Selama dua hari, Kamis dan Jumat lalu, saya berada di Kabupaten Tulungangung Jawa Timur untuk suatu tugas mereview pelaksanaan program Peningkatan Kesejahteraan Petani (Proyek Dep-Tan) di beberapa desa. Saya tidak akan menceritakan tentang proyek tersebut. Yang ingin disampaikan lebih pada rasa penasaran saya tentang tugas sang manajer yang kebetulan lulusan Jurusan Sos-ek Fakultas Pertanian IPB. Dia, seorang pria, mantan mahasiswa saya kurang lebih 17 tahun lalu. Yang membuat saya penasaran adalah salah satu tugasnya yaitu melatih para kader Lembaga Pembangunan Desa di bidang konstruksi jalan, irigasi sederhana, mesin traktor, dan pengolahan hasil pertanian. Bayangkan padahal dia berlatar belakang pendidikan agribisnis yang lebih banyak berfokus pada analisis manajemen operasi, finansial dan ekonomi. Dengan kata lain telah mengalami transformasi keahlian dari yang bersifat lunak ke keahlian yang sifatnya keras (teknik). Kemudian saya bertanya bagaimana sampai bisa berubah seperti itu? Apakah yang bersangkutan pernah mengikuti pelatihan sejenis untuk melakukan tugas seperti itu. Ternyata dia pernah bekerja di suatu biro konsultan yang memberi jasa di bidang-bidang seperti diungkapkan di atas. Dari pelatihan yang pernah diterima plus pengalaman lapangan maka sang manajer itu punya percaya diri mampu melakukan tugas dalam bidang fisik kontruksi. Dan ini terbukti dia banyak diminta dinas pekerjaan umum untuk melatih para petugas lapang.
Bagi saya memang tidaklah mengagetkan bahwa cukup banyak alumni IPB yang mampu bekerja di luar bidang keahlian yang diterimanya selama berkuliah di IPB. Misalnya di dunia perbankan, sudah tidak aneh lagi bahwa tidak sedikit para alumni IPB yang menduduki posisi direktur. Kemudian di bidang jurnalistik media cetak dan elektronik. Pemimpin Redaksi salah satu surat kabar nasional terkenal sejak lima tahun lalu dipegang seorang alumni IPB yang berlatar belakang disiplin ilmu produksi. Kepala LBN Antara pun sekarang dipegang oleh alumni program studi agribisnis Faperta IPB. Seorang mantan bimbingan saya (keahlian agribisnis) pernah menjadi direktur suatu perusahaan pelayaran nasional. Belum lagi ada beberapa alumni IPB sebagai kepala Biro Humas perusahaan televisi nasional. Dan masih banyak lagi mereka yang berkiprah di luar kompetensi utamanya. Termasuk budayawan alm. Asrul Sani dan Taufik Ismail, yang keduanya adalah dokter hewan lulusan UI-IPB.
Pertanyaannya apakah kalau demikian pola pendidikan tinggi di IPB termasuk gagal? Telah salah arah atau tidak mampu menerapkan kebijakan model link and match? Apakah fenomena seperti itu menunjukkan proses pembelajaran di IPB tidak efisien? Atau malah ada kekuatan spesifik dalam proses pembelajaran di IPB sehingga para alumninya siap bekerja dimana saja? Ataukah telah terjadi kegagalan pasar yang dicerminkan pasar akan merekrut sarjana apapun? Yang penting derajat intelektual dan emosionalnya tinggi dan siap untuk dilatih dalam bidang pekerjaan tertentu?. Saya percaya ini juga terjadi pada alumni dari perguruan tinggi lain. Suatu fenomena yang patut dikaji secara mendalam baik dilihat dari proses pembelajaran, kurikulum, tingkat kejenuhan pasar terhadap sarjana di bidang-bidang tertentu, dan karakteristik perilaku permintaan pasar kerja.













Malah ada yang menyebutkan IPB sebagai Institut Pleksibilitas Banget.Konon lulusan IPB mampu bekerja di bidang apa saja kecuali di bidang pertanian.Apa tanggapan bapak?
Oleh: kurniasani on Agustus 30, 2008
at 2:04 pm
Hemat saya justru perguruan tinggi yang lulusannya bisa bekerja dimana saja asalkan lewat pelatihan atau mengikuti strata pendidikan lanjut dengan mudah mampu menyesuaikan diri dengan bidang keahliannya yang baru.Pola pembelajaran oleh perguruan tinggi yang mengarahkan pada penguasaan membangun kerangka berpikir di kalangan mahasiswanya akan melahirkan lulusan yang siap latih.
Oleh: zulkand on Agustus 30, 2008
at 3:37 pm
maaf saya agak bertentangan dengan mas zulkand, tidak semua orang berani menbanting stirnya untuk merubah bidang keahliannya yang baru…orang2 yang fleksibel, memiliki motivasi yg tinggi atau mungkin karena perasaan terdesak yang bisa melakukan perubahan tersebut…
Oleh: marwan on Agustus 30, 2008
at 10:31 pm
ya mbak kurniasani….karena ada huruf P maka IPB bisa diplesetkan macam-macam…..nah tentang lulusan IPB mampu bekerja di bidang apapun kecuali di bidang pertanian mestinya bisa diubah menjadi “lulusan IPB mampu bekerja di bidang apapun apalagi di bidang pertanian”…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 31, 2008
at 1:35 am
bung zulkand….asalkan perguruan tinggi bersangkutan tidak menyatakan dalam visinya bahwa “kompetensi utamanya:setiap lulusan bisa bekerja dimana saja…..”….berarti PT bersangkutan tidak punya program studi yang distinct dalam keahlian tertentu…..melainkan generalis…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 31, 2008
at 1:40 am
betul bung marwan……tidak semua tentunya lulusan PT siap untuk mengubah bidang keahliannya dan siap bekerja dimana saja dengan cepat….memang lulusan butuh proses untuk mengenali minat dan motivasi di bidang apa yang dianggap cocok dalam bekerja……faktor peluang bisa menjadi pendorong……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 31, 2008
at 1:44 am
Tulisan ini merefleksikan diri saya juga nih Pak … S1 computer science, S2 strategic management, sekarang S3 HR management … mau jadi apa ya Pak ? ..
… he he he … bagi oarng yang melihat dari luar, memang ini jadi gak jelas, seperti tidak punya tujuan … padahal sebenarnya saya lagi membentuk self-positioning tersendiri yang unik Pak …
Oleh: RIRI SATRIA on September 6, 2008
at 4:14 pm
ya bung riri….saya pun sami mawon…..kurang lebih hungga tahun1994 saya masih bergelut di bidang keahlian saya yakni ekonomi pertanian,khususnya ekonomi sumberdaya manusia dan pembangunan pertanian….karena tertarik pada manajemen sdm,saya melakukan otodidak di bidang itu….lama kelamaan ketertarikan menjadi buah karya ilmiah lebih banyak di bidang masdm….presiden pun mengangkat saya sebagai guru besar msdm……hingga kini saya tekun dalam aspek-aspek sdm….contoh lain adalah prof scarlett epstein,pembimbing saya sewaktu studi di sussex university….dia doktor ekonomi pembangunan (makro)….karena tertarik pada antropologi maka bertahun-tahun melakukan otodidak di bidang itu….karya tulis dan karya penelitiannya dalam antropologi sangat banyak,sekaligus sering sebagai pembicara dalam pertemuan-pertemuan internasional sebagai ahli antropologi sosial…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 7, 2008
at 2:36 am