Adakah kaitan krisis moneter dan ekonomi global dengan perlunya manajemen perubahan; khususnya pada individu manajemen dan non-manajemen? Seperti diuraikan dalam dua artikel terdahulu dalam blog ini krisis moneter global akan dicirikan oleh terjadinya perubahan-perubahan kapabilitas perusahaan. Secara organisasi, tiap perusahaan harus peka terhadap perubahan eksternal. Karena itu perlu membuat strategi mengatasi atau mengurangi akibat dari krisis tersebut lewat manajemen perubahan perilaku. Bisa jadi perusahaan melakukan restrukturisasi organisasi yang semakin ramping, rekayasa teknologi yang semakin efisien, dan juga reposisi keberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan. Tujuannya agar perusahaan masih bisa bertahan atau eksis dalam jangka waktu panjang.
Setiap perubahan akan memengaruhi siapapun; apakah dia pihak manajemen ataukah karyawan. Perubahan bisa ditanggapi secara positif ataukah negatif bergantung pada jenis dan derajat perubahan itu sendiri. Ditanggapi secara negatif atau dalam bentuk penolakan kalau perubahan yang terjadi dinilai merugikan diri manajemen dan karyawan. Misalnya yang menyangkut penurunan kompensasi, pembatasan karir , dan rasionalisasi karyawan. Sementara kalau perubahan itu terjadi pada inovasi proses perbaikan mutu maka perubahan yang timbul pada manajemen dan karyawan adalah dalam hal pengetahuan, sikap dan ketrampilan mengoperasikan teknologi baru. Kalau itu terjadi pada perubahan motivasi karyawan staf dalam suatu tim kerja maka perubahan yang semestinya terjadi adalah terjadinya perubahan manajemen mutu sumberdaya manusia. Itu semua tanggapan positif atas terjadinya perubahan.
Untuk mencapai keberhasilan suatu program perubahan maka setiap orang harus siap dan mampu merubah perilakunya. Hal ini sangat bergantung pada apa yang mempengaruhi perilaku dan apa pula yang mendorong seseorang untuk berubah. Faktor-faktor internal yang diduga mempengaruhi perilaku meliputi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan/keyakinan, lingkungan dan visi perusahaan. Sementara faktor-faktor pendorong seseorang untuk berubah adalah kesempatan memperoleh keuntungan nyata atau menghindari terjadinya kerugian pribadi. Beragam Faktor Mempengaruhi Perubahan perilaku dimaksud diuraikan sebagai berikut.
(1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan unsur pokok bagi setiap karyawan untuk merubah perilakunya dalam mengerjakan sesuatu. Semakin tinggi tingkat pengetahuan karyawan semakin mudah dia untuk mengikuti perubahan sesuai dengan tugasnya. Karena itu pengetahuan ditempatkan secara strategis sebagai salah satu syarat penting bagi kemajuan perilaku karyawan. Karyawan yang hanya menggunakan pengetahuan yang sekedarnya akan semakin tertinggal kinerjanya dibanding karyawan yang selalu menambah pengetahuannya yang baru.
(2) Ketrampilan
Ketrampilan, baik fisik maupun non-fisik, merupakan kemampuan seseorang yang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan baru. Ketrampilan fisik dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan fisik, misalnya mengoperasikan komputer, mesin produksi dsb. Ketrampilan non-fisik dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang sudah jadi. Misalnya kemampuan memimpin rapat, membangun komunikasi, dan mengelola hubungan dengan para pelanggan secara efektif. Jadi disitu terdapat hubungan antara proses dan ketrampilan komunikasi antarpersonal.
Ketrampilan lebih sulit untuk diubah atau dikembangkan ketimbang pengetahuan. Perubahan ketrampilan sangat terkait dengan pola perilaku naluri (instink). Proses perubahan respon instink karyawan membutuhkan waktu relatif cukup panjang karena faktor kebiasaan apalagi budaya tidak mudah untuk diubah. Misalnya karyawan yang biasanya bertanya pada karyawan dengan ucapan “apa yang manajer inginkan” (kurang sopan) sulit untuk segera berubah menjadi ucapan”apa yang dapat saya kerjakan untuk manajer” atau “bolehkah saya membantu manajer” (lebih sopan).
