MERANCANG PERBAIKAN MUTU DAN PRODUKTIVITAS

 

            Adakah krisis finansial global yang sekarang ini terjadi mendorong perusahaan nasional untuk segera mencari solusi bisnisnya? Terutama kalau hal itu berkait dengan persaingan yang semakin menajam dalam hal mutu dan produktifitas. Merancang strategi perbaikan mutu dan produktifitas membutuhkan pendekatan analisis yang cermat. Mengapa? Karena tiap perusahaan akan mengukur produktivitas dan mutu berdasarkan keunikan tujuan dan sasarannya. Sebagai contoh, suatu perusahaan akan lebih fokus pada upaya-upaya pengembangan pangsa pasar sementara yang lain mungkin fokus pada pengurangan derajad kerusakan produk. Atau bisa juga berdasarkan tingkat keuntungannya dan return on investment. Selain itu, mungkin ada pula yang akan memperbaiki dalam hal cara produksi dan sistem kerja sedang yang lain fokus pada mengembangkan sumberdaya manusia dan pemasaran hasil. Karena itu diperlukan diagnosis permasalahan di berbagai aspek bisnis.

           

Untuk merancang suatu program perbaikan efektivitas keorganisasian, perusahaan pertama kali harus menentukan apa yang terjadi secara faktual; apakah dalam hal produktivitas atau mutu produk. Mungkin saja perusahaan pertanian sedang mengalami penurunan keuntungan karena sedang menghadapi resesi ekonomi atau mungkin juga karena perubahan musim. Ukuran  dari kriteria kunci suatu mutu adalah syarat pokok untuk menilai suatu proses perbaikan. Intervensi produktivitas atau mutu seharusnya tidak diinisiasi tanpa  adanya kriteria  kunci ukuran yang handal dan absah.

           

Banyak faktor yang menentukan  produktivitas dan mutu produk yang rendah. Faktor-faktor tersebut antara lain peralatan yang kuno, beban kerja yang tidak dapat diprediksi, arus kerja yang tidak efisien, rancangan pekerjaan tidak tepat, dan jarangnya kegiatan pelatihan dan pengembangan. Disamping itu adalah faktor-faktor intrinsik karyawan itu sendiri seperti tingkat pengetahuan, sikap,ketrampilan dan kemampuan serta motivasi. Semuanya dapat menyebabkan biaya produksi menjadi mahal.

 

Kebanyakan strategi intervensi program perbaikan mengasumsikan bahwa faktor-faktor penyebab utama produktivitas dan mutu adalah kemampuan dan motivasi karyawan. Namun dari pengamatan, sekitar 80-85% dari masalah produktivitas dan mutu dalam perusahaan adalah karena faktor-faktor sistem daripada faktor manusia. Misalnya, ketidakberhasilan penerapan gugus kendali manajemen sangat ditentukan oleh bahan baku yang rusak, rancangan produksi yang salah, kesalahan manajemen, dan pemeliharaan perlatan produksi yang kurang. Implikasinya adalah perbaikan produktivitas dan mutu lebih banyak didasarkan pada sistemnya itu sendiri; tidak selalu dari unsur manusianya.

           

Namun demikian bukan berarti pula bahwa unsur manusia tidak menentukan produktivitas dan mutu produk. Sebagai pelaku produksi tentunya langsung dan tidak langsung dapat memengaruhi produktivitas dan mutu. Perdebatan di kalangan internal bisa saja tetap berlangsung tentang faktor mana yang paling dominan, apakah sistem atau manusia. Karena itu kalau akan melakukan perbaikan produktivitas dan mutu, manajer harus melakukan analisis dan  pendekatan masalah yang spesifik di  perusahaan. Perlu ada dukungan data kuantitatif misalnya angka-angka indikator kinerja utama. Dengan kata lain perlu dihindari pendekatan masalah berlebihan yang hanya mengandalkan perasaan dan intuisi semata. Begitupula sebaiknya jangan hanya mengandalkan pada otoritas manajemen puncak saja. Dukungan survei pasar dan sistem informasi manajemen baik dalam hal input, transformasi,  output, harga,  distribusi dan pemasaran, serta pasar kerja  menjadi sangat penting.

