Mengapa semakin banyak sarjana (termasuk diploma) pertanian, produksi pertanian tanaman pangan tidak semakin tinggi? Mengapa semakin banyak sarjana kehutanan malah semakin banyak kebakaran hutan, pemalakan hasil hutan, longsor dan banjir? Mengapa semakin banyak sarjana perikanan dan peternakan, tetapi kondisi asupan gizi masyarakat dari dua sumber komoditi itu masih rendah? Mengapa semakin banyak dokter semakin banyak pula derajat kesehatan masyarakat yang di bawah standar termasuk bayi yang kurang gizi? Mengapa semakin banyak sarjana hukum semakin banyak pula warga yang melawan atau melanggar hukum? Mengapa semakin banyak sarjana ekonomi, kondisi ekonomi tidak semakin membaik? Mengapa semakin banyak sarjana ilmu politik, kondisi perpolitikan kental dengan perilaku anarkis termasuk makin tidak sederhananya perpolitikan nasional karena semakin banyaknya jumlah partai politik? Mengapa semakin banyak sarjana kepolisian semakin banyak fenomena penyuapan, pemerasan, maling kelas teri dan maling kelas kakap? Mengapa semakin banyak sarjana agama semakin banyak orang yang tidak bermoral, korupsi atau melanggar hukum? Mengapa semakin banyak sarjana keteknikan semakin banyak kondisi infrastruktur yang tidak semakin membaik? Mengapa semakin banyak sarjana ilmu kependidikan, kondisi pendidikan kita masih kurang bermutu? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan isyu yang tidak mudah dijawab. Dan sudah pasti ada saja sarjana yang berkelit membantahnya.
Kalau hipotesis dalam bentuk pertanyaan di atas jawabannya ”benar”, ceteris paribus, maka apakah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Jawabannya bisa ditinjau dari berbagai perspektif. Yang pertama adalah dari sisi metodologi dimana analisisnya hanya dilakukan secara parsial, tidak simultan; sementara variabel lainnya dianggap konstan. Begitu pula ada intervening variabel yang tidak dianalisis. Dukungan teori bisa saja tidak ada. Yang kedua dilihat dari sisi pengertian proses pembangunan. Kita mengetahui bahwa ada beberapa pendekatan atau strategi pembangunan seperti pembangunan terpadu, pembangunan berkelanjutan, pembangunan secara holistik, pembangunan berbasis kebutuhan manusia, pembangunan yang direncanakan dari atas atau dari bawah, pembangunan berorientasi teknokratis dan partisipatif, dan pembangunan berbasis sumberdaya. Yang ketiga, pembangunan tidak mungkin hanya berorientasi pada monodisiplin, melainkan harus multidisiplin dan multidimensi. Yang keempat, dari tiga alasan tersebut maka tidak mungkin keberhasilan pembangunan hanya berkait dengan aspek jumlah dan mutu sumberdaya manusia saja. Memang faktor utama keberhasilan pembangunan adalah manusia pelakunya. Namun tanpa didukung unsur lainnya seperti sistem nilai kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, strategi pembangunan, finansial, teknologi, mutu proses manajemen pembangunan, infrastruktur, dan kesejahteraan pelakunya maka posisi manusia dalam pembangunan menjadi kurang efektif. Mengapa? Karena aspek-aspek pembangunan seperti diuraikan tadi begitu kompleksnya.
Kalau dalam prakteknya, jawaban hipotesis itu sudah dengan menganalisis unsur-unsur keberhasilan pembangunan lainnya maka mungkin fakta adanya hubungan negatif variabel jumlah sarjana dengan variabel keberhasilan pembangunan sektoral bisa saja terjadi. Dalam hal ini kalau dikaitkan dengan unsur mutu sumberdaya manusia maka unsur-unsur yang berhubungan dengan keberhasilan pembangunan adalah variabel sistem pendidikan nasional. Diduga ada sesuatu yang keliru dalam sistem itu; apakah dalam hal visi, misi ataukah tujuan dan strategi pembangunan pendidikan. Kemudian dalam pelaksanaan program pendidikan di lapang kurang didukung oleh model pola pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa; mutu dosen; sistem pelaksanaan program yang efisien dan efektif; jumlah dan mutu fasilitas pendidikan dan penelitian; kesejahteraan dosen; dan suasana pembelajaran.