(3) Kepercayaan
Kepercayaan karyawan menentukan sikapnya dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya untuk mengerjakan sesuatu. Boleh jadi karyawan diberikan pengetahuan dan ketrampilan baru dengan cara berbeda. Namun hal itu dipengaruhi oleh kepercayaan yang dimilikinya apakah pengetahuan dan ketrampilan yang diterimanya akan berguna atau tidak. Dengan kata lain suatu kepercayaan relatif sulit untuk diubah. Jadi kalau ingin melatih karyawan harus diketahui dahulu kepercayaan yang dimiliki karyawan sekurang-kurangnya tentang aspek persepsi dari kegunaan suatu pelatihan.
(4) Lingkungan
Suatu lingkungan organisasi mempengaruhi perilaku karyawan apakah melalui pemberian penghargaan atas perilaku yang diinginkan ataukah dengan mengoreksi perilaku yang tidak diinginkan. Lingkungan organisasi seperti keteladanan pimpinan dan model kepemimpinan serta masa depan organisasi yang cerah akan berpengaruh pada derajat dan mutu perubahan perilaku karyawan. “Apa yang perusahaan berikan pada karyawan dan apa pula yang perusahaan dapatkan”. Keberhasilan perusahaan sangat ditentukan oleh apa yang bisa diberikan perusahaan kepada karyawannya. Semakin tinggi kadar insentif yang diberikan semakin efektif terjadinya perubahan perilaku karyawannya. Sebaliknya perusahaan yang tidak efektif atau gagal cenderung akan menciptakan perubahan perilaku yang juga tidak efektif.
(5) Tujuan perusahaan
Tujuan perusahaan ditentukan oleh kepercayan kolektif dari para pimpinan perusahaan dan ini menciptakan lingkungan tertentu. Selain itu tujuan merupakan turunan dari visi masa depan dan sistem nilai perusahaan. Pemimpin perusahaan yang memiliki visi dan tujuan yang jelas akan menciptakan lingkungan yang mendorong perilaku produktif. Sebaliknya hanya akan menciptakan kebingungan di kalangan karyawan.
Kombinasi dari lima faktor di atas menentukan keefektifan suatu perubahan perilaku karyawan. Dengan pengembangan pengetahuan yang ada karyawan semakin mengetahui atau memahami apa yang dibutuhkan untuk mampu mengerjakan pekerjaannya. Ketrampilan dalam bentuk kemampuan fisik dan non-fisik dibutuhkan agar karyawan mampu mengerjakan pekerjaan yang baru. Kepercayaan menentukan apakah karyawan akan menggunakan ketrampilan dan teknik barunya dalam praktek. Sementara lingkungan perusahaan akan menciptakan tujuan perusahaan dalam merumuskan standar apa yang bisa diterimanya. Tujuan perusahaan itu sendiri ditentukan oleh visi perusahaan dan dapat menciptakan lingkungan baru. Selain itu bisa jadi faktor pengaruh menguatnya kecerdasan emosional dan spiritual dari karyawan akan membantu perusahaan lebih siap dalam mengelola perubahan.













Benar pak.Proses perubahan yang dicanangkan perusahaan belum tentu diterima semua elemen perusahaan.Dengan kata lain adanya resistensi.Bagaimana caranya agar semuanya bisa menerima arti suatu proses perubahan? Khususnya ketika gejolak eksternal terjadi?
mbak avita…..kalau perusahaan melakukan proses prakondisi yang intensif seharusnya resistensi dapat diperkecil….misalnya dengan sosialisasi….perlu dicatat, hampir tidak mustahil gagasan perubahan bisa diterima semua elemen…… asalkan tujuannya tidak saja berkait dengan kebutuhan perusahaan tetapi juga kebutuhan karyawannya…..
Saya percaya kalau saja setiap perusahaan sudah menjadi organisasi pembelajaran maka tiap manajemen perubahan cenderung tidak menghadapi resistensi yang berarti.
betul bung johan…..ya sudah semacam budaya belajar dalam suatu sistem yang tangguh……kehendak untuk perubahan itu sendiri sebenarnya buah hasil dari proses pembelajaran….
saya pernah mendengar tentang life skill, apakah life skill itu sama dengan pengetahuan (faktor no 1)ya pak? kalo berbeda lebih dibutuhkan yang mana pak?
