Hari Kamis pagi minggu ini, di kelas Manajemen Program Komunikasi, sebanyak 18 orang mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3; angkatan 2007 dan 2008) IPB yang mengambil program mayor Komunikasi Pembangunan mengadakan diskusi yang menyangkut iklan politik di media televisi. Makalah dan diskusi yang digelar tersebut adalah salah satu tugas akademik yang saya berikan  kepada mereka. Tujuan pokoknya  pertama, agar para mahasiswa mampu mengembangkan pengetahuannya tentang program komunikasi dan komunikasi program khususnya tentang periklanan; dan kedua mampu memahami dunia politik melalui review fenomena komunikasi iklan politik yang dilakukan beberapa partai khususnya kasus menjelang pemilu 2009 yang tinggal lima bulan lagi.

 

Kebanyakan topik diskusi dan makalah berkisar pada isi pesan, siapa khalayaknya, dan kemasan iklan serta tampilan tokoh. Terungkap, sebagian besar isi pesan dari tema iklan atau kampanye  menyangkut aspek-aspek kemiskinan, pengangguran, daya beli rakyat, kebutuhan pokok rakyat luas, keadilan hukum, keamanan, dan kesatuan-persatuan bangsa. Sementara  pada sisi program, tema utama kampanye juga cenderung bervariasi. Ada yang berjanji untuk mengembangkan rasa cinta pada produk sendiri, membela petani, penyediaan lapangan kerja, harga bahan pokok yang murah, dsb.

 

Alasan mengapa isi pesan tertentu disampaikan adalah karena dua hal. Pertama, ekstrim karena kebijakan pemerintah sampai saat kini belum mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat. Ya jadi perlu diperjuangkan oleh partai-partai khususnya partai baru. Namun  tak ada satupun sisi dari keberhasilan pemerintah diungkapkan. Sementara bentuk yang kedua adalah kampanye yang menonjolkan keberhasilan kebijakan pemerintah yang menyangkut persentase penurunan jumlah penduduk miskin, jumlah penganggur yang menurun, dan keberhasilan dalam keamanan, Jadi sejak dalam kampanye pun sudah jelas bahwa tanda-tanda terdapatnya oposisi bukanlah fenomena yang aneh. Tak ada tempat dalam pikiran oposan untuk mengatakan bahwa ada keberhasilan yang dicapai oleh pemerintahan sekarang. Inilah yang disebut sebagai politik iklan. Karena kalau keberhasilan juga diungkapkan oleh oposan maka berarti sama saja partai bersangkutan  “bunuh diri”.

 

Bagaimana dengan tampilan atau kemasan iklan? Berbeda dengan isi tema dan program yang sifatnya relatif masih umum dan penuh janji, tampilan atau kemasan iklan cukup beragam. Begitu pula frekuensinya. Ada yang menampilkan hampir setiap hari dan ada juga yang seminggu sekalipun tidak. Tetapi waktu tayangan hampir semuanya sama yakni ketika waktu prima dimana hampir semua segmen pemirsa menonton televisi. Terbanyak ditayangkan  ketika momen  laporan berita dan hiburan. Tampilannya, mulai dari yang penuh warna, eksotis, dan gegap gempita sampai ke yang sangat moderat dan warna  yang pucat pasi. Ada yang tidak jelas isi pesannya, monoton, kurang greget, serta  jauh dari eksotik apalagi estetika.

 

Yang jelas periklanan politik menjelang pemilu 2009 jauh lebih semarak ketimbang pemilu tahun 2004. Suasana kompetisi untuk merebut pemilih semakin tinggi intensitasnya. Semua penuh dengan janji warna-warni. Program-program ditawarkan untuk membangun bangsa ini. Namun pertanyaannya apakah sudah dipikirkan dan disiapkan strategi dan taktik pencapaiannya? Bagaimana menggalang dana pembangunan untuk itu? Bagaimana strategi kebijakan moneter dan fiskalnya? Bagaimana dalam waktu relatif singkat ini mereka menyiapkan pilihan konsep mengatasi akibat krisis finansial global terhadap perekonomian rakyat? Ternyata tak satu pun partai yang beriklan menawarkannya secara utuh.

 

Apapun mereka sudah mengisi pesta demokrasi ini sesuai dengan haknya. Cuma yang patut disadari bahwa tidak menjadi jaminan semakin banyak iklan yang disajikan dengan seribu janji bakal otomatis diikuti dengan semakin banyak perolehan suara dalam pemilu yang diraihnya. Masih ada faktor-faktor lain yang memengaruhinya, termasuk kadar kompetensi dan performa tokoh partai itu yang diunggulkan. Tinggal lagi bagaimana secara moral politik mereka yang menang dalam pemilu nanti harus dapat memenuhi janji-janji seperti yang dikampanyekan. Masyarakat sudah semakin pintar, sadar, dan kritis bagaimana mereka menggunakan hak demokrasinya secara bersih.

About these ads