Ketika pemerintah sudah menetapkan anggaran biaya pendidikan tahun 2009 sebesar 20 % dari APBN seperti diamanatkan dalam amandemen UUD ’45 maka departemen pendidikan nasional harus sudah mulai menyiapkan strategi pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi berikut program-programnya yang membumi. Diperlukan adanya urutan prioritas pembangunan pendidikan tinggi seperti peningkatan mutu dan kesejahteraan dosen, program penelitian ilmu-ilmu dasar dan terapan, fasilitas pembelajaran, dan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi penguasaan ilmu dan soft-skills, pada pasar dan pengembangan keilmuan dan teknologi.Yang tidak kalah pentingnya adalah dalam hal manajemen programnya. Peluang terjadinya kebocoran anggaran bahkan korupsi benar-benar harus dicegah sehingga sebutan disclaimer yang sementara ini terjadi dapat dihilangkan. Untuk itu koordinasi pengembangan pendidikan tinggi menjadi sangat strategis.













Assalamu’alaikum
Salam kenal Pak..
Semoga dengan anggaran pendidikan yang sudah mencapai 20% APBN, semua pertanyaan Bapak di paragraph pertama yang juga pertanyaan mayoritas masyarakat, segera terjawab..
kebanggan tersendiri bisa berkenalan dengan Bapak.
Terima kasih.
wassalam
Oleh: trijokobs on Agustus 25, 2008
at 7:29 am
Pertanyaan-pertanyaan hipotetis yang bapak sampaikan menarik untuk dikaji dengan beragam metode tertentu. Mungkin bisa digunakan seperti dalam membuat indeks pembangunan manusia dan indeks korupsi dan kemampuan bersaing bangsa indonesia di dunia internasional.
Oleh: rusli on Agustus 25, 2008
at 11:12 am
Saya pikir pertanyaan-pertanyaan bapak adalah unik dan relevan. Kalau kenyataannya terbukti benar maka bisa disimpulkan selama ini program pendidikan tidak efisiennya.Kan seharusnya semakin banyak sarjana semakin positiflah kemajuan bangsa.Asumsinya keberhasilan suatu pembangunan merupakan fungsi dari jumlah dan mutu sumberdaya manusianya.
Oleh: kurniasani on Agustus 25, 2008
at 11:19 am
terimakasih mas tri….salam kenal juga….saya baru saja berkunjung ke blog anda yang bagus itu….benar mas,sebaiknya depdiknas jangan grogi apalagi hilang akal dengan tambahan anggaran yang tidak kecil itu…..tidak tahu apa yang harus diperbuat….asasnya adalah manfaat maksimum….prinsipnya adalah efektifitas dan efisiensi anggaran…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 25, 2008
at 12:39 pm
ya bung rusli….secara uji statistik sederhana sebenarnya analisis korelasi dengan mudah digunakan…..cuma yang harus diperhatikan adalah asumsi-asumsi yang digunakan yakni realistis,valid, dan faktual….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 25, 2008
at 12:41 pm
ya itulah masalahnya mbak kurnia…..satu unsur pembangunan tidak bisa berdiri sendiri….dia terkait erat dengan unsur-unsur lainnya dalam satu sistem pembangunan…..karena itu pendekatannya harus komprehensif dan holistik plus terpadu….dari situ terlihat seberapa jauh pengaruh unsur SDM terhadap keberhasilan pembangunan…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 25, 2008
at 12:45 pm
Nah, benar Pak, ini yang tidak saya sukai dari prinsip cateris paribus … saya berpendapat kelihatannya dalam ilmu sosial, prinsip cateris paribus ini kok tidak pas, karena kompleksitas itu rasanya tidak bisa disimplifikasi begitu saja, analisisnya harus holistik … makanya Pak, saya lebih menyukai system thinking daripada analisis parsial dengan asumsi cateris paribus … tapi itu pun system thinking ternyata masih parsial juga … pertanyaannya, apakah ada alat analisis yang holistik Pak ? …ini mungkin tantangan besar dunia ilmu sosial …
Oleh: RIRI SATRIA on Agustus 26, 2008
at 12:28 am
Prof, saya mencoba berpikir dengan sederhana, jika dikaitkan dengan angka pertumbuhan penduduk Indonesia yang telah melampaui 220 juta jiwa, dan setiap tahunnya terjadi pertambahan 3,2 juta jiwa sudah pasti hal ini berdampak pada masalah pangan, kesehatan, lapangan kerja dsb dan banyak dimensi yang mesti dianalisa seperi yang disebutkan oleh Bapak sebelumnya–saya juga jadi turut bertanya seperti Pak Riri Satria, adakah analysis tools yang holistik?, kemudian timbul pertanyaan dalam hati saya, apakah sebenarnya root cause dari segala kejadian ini? Walaupun dalam menjawab pertanyaan saya ini mungkin sama dengan mengajak Bapak menjawab teka-teki kuno, lebih dulu mana telur atau ayam?
