Pernahkah juara dunia lari 100 meter berlomba lari sendirian? Pasti tidak. Apakah sang juara ketika berlari tidak punya keinginan untuk mengalahkan orang lain? Jelas punya keinginan. Nah keinginan itulah sebagai unsur impiannya. Sementara pelari lain merupakan unsur pendorong yang menyebabkan dia mampu menjadi juara. Dia tidak mau kalah dengan pelari lain. Dengan kata lain karena masing-masing pelari ingin menjadi juara maka disitulah terjadi persaingan. Yaitu persaingan untuk menjadi yang terbaik. Dalam dunia kerja, persaingan dalam satu tim bisa diduga akan terjadi persaingan antarindividu. Sementara persaingan dalam satu divisi, misalnya, maka yang terjadi adalah persaingan antartim kerja. Sama saja dengan contoh juara lari, maka suasana persaingan akan membantu tim tertentu menghasilkan yang terbaik. Hal demikian baru bisa tercapai apabila tiap individu tim secara keseluruhan mau belajar, mempraktekan, atau memainkan “pertandingan” atau proses pekerjaan dengan sehat. Dengan kata lain tidak main sikut atau curang. Sebaliknya harus “fair play”; mengikuti aturan dan berjiwa sportif. Obsesinya adalah kalau “juara” maka imbalan dalam bentuk promosi karir akan sudah tampak di depan mata.
Sementara itu persaingan sehat membutuhkan penilaian yang jujur. Setiap catatan keberhasilan seharusnya mencerminkan ciri obyektif. Artinya harus jelas sekali ukuran-ukuran yang dinilai. Kalau dalam suatu tim maka ukuran yang paling mudah adalah produktivitas. Kemudian perlu pengukuran efektifitas dan efisiensinya. Juga perlu ditelaah pada berapa periode “kemenangan” dicapai suatu tim termasuk fluktuasinya. Apakah cenderung berfluktuasi ataukah cenderung terus meningkat ataukah pula hanya datar-datar saja. Perhitungan yang didasarkan pada kondisi nyata akan berkontribusi pada hasil pengukuran yang obyektif. Untuk itu perusahaan harus memiliki standar ukuran suatu proses dan kinerjanya.
Persaingan sehat seharusnya mampu membangun persahabatan. Karena diawali dengan jiwa sportif dan jujur maka tidak ada alasan, persaingan sesama tim dalam satu divisi akan menimbulkan pertentangan antartim. Justru malah sebaliknya yakni persaingan sehat untuk membangun hubungan semakin baik dalam satu tim maupun dengan tim lain. Ikatan ini akan menciptakan motivasi tim dalam mengembangkan persahabatan bahkan persaudaraan yang lebih besar lagi. Kalau ini terjadi maka yang diuntungkan tidak saja individu karyawan dan manajemen tetapi juga organisasi.
Selain itu persaingan sehat tidaklah harus menjadi urusan personal pemain. Artinya persaingan antartim seharusnya dipandang dari sudut untuk memperoleh kesenangan dalam ”bermain”. Setiap individu seharusnya tidak ada yang merasa bersalah lalu kecewa sampai bermuram durja setelah permainan selesai. Justru sebaliknya tiap individu dan kelompok melakukan penilaian diri tentang kekuatan dan kelemahannya. Pokoknya persaingan sehat seharusnya tidak mengenal kata ”beban” baik kalau menang maupun kalau kalah dalam persaingan.
Inti dari persaingan sehat sebenarnya pada upaya membangun perusahaan yang memiliki daya saing tinggi. Karena itu persaingan, dalam prakteknya, membantu individu tim untuk saling memperbaiki performanya. Jangan sampai ekstremnya, para pemain apalagi ketua timnya berselisih atau tidak bertegur sapa dengan tim lainnya. Kalau itu terjadi berarti ada yang kurang sehat di kalangan individu. Konon ”tidak siap” kalah namanya. Karena itu setiap tim seharusnya menempatkan persaingan sesuai dengan tempatnya secara proporsional. Persaingan harus dipandang sebagai saluran untuk ajang saling mengembangkan motivasi, kreasi, dan insiatif. Sekaligus sebagai tempat untuk membuktikan derajat kemampuan berkoordinasi dan derajat kinerja yang dapat dicapai individu dalam suatu tim. Tentunya persaingan sehat ini baru bisa terjadi kalau ada dukungan manajemen puncak dan para pimpinan di tingkat manajemen lainnya.