 

18 Komentar

Filed under Iklim bisnis, MSDM, Mutu

18 Respon untuk MERANCANG PERBAIKAN MUTU DAN PRODUKTIVITAS

  1. nuraini

    Hemat saya pendekatan terbaik dalam merancang perbaikan mutu dan produktifitas adalah pendekatan sistemik.Semua subsistem tidak kecuali harus mengarahkan setiap kegiatannya ke perbaikan tersebut.Di tingkat direksi diperlukan suatu rancangan pendekatan holistik produksi dan human capital.

  2. rusli

    Tampaknya masalah mutu dan produktifitas tidaklah sederhana.Faktor-faktor yang memengaruhinya cukup banyak.Karena itu tepat kalau pendekatannya pun seharusnya dilakukan secara komprehensif.

  3. mbak nuraini……betul dan pendekatan sistemik sudah lama menjadi tuntutan bagi organisasi….namun kenyataannya masih banyak yang hanya mengandalkan pendekatan praktis dan pragmatis…..dan parsial…..

  4. ya bung rusli….pendekatannya harus sistemik,holistik, dan komprehensif……

  5. Untung H

    Saya bingung mau komen apa….
    ikut mengamini saja Pak…..,pokoknya harus sistemik, holistik dan komprehensif….(itu yang akan saya ingat-ingat). ya…sebagaimana diungkapkan Bapak, dan dua komentator sebelumnya (Mbak Nuraini dan Bung Rusli)

  6. Agus Sutrisno

    Kuliah Prof minggu lalu menjadi lebih melekat setelah membaca tulisan Prof dan komentar sebelumnya. Memang perbaikan mutu dan produktivitas harus dilakukan secara sistemik, holistik dan komprehensif. Standar mutu dan produktivitas harus menjadi komitmen bersama di semua lini. Perangkat dalam rangka tujuan ini juga harus ada; SOP dan baku mutu yang mutlak harus difahami oleh setiap penanggung jawab.

    Hanya saja ditengah kondisi krisis global seperti saat ini, banyak yang bertindak pragmatis dengan cost cutting (bukan lagi efisiensi), dan bahkan rasionalisasi, dengan buru-buru memilah karyawan yang dinilai kurang produktif untuk “diselesaikan”. Ketika peluang membaik, rekrutmen dilakukan lagi….!?. Rasionalisasi hendaknya menjadi alternatif yang “ke sekian” setelah benar-benar dipertimbangkan dan tidak ada alternatif lain yang lebih baik. Demi perbaikan mutu dan produktivitas, bisa dimaklumi upaya ini dengan tetap mengacu pada review performance dan assesment.

    Di usaha agribisnis on farm, biasanya antara kuantitas dan kualitas menjadi pilihan “yang mana yang harus diprioritaskan” walaupun idealnya dua-duanya sejalan. Ketika pasar membaik, kuantitas menjadi prioritas dengan kualitas sedikit mengalah. Nah dengan demikian, pada saat kondisi krisis global saat ini, dimana pasar agak surut adalah waktu yang tepat bila menetapkan Kualitas sebagai prioritas.

  7. Ping-balik: MERANCANG PERBAIKAN MUTU DAN PRODUKTIVITAS | Indosdm.com

  8. Budi Rahardjo

    Dalam kondisi yang sulit ini saya mengajak semua rekan2 untuk terus menerus memahami,mendalami,memaknai terhadap apa saja yang disampakan Professor kita yang jitu ini.
    Merancang Perbaikan Mutu dan Produktivitas di era sulit ini(bagi dunia usaha swasta)mutlak diperlukan pelaksanaan secara komprehensif.Pendalaman identifikasi rinci dalam waktu yang relatif singkat,penerapan/penyesuaian dalam rencana strategis lingkungan(perusahaan&client) yang pada saat sama sedang berada Uncommitment karena tidak menentunya pasar,implementasi yang disertai monitoring & adjustment untuk penyesuaian terhadap perubahan itu sendiri,adalah kebutuhan mendesak dalam kurun waktu 3 s/d 6 bulan kedepan.
    Management Policy Guide yang Flexible atau Flexibility yang dijadikan landasan sebagai Policy Guide seringkali terpakai kedua-duanya dalam menempuh goal goal tertentu.
    Komunikasi&bimbingan Professor terus menerus kami sangat memerlukannya dalam menyongsong era sulit dalam dunia usaha swasta yang sedang kami jalani ini.

