggu pada bulan Desember ini. Bengong karena tidak menyangka secepat itu penurunannya. Ada apa dibalik kebijakan itu, padahal pemerintah katanya tidak mengambil untung dengan penurunan harga BBM tersebut. Lalu timbulah kebingungan karena penurunan tersebut belum berdampak pada menurunnya tarif angkutan dan harga-harga bahan pokok. Apalagi barang-barang yang berkomponen bahan impor. Sejenak mereka bengong lagi karena fenomena benar-benar aneh tapi nyata. Dan yang mengejutkan adalah belum terdengar reaksi para akhli ekonomi pembangunan untuk mencari jawaban apakah penurunan harga BBM akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Ya kita tunggu saja hasil kajian akademiknya.

 


Tanggapan

  1. Wah… prof… dalam kasus BBM ini, sebenarnya saya pribadi malah bingung sendiri memikirkan siapa yang bingung dan siapa yang bengong: rakyat, pemerintah ataukah keduanya? Pemerintah mungkin sudah bengong duluan melihat harga minyak yang turun drastis secepat ia meroket dulu. Sudah begitu mungkin saja pemerintah bingung karena negara tetangga kita Malaysia sudah beberapa kali menurunkan harga minyaknya. Sementara pemerintah kita masih bingung, harga BBM mau diturunkan apa nggak ya?? Tidak diturunkan?? Membuat pemerintah sekarang menjadi lebih tidak populer. Diturunkan?? Jangan2 nanti harga minyak naik lagi. Akhirnya setelah berbingung-bingung dulu, pemerintah menurunkan harga BBM.

    Kini giliran rakyat yang bingung. BBM turun tapi kok tarif angkutan umum nggak turun? Tapi itu belum apa2, rakyat lebih bingung lagi jikalau premium habis belum lagi gas Elpiji (walaupun tidak pengaruh dengan harga BBM) yang ikut2an ‘menghilang’ dari pasar.

    Namun untungnya, rakyat kita sudah akrab dengan kebingungan. Pada saat harga BBM dulu naik, rakyat juga sudah mengalami kebingungan. Jadi, pada saat harga BBM turun, tarif angkutan nggak belum ikut turun, rasa-rasanya rakyat sudah mulai pandai me-manage rasa bingung tersebut…….

  2. Wah pak,kalau saya termehek-mehek dengan kebijakan harga bbm ini. Seperti idak tahu mau kemana arah kebijakan itu.Juga di sisi lain persediaan dan distribusi gas sebagai substitusi minyak tanah kacau. So bagaimana nih?

  3. Betul seharusnya kalangan akademisi sama pekanya ketika harga BBM naik.Dalam arti kalangan akademisi atau peneliti perlu menganalisis apa dampak penurunan harga BBM terhadap kemiskinan. Kalau tidak berpengaruh artinya kebijakan penurunan harga tsb tidak signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.Dan perlu dipertanyakan mengapa seperti itu.,

  4. ya mas yari……kebijakan pemerintah tidak jarang menimbulkan kebingungan sendiri para pejabatnya yang sering ditunjukkan oleh kebijakan operasional sendiri-sendiri…….tidak terpadu bahkan saling senggolan……buktinya ya banyak misalnya mulai dari pengadaan dan distribusi bbm,gas, minyak tanah, dan pupuk bukan saja membuat rakyat bingung tapi malah pusing…….artinya pemerintah kurang memiliki sense of crisis….dan cenderung berpikir dan bertindak seketika……

  5. ya bung johan….rupanya pemerintah lebih menekankan pada upaya konsistensi dan penyesuaian dengan harga minyak internasional…..kalau naik ya ikut naik dan sebaliknya kalau turun……namun pertanyaannya apakah dikaitkan dengan kebijakan ekonomi makro keseluruhan?….dan memperkirakan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat?……

  6. ya mbak avita….saya sendiri sangat menunggu reaksi kalangan akademisi yang kompeten untuk menelaah pengaruh harga bbm yang turun terhadap kesejahteraan masyarakat…..

  7. Ketika negara dan pemerintah, berperilaku seperti (baca: kumpulan para) pedagang, sedangkan rakyat diposisikan sebagai pembeli, hitungnya bukan lagi memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi berapa keuntungan yang mampu diraup oleh sekumpulan orang tertentu, persis mental (kebanyakan) pedagang, ketika harga beli naik, hitungannya cepat tuk menyesuaikan harga jual, tetapi ketika harga beli turun, 1001 pasal digunakan tuk membela diri agar harga jual tetap tinggi, alasan insentiflah, menunggu sidanglah, penurunan hanya 15% lah. Bukankah, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS.At-Tatfif 1-3).

  8. Pak saya termasuk golongan yang bingung dengan kebijakan pemerintah itu.Mungkinkan itu sebagai pendekatan berbentuk konsumsi atau enerji politik menjelang pemilu 2009?

  9. ya itulah mas ris…….kalau jiwa kewirausahaan pemerintah yang salah diterapkan…….seolah inginnya hanya untuk efisiensi “perusahaan”….namun mengorbankan efisiensi sosial dengan membebankan biaya sosial ke masyarakat…….”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (al-Mutaffifiin; 83)

  10. mbak kur….wallahualam….saya tidak berpretensi penurunan harga bbm merupakan iklan politik menjelang pemilu nanti…..yang jelas kita sudah ketinggalan kereta ketika malaysia sendiri sebelumnya sudah menurunkan harga bbm sebanyak tiga kali…….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori