WIN-WIN : SUDAH KUNO?

 

 

Krisis finansial gobal sedang menerpa dunia bisnis kita. Ancaman terjadinya penurunan kapasitas produksi di beberapa perusahaan tekstil atau garmen, kayu, minyak kelapa sawit, manufaktur tidak mudah dihindari. Buntutnya adalah sebagian karyawan  terkena PHK dan ada yang dirumahkan.  Bisa jadi ada beberapa perusahaan yang mungkin  akan pailit. Karena itu ada  anjuran dilakukannya merger antarperusahaan tertentu agar perusahaan masih bisa bernafas. Kalau sudah begitu semua pihak berharap akan datang suatu mujijat kembalinya kondisi ekonomi pulih kembali. Namun apakah seperti secepat membalikkan tangan? Secepat itukah para pengusaha dan karyawan bisa merubah harapan menjadi realita? Karena itulah dalam konteks memperkecil terjadinya konflik antara pengusaha dan karyawan akibat PHK dan antarpengusaha yang akan bergabung sering ditempuh perjanjian berbasis  win-win.

 

Terminologi win-win begitu kerap diungkapkan dan cukup bervariasi belakangan ini. Ada win-win solution, win-win result, dan win-win outcome. Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa kalau bicara “win-win” berarti bicara sesuatu yang klise atau kuno. Sesuatu yang “non-sense” dan tak ada ruang dalam dunia yang begitu kerasnya bagi pemenang dan pecundang. Benarkah demikian? Itu adalah pandangan yang pesimistik. Ketika suatu perusahaan menghadapi konflik dengan karyawan atau dengan perusahaan lain maka tentunya perlu negosiasi. Sasarannya mencari jalan keluar terbaik yang memuaskan ke dua pihak. Seberat apapun proses yang terjadi maka tujuan “win-win” menjadi keharusan. Tak ada seorang karyawan dan begitu pula perusahaan ingin menjadi pecundang atau pihak yang kalah.

 

Menurut Baden Eunson (Conflict Management, 2007), salah satu dari pelajaran yang paling sukar ketika bernegosiasi bahwa dalam mencapai persetujuan kita perlu bersedia memberikan sesuatu yang berharga kepada pihak lain yang sebenarnya kita tidak menyukai untuk melakukannya. Keputusan ini tidaklah mudah karena dua hal. Pertama adanya tekanan-tekanan pihak mereka, dan kedua mereka mampu mengambil semua konsesi dari kita. Hemat saya kita memang harus memberi sesuatu. Yang kedua, secara bersamaan kita pun mendapatkan hal lain sesuai dengan kebutuhan kita. Ini dilakukan dalam rangka untuk mencegah kehilangan “muka” masing-masing. Semua pihak jangan merasa ada yang dikalahkan. Sekaligus bagaimana menghindari terjadinya saling beresistensi. Dengan kata lain biarlah kita kehilangan sesuatu yang kecil namun mampu meraih kemenangan. Menang dalam pertempuran kalah dalam perang.

 

Dinamika “win-win” dapat juga berlaku ketika, contohnya dua perusahaan, masing-masing memiliki kekuatan atau spesialisasi, bernegosiasi untuk bergabung. Bisa dibayangkan proses itu tidaklah mudah berhasil. Pasti ada kepentingan-kepentingan tersendiri. Resistensi dimana-mana. Apakah dalam hal penempatan pimpinan perusahaan, struktur organisasinya, manajemen finansial, manajemen sumberdaya manusia dsb. Tidak pelak lagi untuk itu dibutuhkan negosiasi berbasis saling menguntungkan. Tujuannya adalah penggabungan perusahaan diharapkan memiliki kekuatan sinergis lebih besar ketimbang tidak bergabung.

17 Komentar

Filed under Iklim bisnis, MSDM

17 Respon untuk WIN-WIN : SUDAH KUNO?

  1. Win-win solution memerlukan kerjasama beberapa pihak. Pengalaman saya bekerja di bidang restrukturisasi, ternyata yang menentukan suatu perusahaan dapat diperbaiki atau tidak, adalah kemampuan pemilik atau manajemen perusahaan untuk berkorban, dan harus didukung penuh oleh karyawan. Sayangnya tak semua karyawan memahami ini…di kala perusahaan menurun, mestinya karyawan tak menuntut kenaikan upah, namun di saat perusahaan naik, manajemen mestinya juga memberikan insentif agar kinerja karyawan meningkat.

    Memang sebetulnya lebih kepada sifat dasar manusia, dan karena dipengaruhi oleh banyak orang..penerapan win-win solution tidak mudah, butuh kepemimpinan yang kuat, yang mampu menerjemahkan situasi yang ada, dan mampu meyakinkan semua pihak bahwa masih bisa diatasi.

