Oleh: sjafri mangkuprawira | September 24, 2008

SANG OTOT DAN MITRA MANAJEMEN

 

Konon hingga abad 18 lalu, sebutan yang biasa ditujukan kepada para pekerja adalah “sang otot”. Mungkin  kita masih ingat istilah otot biasa dipakai dalam kaitannya dengan pekerjaan-pekerjaan di bidang pertanian dan pabrik. Mengapa disebut demikian? Karena para pekerja yang disewa itu menggunakan ototnya, umumnya kedua tangannya, untuk melakukan pekerjaan fisik. Mereka tidak tertarik untuk bekerja dengan menggunakan otak dan personalitasnya. Sebenarnya ini terkait dengan kondisi era sebelum revolusi industri. Hingga beberapa tahun dari abad 20, konsep sumberdaya manusia (SDM) atau manajemen personalia belum ada. Pola pekerjaan masih berbasis pada manual atau penggunaan tangan. Manajemen karyawan pun dilakukan secara tradisional. Artinya belum menggunakan prisnsip-prisip manajemen modern yang kental dengan penerapan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan. Apa yang dimaksud dengan standar prosedur operasional, standar kinerja, manajemen kempensasi dan karir, dan analisis kinerja belum dikenal.

Lama kelamaan dengan semakin modernnya kehidupan, semakin berkembangnya tuntutan efisiensi pola pekerjaan, dan semakin tingginya  pekerjaan yang bersifat lunak maka unsur “otak” memegang peranan sangat penting. Pada masa terjadinya revolusi industri maka mulai dikenal prinsip-prinsip efeisiensi kerja. Antara lain dalam bentuk penggunaan pekerja otot dalam jumlah yang minimum. Terjadilah substitusi penggunaan pekerja dengan penggunaan alat atau mesin. Atau istilah modernnya adalah mekanisasi. Tugas-tugas para pekerja di bidang fisik diminimumkan. Dan para pekerja dikembangkan SDMnya melalui pelatihan, pengalihan tugas, dan penempatan pada posisi baru yang banyak menggunakan potensi otak.

Seiiring dengan pekerjaan bersifat lunak  maka proses pengembangan sumberdaya manusia melalui jalur pendidikan semakin dibutuhkan. Pihak manajemen melihat pendidikan dan pelatihan akan mampu menghasilkan orang-orang yang trampil dan berbakat. Pihak manajemen percaya bahwa karyawan terutama yang bekerja di bidang perencanaan, evaluasi, dan rancangan perlu dikembangkan pengetahuan dan bakatnya. Sebagai tindak lanjutnya maka banyak perusahaan sudah membuat departemen khusus untuk menangani masalah-masalah sumberdaya manusia. Departemen ini berfungsi untuk melakukan perencanaan kebutuhan sumberdaya manusia, menganalisis pekerjaan dan bebannya, merekrut dan menseleksi calon karyawan baru, melatih, mengembangkan manajemen kompensasi, manajemen kinerja, manajemen karir, hubungan industrial, dan manajemen pemutusan hubungan kerja.

Walau belum sepenuhnya perusahaan melaksanakannya,  namun ada kecenderungan   pelibatan karyawan dalam pengambilan keputusan suatu perusahaan sudah berkembang. Filosofinya adalah tidak mungkin perusahaan bakal maju kalau tidak didukung oleh mutu SDM karyawan-karyawannya. Karena itu cenderung sudah banyak perusahaan yang menerapkan prinsip-pinsip partnership manajemen atau manajemen kemitraan. Para karyawan dianggap sebagai mitra dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Perusahaan lewat proses umpan balik memberi peluang kepada karyawan untuk melakukan penilaian kinerja dan memberi masukan-masukan cerdas. Jadilah para karyawan disebut sebagai mitra pihak manajemen.  Suatu bentuk transformasi struktural dari posisi karyawan sebagai pekerja otot dan semata-mata sebagai faktor produksi menjadi karyawan sebagai aset perusahaan yang berbasis manusiawi.