  9. sistem dan manusia, benar pak keduanya amat sangat berperan dalam perbaikan mutu dan produktivitas..

  10. ya bung untung….tinggal lagi bagaimana menterjemahkan terminologi yang jenerik itu menjadi praktek yang spesifik operasional……

  11. betul bung agus….uraian anda telah memerkaya artikel ini…..jadi seharusnya pelaksanaan mutu dan produktivitas berbasis perencanaan stratejik…… salam

  12. betul mas budi…..uraian anda telah memerkaya artikel ini….intinya setiap tindakan jangan berlandaskan berpikir seketika….kemudian unsur kepekaan dan responsif menjadi indikator sejauh mana perusahaan harus menjadikan suatu kondisi turbulensi eksternal,misalnya, sebagai parameter dalam menyusun skenario perencanaan mutu dan produktifitas……salam

  13. bung achoey….saya juga bangga pada pemuda-pemuda seperti anda dan teman-teman blogor…..banyak bicara (ide) juga banyak kerja……salam

  14. betul hangga….karena manusia sebagai subsistem dari perencanaan dan program perbaikan mutu dan produktifitas…..

  15. Ign. Jeffrey

    MUTU atau MATI… itu adalah beberapa judul buku. Persaingan semakin ketat, perusahaan yang tidak secara terus menerus meningkatkan mutunya (continuous improvement/ gemba kaizen), maka cepat atau lambat perusahaan tersebut akan gulung tikar.
    Banyak hal yang dipelajari dari Kaizen seperti: Lean production system, 7 waste dimanufacturing, value added vs non value added, ergonomic-work flow & work station, material flow & line layout, base data vs improvement, dll.

    Untuk mengidentifikasi perbaikan-perbaikan mutu secara comprehensive/ holistic diberbagai aspek dalam organisasi, hal ini dapat diawali dengan melakukan Organization Capabilities Analysis (OCA). Dalam OCA, tentunya pertama-tama akan dilakukan Organization Appraisal, hal ini dapat dilakukan dengan beberapa metode dan teknik sebagai berikut: VRIO Framework (Value-Rarity-Imitability-Organisation), Value Chain Analysis, BCG Matrix, GE Matrix, PIMS (Profit Impact of Market Strategy), Mc Kinsey-7S, Competitive Advantage Profile, Strategic Advantage Profile, Internal Factor Analysis Summary, BSC (Balanced Score Card)… dan masih banyak lagi teknik dan metode yang bisa digunakan.

    Dari sini, kita akan mendapat berbagai action plan untuk melakukan perbaikan-perbaikan mutu diberbagai aspek/ management organisasi, yang dituangkan dalam Approved Business Plan. Tentunya didalamnya termasuk juga bagaimana manage Intellectual Capital (include: protect IC dan membuat report IC), yang ujung-ujungnya make money from Intellectual Capital for the Company.

  16. betul mas jeffrey….banyak sekali referensi tentang mutu yang isinya sangat analitis dan bersifat strategi operasional sesuai dengan tuntutan pasar…..yang tak terpisahkan dari strategi keunggulan untuk meraih pasar dengan berdaya saing tinggi……perbaikan mutu sama saja dengan bertemunya strategi bisnis dengan tuntutan pelanggan dan konsumen yang dinamis ……namun beberapa referensi juga mengingatkan jangan abaikan faktor pelaku produksinya yakni para karyawan (manajemen dan non-manajemen) yang semestinya juga unggul…….btw terimakasih atas ulasannya yang sangat bermakna…..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s