    (OOT: Wahh bapak ternyata tak bisa hadir ya di PB08? Saya udah ngeyel ke KK, kalau ada bapak…saat KK tanya, yang mana bu? Saya tak bisa jawab, lha lupa sebelumnya untuk mohon nomor hape bapak lewat japri)

  2. Cahyono Tri W

    kantor saya yang dulu ada temen namanya (Winanti) wiwin panggilannya, setiap rapat boss mengarahkan ke kami bawahan cari jalan keluarnya win win aja …. kata temen 2 yang lain laris amat tuh Si wiwin…. itu anak TOP (Tiap Orang Pakai) bukan itu win win solution maksudnya ha ha ha … btw pak Syafri yth, dalam praktek susah pak mundur dengan tidak kehilangan muka, yang terjadi mengalah sementara untuk menang pada kesempatan lain ( biasanya ) meraka mengatur strategi yang tepat yang dipersiapkan untuk negosiasi pada waktu yang akan datang. artinya menunda kemenangan sekarang untuk keberhasilan di lain kesempatan itu yang banyak terjadi. apa itu termasuk win -win pak ?

  3. Mungkin prof selain ada win-win solution, ada juga lose-lose solution di mana setiap fihak harus dapat atau terpaksa menelan ‘pil pahit’. Contohnya pada saat krismon yang lalu, beban yang dipikul sebaiknya dipikul secara merata proporsional baik oleh pekerja maupun fihak manajemen sehingga semua sama-sama menelan pil pahit agar dapat bertahan dalam situasi yang sulit……

  4. sayangnya win-win solution khususnya hubungan antara pengusaha dan pegawainya sifatnya hanya sementara. Betul yang ditulis pada komentar pertama, sifat dasar manusia pada dasarnya tidak mau mengalah. Niatnya mengalah untuk menang :D
    Kepentingan masing-masing pihak juga berbeda 180 derajat, dimana pihak pengusaha contohnya ingin tidak ada kenaikan gaji, bonus, dll namun pihak pekerja ingin yang sebaliknya. Nah kalo kepentingannya saja sudah berbeda pasti tidak akan tercapai yang namanya win-win solution, yang ada seperti yg saya tulis diatas. Tiarap dulu .. mengalah dulu .. buat strategi … lalu serang … berharap menang.

  5. mudah untuk dikatakan dan sudah untuk dilakukan

    pasti ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan :)

  6. sjafri mangkuprawira

    betul mbak edratna….unsur kunci keberhasilan win-win adalah pemahaman yang sama tentang arti win-win,tentang isi suatu deal,karakter pelaku win-win, dan kejujuran di kalangan mereka yang terlibat dalam proses itu……dan tentu saja dukungan kuat pemimpinnya……btw ya mbak saya tidak bisa ikut pb08….dan terimakasih info pbnya yang lengkap….

  7. sjafri mangkuprawira

    betul mas yariNK…selain ada win-win…ada juga win-lose, dan lose-lose……yang ideal tentunya win-win walau syaratnya tidak sederhana dan mudah……sementara kalau win-lose ada yang menang dan ada yang kalah….asalkan model ini disertai dengan “ikhlas” seharusnya tidak ada konflik….tapi belum tentu….lihat saja pada setiap pil-kada selalu saja ada yang tidak rela menelan pil-pahit….protes sana sini….sementara ciri-ciri tipe lose-lose seperti yang mas jelaskan….salam….

  8. sjafri mangkuprawira

    ya bung indra….karena itu pentingnya suatu organisasi atau perusahaan memiliki vis dan misi yang menggambarkan antara tujuan dan kepentingan perusahaan dan karyawan seharusnya koheren……….tentunya perlu budaya organisasi……selain itu pihak manajemen harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang handal……plus kepimpinan yang visioner,jujur,adil dan pengaruh kuat…..nah itulah idealnya…..

  9. sjafri mangkuprawira

    ya mas cahyono…itu namanya perang ada yang win dan ada yang lose….pengertian win-win sebenarnya diawali dari sama-sama atau saling memahami isi konsep win-win dan perjanjiannya juga caranya……apapun hasilnya seharusnya membuat semua pihak merasa ikhlas dan senang…..salam buat neng winwin……

  10. sjafri mangkuprawira

    ya bung iman….itu namanya bukan win-win tapi win-lose dan lose-lose…..