Suatu perubahan akan efektif jika ada pengorbanan dari semua pihak.
Pak, apa yg akan terjadi jika satu dari kelima faktor diatas tidak mendukung?? apa perubahannya bisa dikatakan gagal??
ya bung fajar….life skill tentunya didasarkan pada pengetahuan yang dimilikinya….namun LS merupakan jenis ketrampilan yang diperoleh lewat pendidikan vokasi yang orientasinya pada ketrampilan kerja dan menciptakan kerja …..btw saya sedang menulis artikel tentang life skill…..insya allah secepatnya….salam
betul mas ubad…..pengorbanan dalam arti siap menanggung resiko dari setiap urgensi pelaksanaan perubahan…..
bung hangga…..yang jelas salah satu dari faktor saja kurang terpenuhi maka cenderung keberhasilan perubahan perilaku akan berada di bawah standar……namun hal ini akan lebih nyata dengan dibuktikan kalau setiap faktor itu memiliki bobot pengaruh yang berbeda……maka keberhasilannya akan beragam…….contohnya,ketika kita menghitung IPK akademik,disitu ada bobot 1-4….atau ada huruf mutu A sd D….maka tetap saja seorang mahasiswa masih bisa lulus….asalkan tidak kurang dari angka mutu 2.0 dan tak ada HM E…..
Change itu pulalah yang dijadikan icon bagi Obama untuk menang, berubah menjadi lebih baik….
Tulisan Bapak sangat bagus menurut saya karena hanya dengan mental yang siap berubalah untuk terus ber-best practising yang mampu untuk tetap survive. Terima Kasih, artikel ini dapat membantu penulisan tesis saya.
Betul Pak, bahkan setiap detikpun perubahan menjadi sangat penting pada berbagai disiplin ilmu atau segi kehidupan ini, atau jika tidak maka akan terlibas oleh perubahan itu sendiri.
Kalau untuk bangsa kita, saya kira cukup membingungkan harus darimana menghadapi perubahan itu.
ya marketingkita…..kita hakekatnya terkena hukum perubahan….cuma pertanyaannya siapkah kita untuk itu…..
ya sukurlah andi….namun masih banyak rujukan lainnya yang perlu anda gunakan….sukses….
betul Untung……perubahan tidak bakal terjadi mulus….kalau saja tak ada keinginan kuat dan program yang jelas dari manajemen puncak organisasi……dialah seharusnya sebagai lambang perubahan…..dan tentu saja juga mulailah dari diri kita sendiri…..btw saya belum berhasil membuka blog anda….selamat berblog ria…..
terima kasih atas jawabanya pak.. ^_^
Krisis ini pun harus dihadapi dengan perubahan, terutama perubahan perilaku kita untuk menyintai produk bangsa sendiri. Kita sudah terlalu lama berbangga diri karena memakai produk luar negeri. Mudah-mudahan krisis ini bisa menjadi hikmah bagi kita untuk bangkit menjadi bangsa yang bangga pada produknya sendiri.
sama-sama hangga….semoga bermanfaat…..
benar mas caknun…..namun yang menjadi masalah apakah produk-produk domestik sudah memiliki daya saing dibanding komoditi impor….dilihat dari mutu,harga,tampilan, dan kepastian suplainya…..jadi yang perlu disosialisasikan dan diprogramkan adalah keempat hal itu….saya yakin kalau produk kita sudah ok….plus kampanye cinta produk indo….pasar akan menyerbunya…..so kemartabatan bangsa akan produk kita yang bermutu timbul dengan sendirinya…..
tulisan Bapak tentang Life skill dah saya baca pak, matur thank you…
ternyata ada skill-skill yang lainya…
sama-sama bung fajar….btw saya sudah beberapa kali mencoba membuka blog anda…gagal terus….kenapa ya…
Ping-balik: MANAJEMEN PERUBAHAN VS KRISIS MONETER GLOBAL | Indosdm.com
ok bung avis