Pak,yang sering terjadi justru persaingan tidak sehat hanya karena ingin cari muka dari pimpinan.Bukannya persahabatan tetapi justru muncul konflik sesama tim.Apalagi kalau sang manajer terlalu berpihak pada tim tertentu.
Oleh: nuraini on Juli 30, 2008
at 12:02 am
Persaingan seharusnya mampu membangun kebersamaan dalam menciptakan performa puncak suatu organisasi. Untuk itu budaya kerja sangat layak menjadi perilaku keseharian dari setiap individu.Benar sekali peran manajemen puncak menjadi sangat strategis.
Oleh: rusli on Juli 30, 2008
at 12:07 am
saya rasa, disemua sektor pasti ada persaingan..jadi itu terngantung kita memposisikan sebagai kompetitor atau mitra, walaupun sebagai mitra pun pasti ada juga persaingan..yang pada akhirnya adalah untuk mencapai tujuan.
Oleh: ridobrown on Juli 30, 2008
at 9:14 am
ya nuraini…..fenomena yang anda gambarkan itu berarti belum meratanya pemahaman tentang budaya kerja yang ada di organisasi itu….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 30, 2008
at 10:53 am
ya bung rusli….saya sependapat seperti yang saya sampaikan pada nuraini….cuma pemahaman tentang budaya kerja butuh waktu yang tidak pendek…..dan setiap individu harus sudah siap dengan keinginan untuk mengubah perilaku kerja yang kurang baik….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 30, 2008
at 10:55 am
benar bung ridho…..sependapat…asalkan setiap persaingan perlu dimonitor intensif….agar tidak menyimpang menjadi konflik…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 30, 2008
at 10:57 am
Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan adalah kalau karyawan memandang bekerja itu cuma sebatas sesuatu yang rutin. Artinya tidak dipandang sebagai upaya pengembangan diri,tim, dan organisasi. Maka persaingan menuju kinerja maksimum sulit terujud.
Oleh: avita on Agustus 4, 2008
at 4:54 am
karena itu mbak avita…manajer seharusnya membangun suasana belajar….yaitu suasana dimana setiap individu dalam bekerjanya berbasis pada pengetahuan yang berkembang….dan mengkondisikan suasana persaingan sehat….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 4, 2008
at 2:59 pm
saya rasa memang budaya kerja kita, masih banyak sebatas hadir ditempat kerja. Menurut saya supaya kita berkerja dan terjadi persaingan yang sehat : kita harus fokus dalam bekerja, kita harus jujur dalam bekerja dan kita harus mau belajar terus. Ini yang belum begitu ada pada kalangan pekerja kita.
Orang berpikir hanya ke tempat kerja, absen dan pulang sesuai jam kerjanya dan bepikir kapan akhir bulan kok lama yach……… capek dech kalau begini kapan majunya kita ini.
Oleh: Marianus KD on Agustus 8, 2008
at 6:13 am
sependapat bung marianus….karyawan cenderung hanya berbudaya kerja rutin….tak berorientasi pembaharuan atau pembangunan….cukup puas dengan yang ada….namun jangan salahkan mereka kalau pihak manajemen itu sendiri tidak menstimuli perlunya proses pembelajaran…..proses yang berorientasi pada rasa ingin tahu dan tak cepat puas seharusnya dikembangkan….tapi tentunya dengan kompensasi yang mampu memotivasi karyawan untuk maju….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 8, 2008
at 2:44 pm