Oleh: agoyyoga on Agustus 26, 2008
at 5:01 am
bung riri….mengapa ada ceteris paribus dalam studi ilmu-ilmu sosial?….karena masalah sosial begitu multi dimensi dan kompleksnya…..dan tidak mudah dikontrol…..nah yang lebih penting asumsi yang digunakan seharusnya realistik dan logis….tentang alat analisis holistik, Maslow dengan teori hirarki kebutuhan menggunakan model holistik dinamik (Wongkeban,Juni 2008)….Teori holistik dinamis dari Maslow menarik perhatian bukan hanya di kalangan psikolog,tetapi juga di kalangan manajer,pendidikan,pedagang,dan perawat……model kebutuhan hirarkis paling banyak mempengaruhinya…… banyak kasus di lingkungan industri dan kekaryawan,dapat diselesaikan memakai konsep kebutuhan hirarkis…..misalnya pada industri, tentang perilaku kerja,terkadang sukar sekali dapat memenuhi kebutuhan fisiologis karyawan…..karyawan digaji rendah,tetapi tetap dituntut untuk berkerja keras dan setia dengan perusahaan……Teori Maslow mengajarkan kepada perusahaan untuk bisa memberi rasa aman, menumbuhkan rasa dimiliki dan cinta kepada perusahaan,dan tentu saja meningkatkan harga diri karyawan…..memang kepuasaan pada tingkat kebutuhan yang lebih tinggi tidak dapat menghapuskan ketidakpuasan fisiologis,tetapi paling tidak dapat meredam ketidakpuasan karyawan……selain itu ada analisis holistik dengan teknik yang disebut conjoint analysis itu (studi consumer behaviour;itpin),….misal Marriott bisa mempelajari preferensi target konsumen dan menawarkan fasilitas yang benar-benar mereka inginkan dengan mengurangi fasilitas lain yang kurang dihargai…….hasil dari riset ini?…..Marriot meluncurkan Courtyart by Marriott yang sukses besar….. hotel ini menawarkan kamar-kamar dan restoran yang relatif kecil, keamanan yang tinggi, eksterior yang menarik, dan harga antara USD 40-60…..cuma model ini hanya untuk produk lama bukan untuk yang baru……selain dengan model itu bisa juga menggunakan analisis statistik seperti regression analysis sehingga masing-masing fitur bisa ditentukan harganya…..setelah data-data yang dibutuhkan diperoleh, para pengembang produk tinggal mencari kombinasi fitur-fitur dengan menjumlah nilai yang diperoleh masing-masing fitur untuk menentukan harga jual akhir…..nah bung riri kalau ingin menguji teori dan menemukan teori baru khususnya di bidang ilmu humaniora sebenarnya perlu melakukan studi longitudinal…..tidak cukup dengan cross section….apalagi waktu kajian relatif singkat……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 26, 2008
at 5:08 am
Mengapa semakin banyak sarjana kepolisian semakin banyak fenomena penyuapan, pemerasan, maling kelas teri dan maling kelas kakap?
Mengapa bisa terjadi “HUBUNGAN ANTARVARIABEL YANG “TIDAK” WAJAR?
Mengapa banyaknya dokter diikui dengan banyaknya penyakit baru?
Menurut saya hiks…sebelumnya minta maaf klo salah hehehe…Karena “Kita tidak sempurna / Terbatas”
Isi dunia selalu bertambah apakah dunia bertambah lebar?
Dancuk (Komandan Pucuk / Pemerintah) yang mempunyai kebijakan strategis terkadang dengan zalimnya mengambil hak orang lain melalui kebijakan yang dikeluarkan. Moral…Moral…Moral…Jagalah.
Oleh: Bhima on Agustus 26, 2008
at 5:35 am
mbak yoga…seharusnya mulai dari kesiapan sumberdaya manusianya…karena merekalah pelaku utamanya…..pelaku yang bukan sekedar trampil di bidang produksi sebagai karyawan tetapi juga sebagai peneliti invensi dan inovasi serta manajer profesional…..kesejahteraan suatu bangsa yang semakin meningkat bukan karena kekayaan aset sumberdaya alamnya…..pasti mbak tahu negara mana yang saya maksud…dalam ukuran investasi maka dapat digunakan ukuran ROHI-return on human investment……jadi hemat saya mulailah dari akar masalahnya yakni manusia……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 26, 2008
at 10:27 am
ya bhima betul…karena itu pemimpin harus memberi keteladanan moral…..tidak obral janji…..dan amanah
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 26, 2008
at 10:29 am
Salam kenal pak..
Ada pepatah di Amarika sono
“less is More”
Lebih sedikit lebih baik..
melihat apa yang bapak paparkan..
mungkin pepatah itu bener adanya..
Oleh: Proof { } on Agustus 26, 2008
at 7:10 pm
salam kenal juga bung proof…..saya kurang tahu apakah seperti itu…..sebab “less is more” diterjemahkan lebih dari satu makna…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 26, 2008
at 8:41 pm