Tanggapan

  1. Idealnya sih demikian seperti apa yang Prof paparkan. tapi kenapa serikat pekerja seluruh indonesia, sering menghalangi laju sepedar motor saya saat saya melintasi HI, isu pindah kudran juga selalu hangat dibicarakan, disaat BoS belum datang. manusia menjadi tidak baik lebih sering karena lingkungannya Prof. apalagi untuk orang indonesia, yang diatas, ngeinjeknya tak kira-kira sama yang dibawahnya.

  2. betul bung demustaine….artikel ini adalah kerangka ideal….di lapangan belum semua berjalan mulus……ketika isyu HAM masuk ke dunia hubungan industrial ternyata tidak semudah membalik tangan….beragam kepentingan berseliweran termasuk politik…..tetap saja ada jurang kepentingan antara karyawan dan pengusaha….btw saya kok gaptek ya…tidak tahu bagaimana caranya singgah ke blog anda yang bagus itu…..

  3. Dalam berbagai buku teks maka sudah banyak dikenal istilah manajemen SDM stratejik oleh perusahaan.Namun di sebagian yang lain jangankan istilah itu, penggunaan manajemenen SDM saja masih belum merata.Mereka masih menggunakan istilah manajemen personalia.Kalau begitu apakah keterlibatan para karyawan dalam pengambilan keputusan juga belum tewujud merata?

  4. Prof,saya agak ragu apakah setiap perusahaan sudah menerapkan manajemen kemitraan dalam pengambilan keputusan.Yang terjadi di lapangan dominasi pengusahaan dalam pengambilan keputusan beragam segi masih kuat.

  5. Sang otot bukan berarti bekerja tanpa otak.Misalnya dalam menyadap karet sang buruh sadap harus mengetahui pada usia pohon karet produktif berapa sebaiknya dilakukan dengan cara penyadapan tertentu.Ini terkait dengan produktivitas. Begitu juga pemetik teh harus tahu pada tangkai pohon teh mana,daun harus dipetik untuk memperoleh standar mutu teh hitam yang diinginkan.Bagaimana prof,apakah demikian?

  6. Sebagai orang yang senang dengan science-fiction, saya membayangkan di masa mendatang, di mana robot-robot sudah semakin cerdas dan artificial intelligence semakin mendekati natural intelligence, sehingga nanti bukan saja pekerjaan2 yang menggunakan otot yang dapat digantikan dengan robot-robot, tetapi juga keputusan-keputusan manajerial, keputusan2 strategis dan sebagainya dapat digantikan oleh robot. Begitu pula dengan jasa2 profesional lainnya seperti pengacara, dokter dan lain sebagainya mungkin saja dijadikan oleh robot.

    Wah… pada zaman itu, mungkin bisa saja terjadi dilemma ya prof, di satu sisi manusia tidak mau kehilangan pekerjaannya dan tidak mau disaingi, tapi di lain fihak banyak juga yang percaya bahwa dengan mempekerjakan robot2 ini, dapat dicapai efisiensi biaya dan pekerjaan dengan sangat baik. Nah, kalau sudah begitu mungkin idealnya dicari jalan tengah, atau sistem quota, robot hanya boleh berapa persen dari keseluruhan tenaga kerja.. Tetapi apakah keegoan manusia bisa bekerjasama dengan robot?? Mungkin nanti di masa depan ada juga yang namanya Manajemen Sumberdaya robot (SDR), yang me-manage SDR ini nantinya orang atau robot ya??