  11. Rahadi Sucahyo

    Manang-menang ataupun kalah-kalah akan kita coba kaitkan dengan budaya orang Jepang (saat itu, saya tidak tahu persis saat ini seperti apa), misalkan kita sedang jalan kaki dan menyenggol tidak sengaja pundak orang Jepang. Sudah dapat dipastikan bahwa si orang Jepang yang akan lebih dahulu meminta maaf (padahal kita yang salah). Bagaimana situasi itu apabila kita sedang jalan misalkan di Pasar Baru, apabila kita kesenggol oleh pejalan kaki lain akankah kita meminta maaf terlebih dahulu, tentunya tidak dan kita akan mengedepankan prinsip win dahulu (maklum merasa benar dan tidak sedikitpun ada rasa salah).
    Saya tidak bermaksud menyetujui judul artikel bahwa win-win sudah kuno, tetapi mungkin akan menjadi lebih gampang dalam mencari solusi permasalahan apabila kita juga mempertimbangkan budaya atau kebiasaan, temperamen, perilaku dari lawan negosiasi kita.

  12. ali

    dengan dikeluarkan skb 4 menteri apakah termasuk win-win solution ya pak.tadi saya lihat di tv one membahas itu. saya lihat tidak ada kesamaan aturan antara pekerja-pengusaha-pemerintah bisa jelaskan gak pak ya.

  13. eva

    seringkali untuk mencapai kondisi win-win (kolaborasi), kita harus melalui tahap lose-win (akomodasi).
    waktu kecil, saya paling senang nonton tokoh laura dalam film little house on the prairie. kalau saya sedang asyik menonton film itu, tidak ada satupun yang bisa mengganggu. padahal film itu biasanya diputar pagi hari, saat dimana saya harus membantu ibu menyiapkan makan siang. apa yang dilakukan ibu saya? beliau tidak pernah memaksa saya untuk membantunya (yang biasanya sih hanya sebatas kupas dan iris bawang serta cabe), tetapi memberikan penawaran pada saya “oke kak, kamu boleh nonton laura sampai selesai. tapi setelah itu, bantu mama ya kupas dan iris bawang”. ibu saya mengalah dengan mengakomodasi kepentingan saya, tetapi akhirnya dia menang dan mendapatkan bantuan yang dia perlukan dari saya secara sukarela.
    berbeda dengan ayah saya. beliau sudah tahu saya lagi asyik nonton laura, eh beliau suka sekali mengganggu dengan mengeluarkan instruksi-instruksi: “kak, tolong ambilkan sikat dan semir sepatu bapa! tolong kemarikan koran itu! atau tolong ambilkan bapa minum!”. perlakukan ayah saya tidak menyebabkan beliau memperoleh kemenangan (mendapatkan apa yang ia minta). yang terjadi adalah beliau mendapatkan perlawanan dari saya dan akhirnya kami berantem sampai ibu datang menengahi (tapi sekarang saya dan ayah sudah kompak kok pak).
    tidak mudah memang untuk mencapai situasi win-win. tetapi kita harus terus mengusahakannya to make everybody happy.

  14. ya betul mas rahadi….ketika perusahaan akan membangun suatu aliansi manajemen intenasional dengan pihak bisnis luar negeri…..salah saru yang harus dipelajari adalah masalah budaya……tidak saja harus memahami karakter mereka berbisnis tetapi juga karakter budaya bahasa,sikap,personaliti,budaya makan, budaya pakaian, dsb……tentunya agar proses aliansi itu tidak perlu berbenturan dengan ragam budaya dan diharapkan kerjasama bisnis bisa berjalan lancar……btw tentang budaya maaf…..konon ada salah satu suku di jawa,kalau kaki warganya terinjak orang lain….lalu berucap lirih,mas maaf kaki saya terinjak oleh mas…….tolooong…….blablabla…..

  15. bung ali…skb 4 menteri diprotes karena dikhawatirkan tidak ada mediator dan pemutus kalau terjadi perselisihan antara karyawan dan pengusaha…….merasa bakal tertindas…..itu pendapat sebagian terbesar karyawan….jadi konon pemerintah akan menjinjau ulang skb tsb…..

  16. ya mbak eva……win-win yang berhasil dicirikan antara lain oleh kuatnya pemahaman dari para pelaku win-win tsb…..tentang isi deal, posisi masing-masing berikut tanggung jawabnya, dan tentang segala konsekuensi dari suatu deal…..btw, kalau cuma bantu ngiris cabe dan bawang sebenarnyanya bisa sambil nonton teve ya…..dua-duanya tercapai yakni ibadah bantu ortu dan sekaligus menikmati tontonan hiburan……oh ya,sukurlah anda sudah kembali “rukun” dengan ayahanda……salam

  17. Ping-balik: WIN-WIN : SUDAH KUNO? | Indosdm.com

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s