Tidak seperti biasanya, saya yang baru menjadi pensiunan PNS diundang khusus untuk hadir dalam acara tujuh-belasan di IPB kemarin pagi. Biasanya saya hadir rutin sebagai warga IPB tanpa undangan spesial seperti itu. Dalam acara itu seperti biasa ada upacara bendera, sambutan Mendiknas yang dibacakan rektor, dan pengumuman-pengumuman. Salah satu isi pengumuman adalah yang menyangkut keberhasilan dosen dan mahasiswa di tingkat nasional dan karya inovatif para dosen.

Dalam final pemilihan dosen berprestasi tingkat nasional, dari 15 orang finalis (mewakili tiap perguruan tingginya), terpilih dosen IPB sebagai peringkat ke-dua. Sementara dari lima belas mahasiswa berprestasi tingkat nasional (mewakili tiap perguruan tingginya), sang juara pertama adalah dari IPB. Sebagai anggota tim juri dosen berprestasi nasional dan juga warga IPB tentunya saya berbahagia dan bersyukur atas keberhasilan dua insan IPB tersebut. Hal demikian tidak luput dari kondisi academic atmosphere yang selama ini dikembangkan di IPB. Dr.Rizaldi Boer yang menduduki peringkat kedua nasional itu malah pemegang penghargaan internasional berupa ”Nobel Peace Prize”, tahun 2008.

Rasa syukur dan kebahagiaan bertambah ketika diumumkan bahwa 21 karya inovatif pilihan dari 100 karya inovatif tingkat nasional adalah dari IPB, yang terpilih dari 623 karya inovatif se-indonesia.. Pretasi ini merupakan karya inovatif terbanyak yang diraih IPB dalam ajang itu. Karya ini dibukukan oleh kantor Menristek dalam menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-13 belas tahun. Sekaligus juga memperingati 100 tahunnya Kebangkitan Nasional. Karya para dosen IPB di bidang inovatif itu membuktikan bahwa dengan segala keterbatasan anggaran penelitian dari pemerintah masih saja cukup banyak dosen yang memiliki integritas akademik. Mereka ada yang mampu membangun jejaring kerjasama penelitian dengan dunia industri dan lembaga penelitian internasional. Ternyata dalam suasana hari kemerdekaan yang sakral ini telah terbukti bertumbuh-kembangnya perilaku tiada  hari tanpa berbuat inovatif di kalangan dosen.

Kemudian hal yang unik dan baru pertama kali terjadi adalah adanya lomba personal blogsite di lingkungan IPB. Ini merupakan pengakuan dari pimpinan IPB bahwa  blog sangat bermanfaat sebagai media tukar menukar informasi pengetahuan, karya inovatif, ulasan ilmiah termasuk ilmiah populer. Hal ini sangat menggembirakan karena interaksi antarblogger dan dengan penggunan lainnya  lewat dunia maya mendapat tempat yang tidak kalah pentingnya dengan e-mail dan perpustakaan.

Dari sebanyak 20an blogger IPB yang ikut kompetisi,  rektor telah menetapkan tiga sang juara. Saya kebetulan tidak mendaftar melainkan didaftarkan oleh pimpinan departemen manajemen FEM. Ternyata saya meraih peringkat pertama. Mungkin karena inilah saya diundang khusus. Tentu saja bersyukur; mengapa?  Awalnya saya sangat enggan terlibat dalam kegiatan pemblogan karena memang saya sibuk dengan tugas-tugas akademik dan juga sebagai Ketua Senat Akademik IPB. Namun  karena ”dipaksa” oleh mahasiswa bimbingan saya (Riri Satria) program doktor manajemen bisnis di IPB, saya semakin memahami betapa blog dapat dijadikan ranah untuk menuangkan pemikiran-pemikiran kita secara bebas. Tentunya didasarkan rasa bertanggung jawab. Maka semakin asyiiiklah saya menekuni blog ini.

About these ads