    Ya udah prof…. ini hanya komentar khayalan yang ngaco, tetapi saya hanya membayangkan bahwa setiap teknologi baru yang diperkenalkan ke dalam perusahaan, mungkin bisa menjadi masalah baru yang semakin kompleks termasuk dalam bidang SDM ini seperti contoh konflik di masa depan ini… :D

  7. “Manajemen Pemutusan Hubungan Kerja”, saya tertarik sekali untuk mempelajarinya,karena memPHK karyawan itu tidak mudah:
    1. Dari segi kemanusiaan, bagaimanapun juga seorang manager HRD atau Personalia juga manusia yang mempunyai hati terkadang ada perasaan yang sedih jika mengingat keluarga karyawan yang terPHK.
    2. Menyangkut konsekwensi financial Perusahaan.
    3. Berhubungan dengan regulasi/UU ketenagakerjaan
    4. Serikat Pekerja dll yang memusingkan jika tidak dilakukan dengan benar.

    Saya dulu pernah bekerja sebagai Senior personnel Clerk disebuah hotel di Surabaya dan saya tau persis perasaan atasan saya ketika harus melakukan hal tersebut seperti makan buah simalakamal. Ditekan dari bawah sekaligus diinjak dari atas… fuihh. Dari semua fingsi HRD saya yakin yang paling tidak disukai adalah memPHK. terimakasih

  8. ya mbak avita penerapan msdm belum merata….ada yang masih menggunakan pola rutin yakni manajemen personalia…..secara teoretis seharusnya karyawan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan……namun secra proposional bergantung pada lingkup dan bobotnya mereka dilibatkan….misalnya ketika proses umpan balik…..btw dukungan manajemen puncak menjadi penting….

  9. ya bung rusli…lihat jawaban saya untuk komentar dari avita…..

  10. betul bung zulkand…..tak mungkin tanpa menggunakan otak sekalipun pekerjaannya termasuk golongan “kasar” atau fisik…..namun yang dimaksud dengan pekerjaan otak dalam artikel ini lebih pada penggunaan pikiran untuk penyusunan renstra,rancangan bangun,model evaluasi,model program komputerisasi,sistem informasi manajemen,dsb…..

  11. betul mas yariNK…itu sudah terjadi di negara-negara industri seperti Jepang misalnya….konon Toyota sudah menggunakan sumberdaya robot atau robotisasi 50-60% ketimbang sdm yang 40-50% saja…..di kalangan anti robotisasi….mengatakan bahwa robotisasi merupakan bentuk teknologi yang anti hak asasi manusia…..tidak ramah kemanusiaan….karena dapat menimbulkan pengangguran….nah lho…terjadilah pertentangan antara mashab konsep efisiensi ekonomi dan mashab efisiensi sosial…..tetapi sekali kita mengakui keunggulan model kapitalisme liberal,itulah jadinya…..siap-siap dengan terjadinya pareto optimum….

  12. betul mbak yulism tidak mudah….karena itu sebelum perusahaan memPHKkan karyawan….harus melalui proses yang disebut hubungan industrial….keputusan harus berdasarkan kesepakatan antara perusahaan,wakil karyawan,dan pemerintah…..pertimbangannya pun harus melihat sisi manusiawi…jangan terlalu didominasi pertimbangan finansial atau efisiensi ekonomi semata…..

  13. Kalau toh belum sepenuhnya melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan mungkin ada beberapa pertimbangan dari pihak manajemen yakni faktor keragaman lingkup masalah,kompetensi karyawan,dan pertimbangan pragmatis.Karyawan hanya dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam aspek-aspek yang sifatnya sederhana.

  14. betul mbak kur….intinya memberi kepercayaan pada karyawan dalam pengambilan keputusan seharusnya secara bertahap….sejalan dengan perkembangan kemampuan karyawan…..atau kompetensinya….

  15. mengelola SDM itu sangat tidaklah mudah. banyak sekali faktor yg mempengaruhinya. Psikologis orang2 yg berbeda, kinerja finansial perusahaan, kompetensi karyawan, kebutuhan pengembangan perusahaan, persaingan usaha, hubungan industrial, dsb. Tapi, disinilah menariknya people management. salam

  16. betul mas munir….faktor-faktor keberhasilannya begitu kompleks…..yang merupakan fungsi dari intrinsik dan ekstrinsik karyawan……termasuk kepemimpinan manajer……


Beri tanggapan

Your response:

Kategori